Kekalahan Trump Sampai di Sultra, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Kekalahan Trump Sampai di Sultra, Oleh : La Ode Diada Nebansi


KENDARIPOS.CO.ID — Rakyat tak tahu apa yang disebut incumbent. Yang mereka tahu, Kepala Daerah kembali mencalonkan diri ke periode kedua. Rakyat tak tahu kekalahan incumbent. Yang mereka tahu adalah, penyebab kekalahan. Dan, mereka pun paham, sebab kemenangan incumbent.

Sederhana kesimpulan di pihak rakyat. Kalau kepala daerah bertindak baik, maka tunggulah di periode kedua: kamu pasti menang. Menang karena dipihaki rakyat.

La Ode Diada Nebansi

Kesimpulan rakyat tentang kebagusan kepemimpinan seorang kepala daerah tidak dilihat dari sertifikat wajar tanpa pengecualian (WTP). Bagi rakyat, lebih penting mengamati perjalanan bintang untuk menentukan musim tanam ketimbang WTP.

Di mata rakyat, kebagusan kepemimpinan tatkala hambatan dalam mendongkrak geliat ekonomi mereka teratasi. Persoalan sosial mereka teratasi oleh karena kebijakan kepala daerah apakah itu dari sisi anggaran maupun kebijakan pemerintahan dan pembangunan.

Kalau mau berbicara lebih dasar lagi, sesungguhnya, kepala daerah yang tampil penuh kelembutan dan senyuman pun, tanpa gelontoran anggaran (APBD/APBN) sekalipun, rakyat sudah cukup bahagia. Kepemimpinanmu pasti disuka.

Sederhana pandangan rakyat. Lihatlah ketika ditanya soal kekalahan Donald Trump. “Kalau dia calon di sini, saya sendiri tidak mau pilih. Cocomi dia kalah. Dia diam saja, kita lia sudah emosi,” begitu salah satu komentar kaum pinggiran.

Artinya bahwa, rakyat punya bahan penilaian terhadap pemimpinnya. Dari air muka, kalau mukamu selalu terlihat polos tapi berakal, janganmi harap komo menang. Dari gerakan, kalau gerakanmu terkesan angkuh dan sombong, jangan harap dipilih.

Jangankan itu, pembagian BLT yang tak merata saja, semua pemimpin pemerintahan yang lahir dari pemilihan, “kena batunya”. Kepala RT dijengkel. Kepala Desa/Lurah dicemooh. Bupati dianggap kolusi dan nepotisme. Gubernur disoroti. Kecuali Presiden yang lolos dari sorotan tentang BLT.

La Kepe, pemulung yang bermukim di pinggiran BTN Graha Mandiri Kendari, bilang begini, ” Dia sudah lupa saya Jokowi. Zaman SBY saya dapat BLT, dia naik Jokowi namaku langsung dihapus di daftar BLT.”

Sederhana pandangan rakyat dalam menilai pemimpinnya. Dan, beberapa kepala daerah sesungguhnya telah membuktikan itu. Ada kepala daerah yang memenangkan pemilihan dengan mengalahkan incumbent. Ada kepala daerah yang hampir dikalahkan penantang baru.

Dari sini, siapapun yang bercita-cita menjadi kepala daerah atau kepala daerah yang saat ini lagi bertarung, bukankah sudah memetik pengalaman dari dua kasus tadi? Sudah. Saya pastikan itu. Persoalannya, apakah eling dengan pengalaman itu, mengingat kejadiannya pada empat, lima tahun lalu.

Pengalaman lain. Saya pernah berdiskusi dengan beberapa Bupati soal pengalaman mereka dalam pemilihan. Bupati Bombana, Tafdil, misalnya. Terutama soal pemungutan suara ulang (PSU). Kesimpulan ceritanya begini: luar biasa tantangannya. Tapi, kalau rakyat sudah direbut hatinya, direbut dengan pembangunan, direbut dengan tampilan pemerintahan, direbut dengan peningkatan ekonominya, maka apapun dan siapapun yang pengaruhi, rakyat tak goyah.

