Jaminan Mutu Pendidikan di Era Pandemik, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Jaminan Mutu Pendidikan di Era Pandemik, Oleh : Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Pandemi Covid-19 berdampak pada dunia pendidikan. Kegiatan belajar mengajar mengalami perubahan. Sistem tatap muka di sekolah diganti dengan sistem daring (online) atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Mutu pendidikan harus tetap terjaga sehingga peran guru sangat vital dalam mencapai target pembelajaran.

Prof. Hanna

Guru menjadi garda terdepan dalam menjaga kualitas mutu pendidikan. Namun dibalik itu, kita tidak bisa berharap sepenuhnya pada guru. Guru hanya manusia biasa yang tentu saja memiliki keterbatasan. Professor John Hattie dari University of Auckland dalam penelitiannya menyebut faktor yang berpengaruh dalam efek pembelajaran adalah siswa sebanyak 40 persen, teman 7 persen, orang tua 7 persen, sekolah 7 persen dan guru hanya 30 persen. Penelitian itu menggunakan meta-analysis untuk mengestimasi efek terhadap pencapaian siswa dari beberapa faktor. Dari hasil penelitian di atas menyebutkan faktor pembelajaran berada pada siswa.

Di era pandemik Covid-19 ini, menjaga kualitas pendidikan begitu penting. Mau tidak mau, tenaga pendidikan dipaksa secara regulasi untuk memastikan proses pendidikan tetap berjalan dengan melaksanakan sistem pembelajaran daring. Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan menggunakan internet dan dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun tanpa terikat waktu dan tanpa harus bertatap muka.

Di era perkembangan teknologi pembelajaran daring semakin canggih dengan berbagai aplikasi dan fitur yang semakin memudahkan pengguna. Tidak terikat waktu dan dilakukan tanpa bertatap muka menjadi keunggulan pembelajaran daring. Pembelajaran daring menjadi satu-satunya pilihan bentuk pembelajaran yang dapat dilakukan oleh pendidik ketika terjadi bencana alam atau pandemi global.
Indonesia menerapkan social distancing di segala aspek kehidupan termasuk dunia pendidikan. Oleh karena itu, pembelajaran daring dapat dikatakan menjadi satu-satunya pilihan pembelajaran yang dapat dilakukan oleh pendidik untuk meningkatkan mutu pembelajaran di Indonesia meski diliputi pro dan kontra.

Pertanyaannya adalah dengan sistem belajar daring dalam kondisi pandemi Covid-19 ini, mampukah guru mentrasfer ilmunya agar siswa mampu memahami penjelasan guru dengan 30 persen itu? Keraguan itu bisa muncul melihat kondisi yang menjadi kambing hitam adalah jaringan yang tidak stabil. Selain itu, umumnya siswa saat virtual berlangsung tidak konsentrasi terhadap pembelajaran. Bahkan ada yang hanya masuk (aplikasi) lalu menutup kamera, dan masih banyak lagi yang terjadi dalam virtual itu. Jika kita merujuk pada hasil penelitian John Hattie di atas, tidak bisa kita banyak berharap karena beberapa komponen yang memungkikan siswa mencapai ilmu pengetahuan sudah tidak terjadi.

Pertanyaan selanjutnya, mampukah kita mempertahankan mutu pendidikan?. Berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan mutu pendidikan adalah kualitas atau ukuran baik atau buruk proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui upaya bimbingan pengajaran dan pelatihan.

Mutu mengandung makna derajat (tingkat) keunggulan suatu produk (hasil kerja/upaya) baik berupa barang maupun jasa; baik yang tangible maupun yang intangible. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu, dalam hal ini mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam “proses pendidikan” yang bermutu terlibat berbagai input, seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi dan sarana prasarana dan sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif.

Suatu lembaga pendidikan dikatakan bermutu, diantaranya jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a) peserta didik menunjukkan kadar penguasaan yang tinggi terhadap tugas-tugas belajar (learning tasks) seperti yang telah dirumuskan dalam tujuan dan sasaran pendidikan diantaranya hasil belajar akademik yang dinyatakan dalam prestasi belajar; b) hasil pendidikan peserta didik sesuai dengan tuntutan kebutuhan peserta didik dalam kehidupannya, sehingga selain mengetahui tentang sesuatu juga mampu melakukan sesuatusecara fungsional bagi kehidupan; c) hasil pendidikan peserta didik sesuai dengan kebutuhan lingkungan khususnya dengan dunia kerja.

Karena itu relevansi menjadi salah satu indikator mutu. Kualitas sekolah dapat diidentifikasi dari banyaknya siswa yang memiliki prestasi, baik prestasi akademik maupun prestasi bidang lain, serta lulusannya relevan dengan tujuan. Melalui siswa yang berprestasi dapat ditelusuri manajemen sekolahnya, profil gurunya, sumber belajar dan lingkungannya.

Dalam mewujudkan pembelajaran yang berkualitas di Sulawesi Tenggara, tentu saja pemerintah sependapat dengan masyarakat agar sekolah secepatnya dibuka dan siswa -siswa akan kembali ke sekolah, namun pemerintah memiliki pertimbangan matang dari aspek pencegahan dan menjaga penularan itu. Jika ini bisa terjaga dengan baik, maka tentu saja pemerintah akan mengizinkan. (*)

Mampukah Guru Mentrasfer Ilmunya ?

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy