Hukuman dan Penyembuhan, Oleh : Muhammad Radhi Mafazi – Kendari Pos
Opini

Hukuman dan Penyembuhan, Oleh : Muhammad Radhi Mafazi

KENDARIPOS.CO.ID — Perkembangan peradaban manusia diawali dengan perubahan pola pikir yang mengarah pada kesadaran terhadap sesuatu yang dahulu dianggap remeh bahkan tabu. Keterbukaan informasi di era distrupsi seperti sekarang ini, membuat manusia menyatu dengan kecerdasan artifisial yang ada disekitarnya, menurut Piker (Manson, 2020), hal tersebut sebagai bentuk revolusi ilmu pengetahuan. Seperti halnya dahulu kita melihat sebuah kejahatan sebagai bentuk tindak pidana yang merugikan oranglain. Bahkan ketika para pelaku kejahatan ini dihukum kebanyakan dari masyarakat sering terbawa arus untuk melakukan hukuman atas dasar pembalasan dendam.

Muhammad Radhi Mafazi, M.Psi, Pembimbing Kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan Kelas II Baubau

Peristiwa konferensi anti penyiksaan dan kekerasan, merubah konstruksi berpikir dunia terkhusus sistem penghukuman menjadi salah satu cara untuk menyembuhkan para pelaku tindak pidana bukan lagi pembalasan dendam. Karena pada dasarnya pelaku tindak pidana manusia digerakan perilakunya untuk mencari sesuatu yang menyenangkan dan menghindari rasa sakit.

Hal ini terbukti dari banyaknya latarbelakang terjadinya tindak pidana yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan sementara, atau bahkan kebutuhan untuk kesenangan semata. Prinsip ini disebut sebagai ultirianisme. Sebuah gagasan dari filsafat moral yang dikemukakan pertama kali oleh Jeremy Bentham dan John Stuart (Keadilan Rawls, 2018) prinsip ini menganggap bahwa tindakan yang secara moral benar adalah tindakan yang menghasilkan kebahagiaan terbesar bagi lebih banyak orang. Muaranya pada kesenengan dan kepuasan semata untuk menghindari penderitaan.

Beberapa alasan individu melakukan tindakan kriminal kebanyakan untuk menggapai kesenangan semata. Melihat kembali kebelakang bahwa sejarah mencatat manusia yang dapat bangkit dari rasa sakit dan menghadapi penderitaanya akan menjadi manusia baru bahkan menciptakan perubahan besar pada dunia. Individu yang terlalu sering menghindari penderitaan dan berfokus pada pencarian kesenangan semata, cepat atau lambat akan menempuh jalan sesatnya secara sadar atau tidak, hingga mereka yang mengalami ketersesatan jalan kemudian berhenti sejenak selanjutnya merenungi makna kehidupannya.

Kurungan Perenungan

Kesadaran masyarakat untuk tidak memberikan stigma negatif terhadap manusia yang dianggap secara sah bersalah dimata hukum masih sangat kurang, padahal pada dasarnya setiap individu memiliki kemungkinan tergelincir dalam jurang gelap tersebut, menurut Robert Frank (2018) dalam buku Keadilan untuk Pertumbuhan bahwa keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam hidup lebih banyak disebabkan oleh keberuntungan. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tanpa sengaja terbentuk dari lingkungan.

Serta mencontoh lingkungan sedari kecil sehingga memupuk keinginannya berbuat tindak kriminal yang didorong oleh kebutuhan dirinya, atau beberapa orang memiliki pandangan yang bersebrangan tanpa sadar menyakiti oranglain. Motivasi dalam melakukan tindak kriminal sangatlah bermacam-macam, tetapi menarik apabila kita mengambil suatu hikmah perjuangan mereka dalam menemukan dirinya yang baru dalam masa hukuman kurungan. Menurut data dari smslap.ditjenpas.go.id ada sebanyak 60,983 klien pemasyarakatan dewasa di seluruh Indonesia yang sedang menjalani program bimbingan serta pengawasan Balai Pemasyarakatan.

Banyak sekali tokoh-tokoh dunia yang dahulu mendapatkan kurungan dan memanfaatkannya untuk proses perenungan seperti halnya Buya Hamka seorang ulama ternama yang merampungkan karya besarnya berjudul tafsir Al-Azhar di dalam penjara, dan Viktor E.Frankl seorang psikiater yang hidup di era Nazi, menghabiskan masa mudanya di dalam kamp konsentrasi Nazi sebagai tawanan, dalam perenungannya ia menemukan sebuah pandangan baru di dunia kesehatan mental yang ia berinama logoterapi, sebuah terapi untuk menemukan makna kehidupan manusia.

