Kisah Arham Hamid, Bangkit di Tengah “Badai”, Bermodal Inovasi dan Kreasi – Kendari Pos
Nasional

Kisah Arham Hamid, Bangkit di Tengah “Badai”, Bermodal Inovasi dan Kreasi

KENDARIPOS.CO.ID — Pandemi Covid-19 datang menerjang awal tahun 2020. Tak ada persiapan menghadapi terjangan wabah yang datang tiba-tiba. Sektor usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) paling merasakan dampaknya, selain sektor pariwisata. Satu per satu mulai rontok, berjatuhan. Tapi itu tak berlaku bagi Arham Hamid, owner Nindifood asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Owner Nindifood, Arham Hamid menunjukkan produknya. Berkat inovasi dan kolaborasi
bersama pemerintah, usaha produksi makanan siap saji milik Arham berhasil bangkit dari gempuran pandemi. Kini, ia kembali rutin memasok produknya di sejumlah swalayan
yang ada di Sulawesi Tenggara.

Awal tahun 2017, brand Nindifood berkibar dan merambah pasar di Sultra. Salah satu produknya adalah abon ikan tuna khas Kendari yang diberi merek Abonindi. Sang pemilik, Arham Hamid terus melebarkan sayap usaha dan menginovasi produknya sehingga bisa bersaing dengan produk dari industri besar.

Mendung mulai menggelayut di rumah produksi Arham Hamid ketika “badai” bernama pandemi Covid-19 pada awal April 2020. Arham berkisah, dampak Covid-19 memengaruhi produksinya. Biasanya hanya sepekan Abonindi bertahan dietalase swayalan. Laku keras. Dan bergegas Arham menyuplai kembali. Namun, sejak pandemi datang, hampir sebulan tak ada permintaan dari pihak swalayan.

Bayang-bayang usaha Nindifood akan kandas sempat mampir dibenak Arham Hamid. Dan itu benar-benar terjadi. Akibat “hantaman” pandemi Covid-19, usaha Arham terpuruk dan berjalan tertatih. Tapi Arham bukanlah entreprenuer yang mudah menyerah. Meski tertatih, industri rumahannya di Jalan Diponegoro Nomor 90b Benu-Benua, Kendari Barat tetap berproduksi.

Arham segera bangkit dan bertekad melahirkan inovasi dan kreativitas produksinya.
Tidak mudah bagi Arham untuk melawan kondisi abnormal yang terbilang sangat baru di Sultra bahkan di dunia saat ini. Akan tetapi, ia telah membuktikan bahwa setiap masalah pasti memiliki solusi. Berkat ide-ide kreatifnya dan kolaborasi dengan pihak pemerintah, ia berhasil bangkit dari krisis. “Saya tidak mau pasrah, hanya menunggu bantuan. Saya yakin bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya,” ujar Arham Hamid kepada Kendari Pos, Jumat (6/11) kemarin.

Hingga suatu hari, tersiar kabar Wali Kota Kendari akan mengeluarkan instruksi agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar rumah selama tiga hari (10-12 April 2020) demi memutus rantai penyebaran Covid-19. Insting entrepreneur Arham bergolak dan ia melihat instruksi itu sebagai peluang bisnis. Ia meyakini masyarakat akan membutuhkan persediaan makanan selama masa pembatasan sosial. Dengan sisa waktu yang ada, ia memproduksi Abonindi dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya.

Seiring berjalannya waktu, terutama di masa pandemi ini, banyak produk baru yang diciptakan antara lain abon ayam, sambal teri, sambal tuna, burazzi tuna, burazzi ayam, dan kacang bumbu khas Kendari. Produk-produk tersebut dapat ditemui di hampir semua swalayan yang ada di Kota Kendari serta di 89 gerai Indomaret yang tersebar di Sulawesi Tenggara.

“Saya memasok abon dalam jumlah yang banyak ke sejumlah swalayan. Saya yakin orang-orang akan berbelanja untuk persediaan. Sebenarnya, yang saya harapkan dari ini adalah rebound sales dan kesempatan mendapat konsumen baru,” ujar dosen di Politecnic Indotec Kendari ini.

Insting entrepreneur Arham Hamid tak meleset. Produknya mulai dikenal bukan hanya oleh masyarakat umum melainkan juga beberapa yayasan. Di sepanjang bulan Mei hingga Juli 2020, ia aktif bekerja sama dengan pihak yayasan seperti Ikatan Zakat Indonesia (IZI), Wahdah Islamiyah (WI), dan Agista Foundation dalam program bagi sembako untuk masyarakat terdampak. Dengan kerja sama ini, Arham berkesempatan menjual produknya hingga ribuan kemasan.

Puncaknya, pada bulan Juli 2020, ia menerima orderan dari Kementerian Pariwisata dan Industri Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk program BaLaSa (Bahan Pokok Lauk Siap Saji). Melalui kolaborasi ini, Nindifood bersama Kemenparekraf melalui Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), membagikan 2.000 kemasan produk siap saji kepada masyarakat di berbagai daerah di Sultra.

Kabar baiknya, program BaLaSa yang terselenggara di Sultra tercatat sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia. Yang tidak kalah penting adalah bahwa program BaLaSa ini telah menghidupi karyawan yang dipekerjakan Nindifood dan membantu perputaran ekonomi para pedagang yang menyuplai bahan baku untuk produk yang dihasilkan.

