Moda Transportasi DAMRI Ditinggal Penumpang – Kendari Pos
Metro Kendari

Moda Transportasi DAMRI Ditinggal Penumpang

KENDARIPOS.CO.ID — Pandemi virus corona benar-benar berimbas segala lini perekonomian. Tak terkecuali bisnis di sektor transportasi, yang sampai saat ini masih ketar-ketir memikirkan nasibnya. Sejak pandemi, penumpang angkutan umum menurun drastis termasuk Moda transportasi Damri. Di sisi lain, mereka harus tetap mengeluarkan budget yang tidak sedikit untuk ongkos perawatan.

Bis Perum Damri hanya diparkir. Sejak pandemi, penumpang turun drastis hingga 70 persen. Akibatnya, hanya 13 dari 30 bisa yang bisa dioperasikan

General Manager (GM) Perusahaan Umum (Perum) Damri Cabang Kendari, Sudiro mengatakan penumpang Damri mengalami penurunan sekitar 70 persen. Berkurangnya jumlah penumpang membuat pendapat pun berkurang. Namun demikian, pihaknya tetap berupaya agar bisa kembali normal.

“Soal pendapatan, saya kira sangat terasa sekali masalah. Dulunya, kira bisa meraup pendapat sekitar Rp 750 juta perbulan,kini hanya sekitar Rp 300 juta. Penurunan ini secara otomatis berdampak pada sektor lain. Ongkos harian (uang makan) harus dikurangi.Dulunya, 500 ribu per hari, sekarang tinggal 250 ribu,” jelasnya kemarin.

Bukan hanya itu, pihaknya juga melakukan pengetatan belanja spare part. “Pokoknya kita berhemat habis habisan. Sampai hari ini (kemarin), kami belum melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Gaji pokoknya kita tetap bayarkan, meski tak jarang terlambat,” ungkapnya.

Sebelum pandemi, pengguna jasa angkutan Perum Damri sangat banyak. Makanya, tak jarang menurunkan bis bantuan. Namun sekarang justru sebaliknya. Banyak bis yang terpaksa tidak beroperasi. Dari 30 armada yang tersedia, hanya 13 bis yang beroperasi. “Kini yang beroperasi hanya angkutan perintis. Untuk angkutan pariwisata dan borongan sementara tidak dioperasikan, hanya dilakukan perawatan,” ujarnya.

Pengalihan pelabuhan kata dia, menjadi salah satu penyebab menurunnya pendapatan Perum Damri. Terutama untuk rute Kendari-Amolengo-Baubau dan Kendari-Amolengo Ereke. “Kendari-Baubau dulunya bisa 20 kali trip, tapi sekarang hanya tinggal 5 kali,” ujarnya.

Untuk terus beroperasi, pihaknya pengelolaan anggaran dilakukan seefisien mungkin. Mengingat untuk gaji perbulan, Perum Damri mengeluarkan biaya sekitar Rp 185 juta dan uang makan Rp 50 juta (kini separuhnya), dan biaya umum lainnya.

“Jika ditotal, kami masih harus menalanginya terlebih dahulu, sembari menunggu subsidi yang dibayarkan di akhir bulan. Namun dua bulan ini, subsidi belum dicairkan. Kita berharap wabah virus Corona ini cepat berlalu. Dengan begitu, kehidupan masyarakat berjalan normal, sehingga roda perekonomian bangkit kembali khususnya pada moda transportasi,” pungkasnya. (b/m2)

Nasib Moda Transporasi di Masa Pandemi
-Penumpang Anjlok 70 Persen
-Pendapatan Turun 750 Juta Perbulan Tinggal Rp 300 Juta
-Dari 30 Bis, Hanya 13 yang Beroperasi
Pengetatan Pengeluaran
-Ongkos Harian (uang makan) Dipotong
Dari 500 Ribu jadi Rp 250 Ribu

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy