Catatan Pilpres Negeri Paman Sam, Oleh : Ilyas Alimuddin


KENDARIPOS.CO.ID — Perhitungan suara pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat telah rampung. Hasilnya, keunggulan memihak pada Joe Biden. Mengungguli pesaingnya dengan selisih yang tak begitu jauh. Selalu menarik dan penuh kejutan. Setidaknya dua kata ini sangat mewakili ajang konteks pilpres empat tahunan di Negeri Paman Sam. Kejutan. Donald Trump kalah dari pesaingnya. Petahana kalah dari penantangnya. Sesuatu yang jarang terjadi. Seperti pilpres sebelumnya yang juga penuh kejutan, dimana Trump yang tak diunggulkan sama sekali, ternyata mampu mengalahkan kandidat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton.

Ilyas Alimuddin, SE.,ME, Dosen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) FEB UHO

Negara yang ekonominya bagus, demokrasinya pun akan bagus. Setidaknya hal ini bisa diindera pada pilpres Amerika Serikat. Termasuk pilpres tahun ini. Dalam tahapan pemilu presiden AS, kita tidak akan menyaksikan ada petugas pemilu yang kerja rodi apalagi berujung maut. Tak ada kotak dan surat suara yang sangat primitif, di zaman teknologi saat ini. Tak ditemui secara massif intelektual yang melacurkan ilmunya demi segepok uang. Tak ada media yang tak proporsional menayangkan berita. Berita yang baik untuk yang didukung, yang buruk untuk lawan.

Tak ada buzzer yang kerjanya menyerang privasi lawan politik. Tak ada pemilih yang menjatuhkan pilihan politiknya karena sejumlah uang suap yang diberikan salah satu kandidat. Tak ditemui Pollster (pelaksana polling/ jajak pendapat) yang mempercantik tampilan statistik hasil polling, mengikut arahan dan kemauan sang penyokong dana. Aparat atau lembaga negara pun, tak ditemui mendukung salah satu kandidat. Petahana sekalipun tak dianak emaskan. Tak ada keistimewaan yang didapatkan Trump sebagai incumbent. Dan yang paling pasti penyelenggara pemilunya tidak ditemui salah input apalagi diam-diam mengumumkan hasil pemilu.

Dengan sistem politik semacam ini, kedua kandidat percaya dengan pelaksanaan pemilu. Para pendukung, tim sukses legowo menerima hasil pemilu. Setidaknya begitula realita pilpres di AS secara umum. Namun, tahun ini menjadi menarik karena justru incumbent yang merasa dicurangi. Sehingga terjadi beberapa kerusuhan menolak hasil pilpres.

Jika melihat kekalahan Trump kali ini, setidaknya ada beberapa hal yang menjadi penyebab. Selain karena terlalu percaya diri akan kembali memenangkan kontestasi. Hal ini wajar jika menilik pilpres-pilpres sebelumnya. Sangat jarang ditemui ada incumbent yang maju di periode kedua akan kalah. Belum lagi sikap Trump yang temperament. Ini sangat tidak disukai oleh pemilih. Lebih dari itu banyak janji politik Trump yang tak terbukti. Slogan Make Amerika Great Again pada pilpres sebelumnya, dan mengantarkannya memenangkan kontestasi, justru tidak mewujud ketika menjabat.

Rakyat AS saat itu menaruh harapan besar kepada Trump untuk mengembalikan kejayaan AS. Khususnya di bidang ekonomi. Bagaimana menguatkan hegemoni dan dominasi ekonomi di saat Negeri Tirai Bambu, Tiongkok semakin digdaya menjadi pesaing berat AS.
American First, janji Trump menjadikan AS nomor satu, kenyataannya masih jauh dari harapan. Salah satunya bisa dilihat dari defisit perdagangan AS hampir mencapai 577 miliar dollar tahun lalu, meningkat lebih dari 100 miliar dollar dari pemerintahan Barack Obama.

Janji Trump lainnya adalah membangun tembok perbatasan dengan Meksiko, sepanjang 595 kilometer. Selain itu akan mendeportasi imigran gelap. Janji ini tentu sangat memikat bagi pemilih kala itu. Di saat angka pengangguran di tanah air tinggi, yang salah satunya disebabkan oleh banyaknya imigran yang mengambil jatah kerja yang semestinya untuk penduduk lokal. Ternyata janji kampanye ini tidak terbukti. Tembok tidaklah dibangun dan imigran gelap tak diusir. Ini membuat pemilih kecewa dan tak lagi mau memilihnya kembali.

Belum lagi kebijakan yang diambil saat terjadinya pandemi Covid 19. Kebijakan yang plin-plan. Sama sekali tidak menunjukkan watak AS dalam penanganan bencana. Karenanya tak heran jika AS menjadi salah satu negara yang warganya banyak meninggal karena terinveksi covid 19.
Catatan negatif ini yang menggerus elektabiilitas Trump. Sementara diketahui bahwa pemilih AS adalah pemilih cerdas. Mereka rasional dalam menentukan pilihan politik. Karena itu ketika Trump tak mampu mewujudkan janji-janjinya maka sangat rasional pula jika tak memilihnya lagi. Kekalahan Trump adalah murni kesalahan sendiri. Tak wajar menyalahkan pihak lain. Karena itu semestinya legowo menerima kekalahannya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *