Hari Pahlawan, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Hari Pahlawan, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Pahlawan itu selalu ada. Pada segala aspek dan zaman. Yakni pada saat tingkah lakunya untuk memberi keselamatan dan kelanjutan baik diri sendiri dan orang lain. Tengoklah perjuangan Sultan Himayatuddin (La Karambau). Ia merupakan satu-satunya Sultan Buton yang konsisten melakukan perlawanan terhadap kekuasaan kompeni Belanda hingga akhir hayatnya selama 24 tahun (1752-1776). Dia bergerilya lama di hutan selama masa perjuangannya dan akhirnya meninggal di puncak Gunung Siontapina, sehingga dikenal dengan sebutan sebagai Oputa Yi Koo.

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib

Kita perlu mengenangnya. Biasanya, kenangan bersama selalu memiliki arti. Kenangan sebagai sosok pahlawan. Kenangan sebagai suatu bangsa, yang memiliki hubungan setia kawan. Melalui rasa persaudaraan inilah, rela untuk melakukan apa saja. Mengenang jasa pahlawan, ada monumen yakni di Taman Makam Pahlawan. Saat menuju ke bandara Halu Oleo, kita melewati Taman Makam Pahlawan Watubangga.

Tengoklah sejenak ke dalam. Ada bangunan tugu, pucuk. Maknanya, api perjuangan pahlawan tetap berdiri. Tidak dikekang oleh waktu dan zaman. Berarti gelora pahlawan tetap perkasa, menjulang. Jadi, bangunan itu, bukan wadah melainkan ruang untuk melakukan perenungan. Meski pada situasi yang berubah.

Di tempat itu, dikuburkan sosok pahlawan. Setiap 10 November, ziarah ke TMP, mengheningkan cipta sebagai rasa khikmat akan pengorbanan yang dilakukan oleh pahlawan. Mereka adalah orang yang berjasa untuk membebaskan dari belenggu kolonialisme. Atau gugur dalam pertempuran, sehingga meninggalkan tulang berserakan usai perang. Ada banyak kisah heroik.

Meski demikian, tidak selamanya pahlawan adalah dengan mengenang sosok yang dimakamkan di TMP. Jika ada sosok yang sudah memberi teladan pengorbanan diri dalam momen-momen kehidupan. Lalu, ada ungkapan pengakuan orang lain, itu juga bisa disebut pahlawan.

Pahlawan masa depan adalah sosok yang mampu menggerakkan nilai-nilai Pancasila. Jangan mulai yang besar. Mulai yang kecil saja dulu, ‘sepele’. Sikap antre, menjaga kebersihan WC umum, tertib mengendarai motor. Atau tidak merokok di tempat umum. Hal yang mudah dilakukan tetapi dirasakan oleh masyarakat luas. Kalau sudah berhasil yang ‘sepele’, maka bersemangat untuk merubah yang besar. Mulai dari mencegah korupsi, mengatasi konflik, dll.

Menjadi pahlawan, ketika mampu merubah pola pikir dan perilaku. Bukan apa-apa. Saat ini, ada terjadi pergeseran. Nilai kejujuran berubah menjadi kebohongan. Sikap kemandirian berubah menjadi sikap ketergantungan. Sikap kerja keras dan disiplin menjadi malas. Saling menghormati berubah menjadi saling curiga.

Padahal, kita punya sistem nilai Pancasila yang sangat agung. Perlu terus untuk mempromosikan, menanamkan, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila tersebut. Saatnya, pada momen hari pahlawan yakni merupakan momentum untuk melakukan refleksi untuk pengorbanan, keteladanan, dan keteguhan untuk menggapai harapan bagi masa depan Indonesia. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy