Nol Kilometer, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Nol Kilometer, Oleh : Prof. Eka Suaib


KENDARIPOS.CO.ID — Pagi itu, saya bersama Chaerul Anam dan Khabirun sebagai tim kejubiran Pemprov Sultra, menjelaskan beberapa isu pokok terkait dengan pembangunan di Sultra. Sebenarnya di tim kejubiran terdapat sembilan orang dengan berbagai latar belakang keilmuan. Masing-masing individu memiliki tugas.

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib

Siapa saja yang sembilan orang itu? Tidak usah diumumkan dulu. Kelembagaan ini belum lama dibentuk. Salah satu bentuk inovasi dari Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Sultra, Ridwan Badallah dalam memberikan informasi yang kredibel kepada publik.

Pertemuan dengan awak media, kemasannya, bukan konferensi pers. Tapi, namanya ‘Ngopi Bareng’. Kegiatan seperti ini, pernah empat kali diselenggarakan di gedung putih, rumah jabatan Gubernur Sultra. Entah mengapa, meredup. Padahal, banyak masyarakat yang menanti. Kapan lagi bertemu dengan gubernur. Kegiatan yang selalu saya hadiri, Ali Mazi, Gubernur Sultra 2018-2023 ‘cair’ menjelaskan isu-isu penting terkait dengan kebijakan pembangunan, kemasyarakatan dan pemerintahan.

Dalam setting ini pula, Andi Syahrir, Kepala Bidang di Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Provinsi Sultra, menggagas perlunya ‘Ngopi Bareng’. Tempatnya di Dinas Kominfo. Yang hadir, banyak kru media, baik media cetak, elektronik dan media online. Ada juga wartawan radio, Haji Ato.

Setelah acara selesai, salah seorang awak media, berbisik: pak, tampaknya tradisi seperti ini perlu dilanjutkan. Mungkin tempatnya tidak melulu di kantor. Bisa di warkop atau ruang-ruang lainnya. Sepakat.

Tidak ada hal yang spesifik yang tim jubir sampaikan. Fungsinya yakni untuk memberikan ‘narasi besar’ terhadap isu-isu publik. Isu-isu yang disampaikan tentang pembangunan jalan di Toronipa, rumah sakit, dan perpustakaan modern. Ke depan, tim kejubiran akan menyusun agenda untuk mengadakan temu dengan media massa untuk memberikan penjelasan atas agenda Pemprov Sultra.

Awalnya, saat ditawari masuk jadi tim kejubiran, saya berpikir, apa yang perlu dilakukan. Saya berdiskusi dengan beberapa kawan. Ada yang setuju. Ada juga yang tidak setuju. Saya harus memutuskan. Pada akhirnya, tawaran saya terima. Tentu dengan sejumlah kondisi-kondisi yang kami sudah bicarakan dengan pihak terkait.

Tantangan kejubiran memang amat kompleks. Soalnya, saat ini sumber berita banyak berasal dari media sosial. Kanal publik saat ini dalam menyampaikan asirasi sudah cukup beragam. Terutama dengan semakin maraknya penggunaan media sosial.

Aspek lain, perlu untuk memberikan konteks agar konten informasi tidak bias. Tidak ada politisasi, atau bias dari informasi. Tujuannya jelas, agar publik benar-benar memperoleh informasi yang kredibel.

Di pundak kami terpampang apa yang perlu dilakukan oleh tim jubir. Bagaimana peran idealnya? Seperti apa bentuk kerjanya? Atas dasar apa jubir bekerja? Bagaimana mengarahkan agenda publik sehingga tidak bias? Bagaimana mencegah hoaks? Bukan apa-apa, saat ini hoaks sudah cenderung menjadi ajang merebut simpati publik. Terutama menjelang pilkada.

Kalau berita yang tersaji itu adalah hoaks, darimana media mendapat informasi yang kredibel? Bisa-bisa, media akan menulis dalam perspektif apa yang diyakini itu benar.
Tim kejubiran ini, beragam latar belakang dan kanal untuk menyampaikan informasi. Ada yang memanfaatkan media sosial, terutama facebook. Selebihnya dengan cara seperti ini.

Itulah catatan awal saat berhadapan dengan media dengan kapasitas sebagai jubir pemerintah provinsi. Belum banyak yang bisa saya berikan, karena toh ini adalah kerja awal. Dari nol kilometer. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy