5 Oppo, 2 Oppu, Oleh : La Ode Diada Nebansi

La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Berdiskusilah saya dengan seorang Bupati. Juga, berdiskusilah saya dengan seorang Ketua Tim Sukses pemilihan kepala daerah. Dua dua jawabannya menggelengkan saya. Pertama, soal serangan fajar. Tahu ndak berapa yang tersalur? Mbuna, sopir penyalur di wilayah daratan menyahut: soportiga hae yang tersalur. La Diri, sopir penyalur di wilayah kepulauan juga menyahut: sepertiga yang terbagi belae.

Kedua, soal uang yang sampai di tangan pemilih. Dua duanya juga menjawab sama: sepertiga atau seper-empatnya yang diterima pemilih. Kalau 100, 50 yang sampai. Kalau 200, 100 atau 50 yang sampai. Kalau 500, 200 yang sampai. Begitulah. Ketiga, waktu penyaluran harus sudah selesai H-3. Di atas itu, rawan. Rawan babak belur, dan rawan MK. Pokoknya, rawan. Keempat, jika elektabilitasmu terpaut dengan ambang batas bawah 5 persen, lebih baik tutup kas. Barenti. Percuma. Tak mungkinlah dalam waktu semalam bisa membagi kepada seribu orang pemilih. Sementara, angka seribu itu hanya akan mendongkrak elektabilitas sebesar 0,1 persen. Keeeciiiiiil.

Berdiskusilah saya dengan seorang kepala daerah. Juga, berdiskusilah saya dengan seorang mantan Ketua Tim Sukses. Keduanya bersepakat, bahwa dalam waktu kurang dari dua minggu, para pemilih sudah memfokuskan pilihannya. Artinya, untuk Pilkada 7 kabupaten se Sultra saat ini, di luar dari ketentuan Tuhan, sesungguhnya, siapa yang menang sudah ketahuan. Sudah ditahu. Dan, tanpa mengintervensi Tuhan, disimpulkan, posisi incumbent di Pilkada di Sultra memberikan skor 5:2. Lima incumbent melenggang oppo, dua lainnya melenggang oppu. Apa itu oppo, dan apa itu oppu, saya tidak tahu.

Bagi yang oppu, agar tak larut dalam ketidakpastian, sebaiknya, berhubungan dengan lembaga survey. Tentu, lembaga survey yang kapabel. Lembaga survey yang kalau mengeluarkan data yang sulit ia pertanggungjawabkan, harus ada ketakutannya terhadap merosotnya kepercayaan publik terhadap lembaganya. Jangan lembaga survey yang umur hidupnya paling banter satu, dua bulan. Jangan. Atau, tanyalah KPU, lembaga survey mana yang ia rekomendir.

Dengan begitu, uangmu bisa diatur keluarnya. Uangmu, dari sekarang, sudah bisa dihitung-hitung, dikalkulasi, segini untuk buka kebun, segini untuk persiapan Pilcaleg nanti, segini untuk persiapan gula teh, karena kalau gula dan teh hilang seketika juga bisa-bisa ketokohan juga ludes seketika, bersamaan dengan hilangnya uang gula dan teh.

Dengan begitu, kontraktor juga bisa mengatur irama pengeluaran duit sokongannya. Apakah, menurunkan nilai sokongan, apakah menambah nilai sokongan, atau mengalihkan sokongan.

Artinya, dengan bantuan lembaga survey, semua akan menjadi jelas. Persoalannya, lembaga survey juga butuh duit. Kamu punya duit untuk membayar lembaga survey? Nah, yang lebih penting lagi, jangan hanya disurvey, tapi diumumkan. Sedekat ini, rasa-rasanya, belum ada lembaga survey yang merilis hasil surveynya. Agar tingkat kepercayaannya lebih tinggi lagi, yah, umumkan di koran. Koran apa? Yah, Kendari Pos lah. Yang ada, klaim para calon bahwa hasil survey mereka: tinggi. Mengklaim tinggi tanpa publikasi, yakinlah, hasilnya pasti negatif. Kamu bilang surveymu tinggi. Tinggi apa? Kamu bilang, hasil surveymu sudah ada. Mana?

Hal lain, para calon kepala daerah harus eling benar bahwa, situasi yang kalian hadapi saat ini, amat sangat rentan dengan tindakan kekufuran. Rawan melakukan tindakan-tindakan kufur. Jangan percaya dengan buah kelapa yang kalau dibelah di atas kepala dan jatuh di tanah, lalu kedua belahan kelapa menggelinding dan jika belahan yang lebih besar menengadah, kamu diyakinkan menang, dan jika belahan yang lebih besar saat menggelinding dan telungkup sebagai tanda kekalahan: jangan dipercaya. Darimana cerita ini saya dapat? Jangankan ceritanya, jangankan orang yang bercerita, orang yang tukang baca mantra sebelum membelah kelapa saja, saya tahu orangnya dan saya tahu alamatnya. Bahkan, baca-bacanya pun saya tahu. Komotaukah? “Mai mai kambera, kambera mbagolo golo, koo pee naitu mai pee naini.” Itu baca-bacanya. Dukunkah saya? Bukan. Tapi, karena saya berteman dengan banyak dukun, hingga baca-bacanya untuk mendongkrak hasil survey yang rendah pun saya tahu.

Komotahu? “Kamaise kamadua duadaka dakapinda pindabhoe bhoelangka langkasisi kasingkira
witewongko, wongkolae”. Itu mantranya.

Dukun kah saya? Bukan. Saya hanya mengingatkan agar menghindari tindakan-tindakan kufur. Soal mantra “Mai mai kambera, kambera mbagolo golo, koo pee naitu mai pee naini”, itu adalah lagu untuk memanggil kupu-kupu yang beterbangan di jalan yang kerap saya lakukan di masa kecil saat berlomba menangkap kupu-kupu menggunakan sarung yang dipancing dengan bunga pohon waru.

Kemudian, mantra “Kamaise kamadua duadaka dakapinda pindabhoe bhoelangka langkasisi kasingkira witewongko, wongkolae”, ini juga cerita ibu saya sebagai pengantar tidurku, yang artinya, Kamaise (satu) kamadua (dua, duadaka (tiga) dakapinda (empat) pindabhoe (lima) bhoelangka (enam) langkasisi (tujuh) kasingkira (delapan)
witewongko (sembilan), wongkolae (sepuluh). Akhirnya, dengan membaca alinea terakhir ini, kamu pun percaya bahwa mantra sama dengan kasbodo-bodo.(nebansi@yahoo.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *