Survei IPI : Di Era Jokowi, Warga Makin Takut Menyatakan Pendapat

KENDARIPOS.CO.ID — Indikator Politik Indonesia membeber hasil surveinya tentang penilaian publik atas kebebasan menyampaian pendapat belakangan ini. Melalui survei bertitel Demokrasi, Politik, dan Pilkada di Era Pandemi Covid-19, lembaga jajak pendapat pimpinan Burhanuddin Muhtadi itu mencatat pendapat publik tentang makin sulitnya berdemonstrasi atau menyampaian protes pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Direktur Eksekutif Indikantor Burhanuddin Muhtadi

Dari 1.200 responden dalam survei tersebut, terdapat 53 persen yang berpendapat agak setuju bahwa warga makin sulit berdemonstrasi atau melakukan protes. Adapun 20,8 persen responden mengaku sangat setuju dengan pendapat bahwa warga semakin sulit berdemonstrasi.

“Responden yang menilai makin sulit berdemonstrasi atau melakukan protes 73,8 persen,” kata Burhanuddin Muhtadi selaku direktur eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi saat merilis hasil surveinya secara daring, Minggu (25/10).

Selanjutnya, ada 19,6 persen responden mengaku kurang setuju dengan pendapat bahwa warga makin sulit berdemonstrasi. Sementara 1,5 persen responnden mengaki tidak setuju sama sekali, sedangkan sisanya 5,1 persen tidak menjawab. Masih dalam survei yang sama, sebanyak 37,9 persen responden mengaku agak setuju dengan pendapat bahwa aparat makin semena-mena menangkap warga yang berbeda pilihan politik dengan penguasa.

Adapun 19,8 persen responden merasa setuju dengan pendapat bahwa aparat makin semena-mena menangkap warga yang berbeda pilihan politiknya dengan penguasa. “Jadi ada 57,7 persen responden yang menilai aparat makin semena-mena menangkap warga yang berbeda pandangan politiknya dengan penguasa,” ungkap Burhanuddin.

Sementara itu, sebanyak 31,8 persen responden mengaku kurang setuju dengan pandangan bahwa aparat makin semena-mena menangkap warga yang berseberangan dengan penguasa saat ini.

Kemudian 4,7 persen responden mengaku tidak setuju sama sekali dengan pendapat bahwa aparat makin semena-mena menangkap warga yang berbeda pilihan politiknya dengan penguasa. Sisanya, ada 5,8 persen responden tidak menjawab pertanyaan tentang penilaian soal tindakan semena-mena aparat. Sebagai informasi, Indikator Politik melakukan survei pada 24-30 September 2020. Survei yang melibatkan 1.200 responden dengan metode simple random sampling itu memiliki margin of error 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Masih banyak yang menilai iklim demokrasi di Indonesia kurang baik dalam beberapa tahun belakangan ini. Hal itu terlihat dari survei teranyar Indikator Politik Indonesia dengan judul Demokrasi, Politik, dan Pilkada di Era Pandemi Covid-19. Mengacu survei itu, sebanyak 36 persen respoden menilai demokrasi Indonesia menjadi kurang demokratis.

Angka itu dua kali lipat jumlah responden yang menilai Indonesia jauh lebih demokratis dalam beberapa tahun belakangan sebesar 17,7 persen. “Saat ini lebih banyak responden yang menilai Indonesia belakangan ini menjadi kurang demokratis, dua kali lipat dari yang menilai menjadi lebih demokratis,” kata Burhanuddin Muhtadi dalam keterangan resminya secara daring, Minggu (25/10).

Di sisi lain, responden Indikator Politik juga menyebut kondisi demokrasi Indonesia tidak mengalami perubahan atau tetap sama yakni sebesar 37,0 persen. Sementara itu, 9,3 persen responden tidak menjawab atau tidak tahu. Dalam survei yang sama, Indikator Politik juga meminta pendapat responden atas pernyataan warga yang kini takut menyampaikan pendapat ke publik.

Sebanyak 47,7 persen responden agak setuju ketika disinggung hal tersebut. Sebanyak 21,9 persen merasa setuju dengan pernyataan tersebut. Sebanyak 22,0 persen merasa kurang setuju atas pernyataan tersebut. Kemudian 3,6 persen tidak setuju pernyataan tersebut. Sisanya 4,9 persen tidak menjawab pernyataan tersebut.

“Semakin publik menilai bahwa Indonesia makin tidak demokratis, makin takut warga menyatakan pendapat,” ujar Burhanuddin. Sebagai informasi, Indikator Politik melakukan survei pada 24-30 September 2020. Survei melibatkan 1.200 responden melalui metode simple random sampling.Margin of error sebesar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (ast/jpnn)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.