Saya juga pernah diskusi dengan Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa (KSK). Di sini, ceritanya unik. Periode kedua tak lagi ikut kampanye. Dan, suara yang diraup hampir 50 persen. Ngapain kampanye? Setiap hari rakyat dikunjungi, ditanya masalahnya, diberikan solusi. Ditanya aspirasinya dan dijawab dalam APBD. Keliling di seluruh wilayah kekuasaan, disamping mendekatkan diri dengan rakyat, sembari melihat apa yang harus dilakukan seorang pemimpin demi kesejahteraan rakyat secara totalitas dan kemajuan daerah secara menyeluruh.

“Orang lain membangun hanya dengan menggunakan uang APBD, uang APBN, tapi saya membangun dengan duit investasi dan potensi lokal. Investasi di Morosi dengan total dana 68 Triliun Rupiah adalah bukti. Itu bukan uang kita. Itu uang yang kita datangkan dari negara lain. Uang dari potensi lokal juga begitu. Konawe jadi lumbung pangan. Produksi padi kita, surplus. Kalau begini yang kita pertontonkan ke masyarakat, apakah saya masih perlu kampanye”? Begitu diskusi saya. Dan, KSK enteng melenggang ke periode kedua.

Saya pun pernah berdiskusi dengan Bupati Kolaka, Sjafei. Bekal sebagai mantan Sekda Kolaka benar-benar diolahnya. Topografi Kolaka sudah dikuasainya. Pluralisme warga dan kegiatannya sudah dibukukan. Potensi wilayah sudah dipetakan. Begitu start mencalonkan diri sebagai bupati, tinggal dipoles-poles.

Periode pertama, antara kata dan perbuatan satu padu. Periode kedua, enteng sekali merebut kemenangan. Kenapa? Lihatlah Kolaka saat ini. Siapapun yang berkunjung di Kolaka setelah kunjungan sebelumnya, pasti pangling. Pangling karena Kolaka
sudah sedemikian majunya.

Diskusi dengan mantan kepala daerah memang belum. Diskusinya hanya dengan mantan-mantan tim sukses. Rata-rata dari mereka memberi pengakuan bahwa hal yang paling sulit dijawab ketika rakyat menanyakan soal penempatan pejabat. Soal mutasi jabatan. Soal kebangkrutan para kontraktor daerah itu. Soal sikap kontraktor lokal yang dulu pegang dua HP dan rokok, lalu tampil dengan celana pendek pakai topi bermerk, sekarang, terlihat ngkima-ngkima.

Rakyat beranggapan, pekerjaan proyek pemerintah dikuasai kontraktor pemodal di awal
Pilkada. Problematika ini, melahirkan kesan negatif di mata rakyat terhadap kepala daerahnya.

Dan, ketika kepala daerah dimaksud ingin mencalonkan diri ke periode kedua, hambatannya seabrek. Dalam pada itu, kebijakan anggaran pun dikoreksi dan diprotes karena APBD dianggap tak pro rakyat. Benar, rakyat tak mungkin berinteraksi langsung soal proyek, soal mutasi jabatan, soal APBD, tapi, mereka-mereka yang berada di garis midle-lah yang melakukan propaganda kepada masyarakat bawah. Bahkan, kesimpulannya pun tak jarang dirumuskan dibawah pohon konau.

Nnnaih. Sederhana tapi jitu. Karena itu, jika anda sebagai kepala daerah dan kini kembali mencalonkan diri, sesungguhnya, kemenangan dan kekalahanmu sudah bisa diraba. Kalau ke-Bupati-an yang kemarin melahirkan rasa saya rakyat, maka menanglah kamu. Sebaliknya, jika model pemerintahanmu melahirkan momok di masyarakat, yakinlah, kekalahanmu sudah diambang.

Soal kekalahan Trump? Ya, itu tadi. Dilihat saja sudah memberi kesimpulan. Seperti apa? Ya, nilai sendiri.(nebansi@yahoo.com)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy