Delapan Sekolah di Konawe Selenggarakan PBM Klasikal

Suasana proses belajar mengajar (PBM) di SDN 1 Lambuya.

KENDARIPOS.CO.ID — Secara umum, pembelajaran siswa di masa pandemi masih didominasi metode dalam jaringan (daring). Meski situasi penyebaran wabah Covid-19 mulai mereda, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Konawe masih berhati-hati sebelum mengaktifkan kembali proses belajar mengajar (PBM) tatap muka secara merata di semua wilayah. Meski demikian, saat ini tercatat ada beberapa sekolah se-Konawe telah menyelenggarakan PBM klasikal tersebut.

Kepala Dinas Dikbud Konawe, Suriyadi, mengatakan, delapan sekolah di Konawe saat ini sudah menggelar PBM tatap muka sejak sebulan yang lalu. Masing-masing, satu sekolah di kecamatan Lambuya, serta lima SD dan dua SMP di kecamatan Onembute. Suriyadi menyebut, dua kecamatan tersebut sudah masuk kategori zona hijau pandemi sehingga memenuhi syarat untuk menggelar PBM klasikal. Apalagi, sesuai instruksi tim gugus tugas percepatan penanganan (GTPP) Covid-19 Konawe, sekolah di wilayah zona hijau memang sudah boleh mengusulkan belajar tatap muka.

“Pihak sekolah juga wajib mematuhi prokes penanganan Covid-19, mulai dari memakai masker dan menyediakan wadah cuci tangan di sekolah. Harus ada nota kesepahaman (MoU) bersama pihak Komite Sekolah, Polsek, Koramil serta puskesmas setempat,” ujar mantan Sekretaris Dinas Dikbud Konawe itu, Rabu (11/11), ditemui diruang kerjanya.

Lanjut Suriyadi, delapan sekolah yang sudah menggelar PBM klasikal di Konawe sejak sebulan lalu, telah melewati tahap verifikasi lapangan oleh tim penilai yang ditugaskan Dikbud Konawe. Tim tersebut menelisik ihwal kelayakan sekolah yang berkeinginan menggelar PBM tatap muka. Adapun formulasi pembelajaran di sekolah, katanya, diserahkan ke sekolah masing-masing.

“Apakah mau sistem shift atau pengurangan jam belajar, itu terserah dari pihak sekolah,” tambah Suriyadi.

Ia menuturkan, saat ini usulan dari pihak sekolah yang ingin menggelar belajar tatap muka terus masuk di Dikbud Konawe. Hanya saja, argumen Suriyadi, Dikbud tidak bisa memaksakan keinginan sekolah jika beberapa syarat dimaksud belum terpenuhi.

“Tapi saya sudah ancang-ancang, pembelajaran klasikal baru bisa efektif pada Januari 2021,” tandasnya. (adi/b)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.