Kreativitas dan inovasi menjadi kunci keberhasilan Arham Hamid mempertahankan bisnisnya. Selain menciptakan produk-produk baru yang dibutuhkan masyarakat, ia juga menghadirkan Omnichannel untuk meningkatkan kenyamanan dan kemudahan berbelanja para pelanggan. Produk Nindifood kini dapat dibeli secara online melalui website www.nindifood.com dan chat Whatsapp.

Menurut Arham, masalah dan peluang bagaikan dua sisi mata uang. Masalah selalu hadir berbarengan dengan kesempatan. Sayangnya, kata dia, jarang ada yang berani memanfaatkan kesempatan tersebut. Arham masih terus melakukan inovasi pada produknya.

Bagi Arham, tidak ada kata berhenti dalam berinovasi dan berkreasi. Saat ini, ia berupaya menciptakan pasar sendiri dengan membuat produknya tampil beda. “Dalam berbisnis, saya menganut prinsip 3M. Mau, mulai, dan mampu. Kita harus mau mengembangkan diri, mencari pengalaman, dan berani mengambil resiko,” tuturnya.

Arham mengaku bersyukur atas perhatian pemerintah terhadap pelaku UMKM di masa pandemi. Selain mendapatkan peluang menjual produk lewat program BaLaSa, ia juga menerima Bantuan Presiden Produktif Usaha Mikro (BPUM) senilai Rp 2,4 juta. Kemudian, ia tercatat sebagai peserta Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI). Melalui program WUBI, Arham mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan kapasitasnya sebagai wirausahawan.

Ia berharap, pemerintah selalu hadir bagi para pelaku UMKM terlebih di saat seperti ini. Program-program yang diadakan diharapkan bisa tepat sasaran dan menghasilkan perubahan yang positif. “Selama pandemi ini pemerintah betul-betul membantu. Saya sendiri dapat Banpres, ikut program WUBI, BaLaSa, dan pelatihan-pelatihan dari Dinas Koperasi dan UMKM Sultra. Semua ini turut membantu usaha saya bangkit kembali,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Sultra, Herawati Muchlisi mengatakan untuk meringankan beban UMKM, salah satu upaya yang dilakukan Disparekraf Sultra adalah berkoordinasi dengan Kemenparekraf melalui program BaLaSa.

“Pada waktu itu, kami titip pesan kepada Kemenparekraf agar bantuan BaLaSa diambil dari produk lokal. Ini sebagai bentuk keberpihakan pemerintah kepada UMKM,” ujar Herawati saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Dari proses survei UMKM untuk melihat standarisasi produk dan kapasitas produksi, maka diputuskan program tersebut diberikan kepada Nindifood. Dalam pelaksanaannya, kata Herawati, Nindifood melibatkan rekan-rekan UMKM lainnya untuk memenuhi pesanan agar dapat diselesaikan tepat waktu.

BaLaSa sendiri disalurkan dalam dua tahap di mana tahap pertama sebanyak 2.000 paket dan tahap kedua 1.500 paket. Ia menyebut, program BaLaSa juga terlaksana dengan baik berkat dukungan pemerintah daerah.

“Gubernur memberikan perhatian dalam penyaluran BaLaSa. Sultra tercatat sebagai daerah yang penyalurannya terbaik di Indonesia. Ini juga karena kolaborasi yang baik antara Disparekraf di tingkat kabupaten/kota, Tim Gugus Tugas Covid-19, dan Kepolisian pada saat distribusi ke lapangan,” ungkap Herawati.

Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sultra, Surya Alamsyah menjelaskan, program WUBI diinisiasi BI untuk mendorong tumbuhnya UMKM yang bisa naik kelas. Untuk menaikkan kelas UMKM, BI mengajarkan tentang disiplin, pentingnya kerjasama antartim, pentingnya perencanaan, ketekunan usaha, dan melahirkan inovasi.

Seleksi untuk menjadi WUBI melewati beberapa tahapan hingga akhirnya peserta WUBI yang lolos dituntut memiliki mental yang kuat, daya nalar inovasi yang baik, dan menjadi coach untuk kegiatan-kegiatan WUBI selanjutnya. “Peserta WUBI yang lolos kami berikan sesi pendampingan untuk pengembangan usaha,” tutur Surya, kemarin.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Usaha Kecil Dinas Koperasi dan UMKM Sultra, Arif Mohammad Ta’lam mengatakan UMKM di Sultra cukup tangguh. Gubernur Sultra pun telah menyalurkan program bantuan di antaranya bantuan sembako kepada 8.782 UMKM, stimulus permodalan senilai Rp 2 juta untuk setiap Industri Kecil dan Menengah (IKM), dan bantuan modal Rp 2 juta kepada UMKM yang saat ini masih dalam proses verifikasi.

Untuk koperasi, sedang dilakukan verifikasi faktual di lapangan terhadap calon penerima yang besarannya Rp 10 juta per koperasi. “UMKM kita cukup tangguh dan menjadi salah satu sektor yang menopang perekonomian Sultra saat ini. Namun, karena kondisi ekonomi yang belum terlalu menggeliat menyebabkan daya beli masyarakat masih lemah. Pemerintah akan terus melakukan upaya-upaya mitigasi agar UMKM tetap survive dari pandemi Covid-19,” ujar Arif saat ditemui, awal pekan ini. (uli)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy