Efek Debat di Pilkada, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Efek Debat di Pilkada, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Dalam selang beberapa waktu terakhir ini, sejumlah daerah yang akan melaksanakan pilkada telah melaksanakan debat kandidat. Saya menyaksikan siaran ulang melalui Youtube beberapa daerah yang sudah melakukan debat kandidat, yakni di Kolaka Timur dan Konawe Kepulauan.

Prof. Dr. Eka Suaib

Runtutan acara debat dimulai dari pendahulaun oleh moderator. Kemudian disusul penyampaian visi, misi, dan program masing-masing pasangan calon. Ada sesi pendalaman visi, misi, dan program oleh moderator dari pertanyaan yang disusun oleh tim panelis. Lalu tanya jawab dan sanggahan antar-pasangan calon dan ditutup oleh moderator.

Tentu saja menyaksikan melalui live atau siaran tunda merupakan kesempatan yang langka dan sangat berharga bagi para pemilih di masing-masing daerah. Sebab, sebelum, debat sebagian besar pemilih hanya bisa membaca dan melihat penampilan kandidat melalui media on line dan media cetak. Bisa juga ketemu dalam pertemuan tatap muka, tapi dalam skala terbatas. Apalagi jumlahnya dibatasi karena pandemik covid-19.

Dengan siaran live, pemilih di daerah masing-masing akan melihat melalui layar televisi. Atau dari gadget, smartphone. Terlihat para kandidat menyampaikan pemikirannya, program, ekspresi dan kesiapannya menjawab pertanyaan dalam debat publik. Debat dipandu oleh moderator yang sudah serimng tampil di layar kaca TV nasional. Pertanyaan disusun oleh akademisi dari UHO, UMK, Unsultra, profesional.

Pasca reformasi, formula debat menjadi salah satu cara untuk menguji kemampuan kualitas kandidat. Di debat, melalui siaran TV terlihat kualitas penampilan tutur kata, mimik muka dan intonasi bicaranya. Bisa dilihat apakah sistematis, teratur, terstruktur, mudah dicerna dan sebagainya.

Juga akan terlihat bahasa tubuh ketika menjawab pertanyaan, memaparkan ide-idenya akan ikut menentukan kualitas calon pemimpin. Pada kandidat berupaya untuk menunjukkan kualitas terbaiknya. Apalagi dipandu oleh moderator yang profesional, bisa membuat lebih hidup sehingga enak untuk ditonton. Tak pelak. Maka melalui debat yang disiarkan melalui televisi dapat dijadikan salah satu cara untuk mempersuasi pemilih.

Fenomenanya didahului dari pilpres, kini juga di pilkada. Entah di pilkades, apakah fenomenanya juga akan sama. Itulah yang disebut dengan tele-politics. Yakni, kamera menyulap citra, seolah-olah menjadi empiris. Partai Politik rela untuk digantikan oleh telivisi untuk menyampaikan semua informasi politik. Jika hanya mengandalkan televisi sebagai instrumen utama, maka bisa jadi maka pilkada hanya pertarungan symbol, persepsi, dan citra jketimbang subtansi.Usai pilkada, partai politik harus berubah. Tata ulang, benahi, dan modernisasi secara internal. Kalau tidak, parpol akan kehilangan elan vital seba gai instrumen utama dalam demokrasi.

Mampukah debat publik mengangkat elektabilitas calon? Jawabannya, semakin besar pemirsa debat, semakin besar pula kemungkinan debat memiliki efek elektoral. Debat bisa saja memengaruhi pemilih yang tidak menonton secara langsung. Melalui teknik penguasaan opini tertentu, yakni para spin doctor, konsultan, pendengung (buzzer) di medsos mengesankan bahwa seolah-olah kandidat dukungannya yang menang dalam debat.

Tapi, efek debat juga tidak terjadi pada beberapa pilkada tertentu. Pada beberapa debat yang sebelumnya saya menjadi panelis, ada pasangan calon yang tampil ala kadarnya, tetapi tetap unggul di bilik suara. Bahkan ada satu daerah, salah satu calon kepala daerah tidak hadir di debat, malah unggul dan menjadi bupati di salah satu daerah di Sulawesi Tenggara.

Bagi pemilih loyal, debat tidak terlalu punya efek. Mereka akan cenderung menampilkan sisi-sisi positif calon yang didukung dan menekankan aspek negatif lawan. Sebaik apapun performa debat seorang calon, tak akan merubah preferensi pemilih.

Efek debat paling kuat pada swing voters. Ada 2 kategori swing voters.Pertama, pemilih yang sudah punya pilihan, tapi masih bisa pindah. Iman politiknya mudah goyah. Kedua, pemilih yang belum menentukan pilihan. Karena itu, para kandidat perlu menyadari arti penting debat. Apalagi di daerah yang pertarungannya amat ketat, maka efek debat sangat mungkin mengubah ritme permainan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy