Empat Subsektor Dorong Kenaikan Nilai Tukar Petani di Sultra

Petani di Kabupaten Kolaka Timur saat memanen jagung, beberapa waktu lalu.


KENDARIPOS.CO.ID — Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Agustus 2020 mengalami kenaikan sebesar 0,85 persen dibanding bulan Juli 2020 yaitu dari 94,69 menjadi 95,50. Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat, kenaikan ini disebabkan empat dari lima subsektor yang membangun NTP mengalami kenaikan.

“Yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,86 persen, hortikultura sebesar 1,25 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,47 persen, dan perikanan sebesar 0,54 persen. Sementara, subsektor peternakan mengalami penurunan sebesar 1,11 persen,” ungkap Kepala BPS Sultra, Agnes Widiastuti, kemarin.

Dilihat dari Indeks Harga yang Diterima Petani (It) di Sultra pada Agustus 2020, kata dia, empat dari lima subsektor mengalami kenaikan yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,34 persen, hortikultura sebesar 0,54 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,95 persen, dan perikanan sebesar 0,31 persen. Sedangkan subsektor yang mengalami penurunan yaitu tanaman peternakan sebesar 1,60 persen.

Sultra tercatat mengalami penurunan sebesar 0,49 persen dibandingkan Juli 2020, yaitu dari 105,29 menjadi 104,78. Jika dilihat untuk masing-masing subsektor, penurunan indeks terjadi pada semua subsektor yang mendukung nilai tukar petani yaitu tanaman pangan sebesar 0,51 persen, hortikultura 0,70 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,51 persen, peternakan 0,50 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,23 persen.

“Melalui indeks harga yang dibayar petani, dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian,” terangnya.

Ia menambahkan, NTP subsektor tanaman pangan (NTPP) Agustus 2020 juga mengalami kenaikan dibandingkan Juli 2020 sebesar 0,86 persen. Indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,34 persen atau lebih tinggi daripada penurunan pada indeks harga yang dibayar petani yang turun sebesar 0,51 persen. Hal ini disebabkan naiknya indeks harga subkelompok padi 0,77 persen pada harga komoditas gabah dan subkelompok palawija sebesar 0,90 persen akibat turunnya komoditas ketela rambat
sebesar 3,08 persen, ketela pohon sebesar 1,21 persen, dan jagung sebesar 0,61 persen.

“Turunnya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh indeks konsumsi rumah tangga turun sebesar 0,73 persen,” imbuh Agnes.

Sementara, kenaikan NTP subsektor hortikultura (NTPH) pada Agustus 2020 sebesar 1,25 persen disebabkan indeks harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani. Kenaikan indeks harga yang diterima petani disebabkan naiknya indeks harga
subkelompok buah-buahan sebesar 2,62 persen. Sedangkan subkelompok sayur-sayuran turun 2,09 persen. Turunnya indeks harga yang dibayar petani disebabkan oleh turunnya indeks konsumsi rumah tangga sebesar 0,73 persen dan indeks BPPBM sebesar 0,01 persen.

Subsektor yang NTP nya juga mengalami kenaikan pada Agustus yaitu tanaman perkebunan rakyat (NTPR) yakni sebesar 1,47 persen. Hal ini disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,95 persen lebih tinggi daripada penurunan indeks harga yang dibayar petani yang turun sebesar 0,51 persen. Naiknya indeks harga yang diterima petani disebabkan oleh kenaikan indeks subkelompok tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,95 persen akibat naiknya harga komoditas pinang 12,18 persen, kakao/coklat biji 6,58 persen, kelapa sawit 4,66 persen, lada/merica 2,15 persen, kelapa 1,22 persen dan nilam sebesar 0,87 persen.

“NTP peternakan turun sebesar 1,11 persen disebabkan indeks harga yang diterima petani dan yang dibayar masing-masing turun 1,60 persen dan 0,50 persen. Sedangkan NTP perikanan naik 0,54 persen disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 0,31 persen dan indeks harga yang dibayar petani turun sebesar 0,23 persen,” bebernya.

Lanjut dia, dari 34 provinsi yang dilaporkan, terjadi kenaikan NTP di 25 provinsi dan penurunan pada 9 provinsi lainnya pada Agustus 2020. Kenaikan NTP tertinggi tercatat di Provinsi Bangka Belitung sebesar 3,64 persen disusul Bengkulu sebesar 3,28 persen, dan Jambi sebesar 3,21 persen.

“Sedangkan provinsi yang mengalami penurunan NTP terbesar adalah Maluku sebesar 1,21 persen disusul DKI Jakarta 0,89 persen, dan Bali sebesar 0,62 persen,” tandasnya. (uli/b)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.