Pembatasan hak untuk berinteraksi dari dunia luar merupakan hal yang sangat menyakitkan, tidak dipungkiri penderitaan semacam ini mau tidak mau juga kita rasakan diawal pandemi, bahkan beberapa masih ada yang merasakan pada saat ini. Rasa bosan dan kerinduan terhadap rutinitas seperti sediakala adalah alasan utamanya. Begitu pula yang dirasakan oleh beberapa klien pemasyarakatan, belum lagi ditambah dengan post traumatic yang ia alami pasca dipenjara.

Terinspirasi dari salah satu klien pemasyarakatan yang begitu kuat mencari makna kehidupan, setelah sebuah peristiwa besar merubah sejarah hidupnya, hingga ia berkomitmen untuk merubah segala sikap serta perilakunya dengan segala bentuk tanggung jawab terhadap hidupnya, menurutnya ini merupakan sebuah “teguran” bahwasanya dirinya terlampau jauh menjalani hidup di luar jalan yang telah ditentukan oleh takdirnya sebagai manusia, inilah kesembuhan jiwa yang diinginkan dari hukuman.

Hukuman dan Penyembuhan

Hidup Benar, Berfikir Benar, suatu dasar hukum penyembuhan mental yang dikemukakan Atkinson (2020) pada bukunya yang berjudul The Science of Psychic Healing. Hukum yang menyebutkan bahwa seorang individu akan mendapatkan hidup yang benar apabila kontruksi berfikirnya juga benar. Sebuah cara untuk menyembuhkan psikis dari berbagai luka, terlebih bagi narapidana yang mendapatkan hukuman karena ketidaktahuannya, hanya ikut-ikutan dan merasa keadilan tidak berpihak kepadanya.

Seorang klien pemasyaratakan sebut saja MS, menjadi sumber inspirasi pada tulisan ini, melakukan perubahan sedemikian rupa pada perilaku dan sikapnya setelah menjalani beberapa bulan hukuman kurungan. Ia menggunakan waktunya untuk merenungi segala kesalahannya dan secara sadar atau tidak sedang melakukan penyembuhan jiwa, hingga ia menemukan makna dibalik kejadian yang menimpanya. Pertanyaan yang diajukan kepadanya sederhana “hikmahnya dari peristiwa ini?”, ia menjabarkan begitu panjang proses yang ia lalui hingga mendapatkan arti terhadap jalan ketersesatannya. Tidak banyak manusia yang bisa menemukan makna dari kehidupannya.

Tidak mudah mencari makna dibalik peristiwa yang menimpa, bahkan sebagian dari mereka seolah acuh terhadap kondisinya sendiri yang baru saja mengalami suatu kejadian penting dan berat atau malah mencari jalan instan untuk mengelabui aturan. Hasil penelitian dari Ovaert,dkk pada tahun 2003 terhadap narapidana remaja laki-laki tentang Gangguan Stres Pascatrauma dipenjara (Kitaef, 2017), 65% narapidana tersebut menunjukkan gejala PTSD Pasca dipenjara (Post Traumatic Stress Disorder). Menurut Frankl (2017) pada bukunya Mans’s Search For Meaning menjelaskan bahwa perjuangan manusia dalam menemukan makna hidupnya menjadi faktor utama dan tidak sama sekali berdasar untuk mencari kesenangan atau kenikmatan.

Hambatan dalam mencari makna hidup juga terjadi karena berubahnya keinginan untuk mencari kesenangan dalam istilah logoterapi disebut kehampaan eksistensial (Frankl, 2017). Hal ini sangat mungkin terjadi apabila narapidana yang sedang dalam masa pembinaan hanya memikirkan kesenangan setelah bebas nanti, sehingga ia tidak fokus pada proses pembinaan bahkan pada perenungan terhadap makna hidup dari peristiwa yang ia alami. Padahal momentum penderitaan dengan penuh perenungan merupakan salah satu jalan menemukan makna hidup.

Keuntungan bagi mereka yang mendapatkan pemahaman dari makna hidup menurut Frankl, ia akan bertanggung jawab terhadap kehidupannya dan hidupnya akan selalu mengalami eksistensi, karena pada dasarnya setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus yang tidak dimiliki manusia lainnya. Hidupnya jelas dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh oranglain.

Bagi mereka yang baru pertama kali mengalami program pembinaan, lalu mengikuti segala bentuk pembinaan dengan baik dan memempunyai tujuan yang benar untuk kehidupan setelah pembinaan, pasti mempunyai pola yang “menyejukkan” di tengah masyarakat, serta bertanggung jawab atas tugasnya, fisiknya terkurung tetapi jiwanya bebas mencari makna hidup. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy