Menyoal Hasil PISA dan Mutu Pendidikan,Oleh : Amal Maliki – Kendari Pos
Opini

Menyoal Hasil PISA dan Mutu Pendidikan,Oleh : Amal Maliki


KENDARIPOS.CO.ID – -Tahun 2020, pendidikan kita telah memasuki usia tigaperempat abad (75 tahun). Pada usia yang terbilang cukup matang ini, seharusnya mutu pendidikan kita sudah beranjak dari ketertinggalan ke arah yang lebih maju (setidaknya mampu bersaing dengan negara-negara tetangga). Namun faktanya harapan di atas belum mampu diwujudkan. Rilis terbaru 2019 oleh PISA (Programme International Student Asessment) hasil tes 2018, skor membaca anak-anak Indonesia menduduki peringkat 72 dari 77 negara.

Amal Maliki, Kepala SMAN 01 Bombana dan Mahasiswa Magister Fisika/Geofisika UHO)

Sementara itu, skor matematika berada pada peringkat 72 dari 78 negara dan skor sains bertengger di peringkat 70 dari 78 negara. Hasil PISA di atas dikomentari oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud di Kompas.com (Desember 2019) sebagai suatu alarm dini untuk melakukan perubahan paradigma pendidikan di Indonesia.

Selain itu, dari hasil PISA di atas diperoleh gambaran masih tingginya disparitas (jarak) mutu dari hasil pendidikan tiap daerah. PISA merupakan Penilaian Pelajar Internasional tingkat dunia yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali. PISA diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), yaitu Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi. Terdapat tiga indikator yang diukur melalui PISA, yaitu: 1) kemampuan membaca (literasi), 2) kemampuan matematik (numerasi), dan 3) kemampuan sains. Ketiga kemampuan di atas dinilai secara acak melalui sampel beberapa anak yang prestasinya cukup mumpuni.

Anak-anak yang menjadi sampel berasal dari setiap negara yang tergabung dalam OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Merujuk pada hasil PISA yang telah diuraikan di atas, ada baiknya jika kita melakukan refleksi terhadap kinerja pendidikan yang selama ini sudah berjalan. Kinerja pendidikan adalah perilaku, aktifitas, dan etos kerja yang dimiliki oleh setiap pelaku pendidikan dalam mengelola pendidikan. Salah satu indikator yang menunjukkan baiknya kinerja pendidikan adalah meratanya akses pendidikan yang dirasakan oleh para peserta didik di setiap wilayah/daerah.

Saat ini akses layanan pendidikan masih belum merata ke seluruh daerah. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan serius melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dan dijalankan dengan sehati (mengenyampingkan ego masing-masing sektor). Kinerja pendidikan menjadi taruhan untuk bisa meningkatkan hasil pemeringkatan PISA di tahun berikutnya. Tiga kemampuan yang menjadi ukuran PISA harus di tularkan secara maksimal kepada anak-anak didik.

Paradigma kinerja pendidikan harus dirubah dari pola konvensional (menekankan pada proses) ke pola dinamis yang menekankan pada out put dan out come. Para pelaksana serta stakeholders pendidikan lainnya secara bahu membahu menangani masalah kinerja pendidikan kita secara bergotong royong. Anak-anak didik sebagai user atau pengguna pendidikan harus dijadikan sebagai subjek dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Akses layanan pendidikan harus dipenuhi secara merata tanpa adanya diskriminasi (inklusif).

Regulasi yang menghambat kemerdekaan berinovasi dan berkreasi dalam pengolahan pendidikan harus dipangkas secara proporsional. Strategi pembelajaran dan penilaian harus ditekankan pada pengukuran kemampuan ril anak. Kemampuan ril anak dikembangkan pada aspek literasi memahami bacaan/teks, hitungan matematis, dan literasi sains. Hasil belajar harus merujuk pada kemampuan anak yang sifatnya luas (tidak terbatas untuk keperluan akademik). Kemampuan anak mencerminkan apa yang seharusnya diperoleh dalam proses pendidikan, bukan sekadar angka-angka numerik yang tertulis di rapor dan ijazah.

Kemampuan anak ditekankan pada output dan outcome pendidikan yang bermakna dalam kehidupan. Kebermaknaan pendidikan akan dibuktikan melalui kemampuan anak dalam menghadapi sekaligus memecahkan berbagai permasalahan hidup yang dihadapi serta penguasaan IPTEK. Peran orang tua/keluarga, masyarakat dan sekolah sebagai penyokong kuat pilar utama pendidikan harus terus diberdayakan. Pemanfaatan teknologi dan penguatan karakter semakin dioptimalkan. Dengan melakukan hal-hal yang diuraikan di atas, tantangan kinerja pendidikan kita yang cukup berat untuk menghadapi survei PISA berikutnya dapat diatasi dengan baik. Hal ini akan berdampak positif bagi pengembangan potensi diri anak didik. Sehingga anak-anak Indonesia akan mampu berkompetisi secara nasional, regional, maupun internasional di era globalisasi yang selalu membawa perubahan secara dinamis. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy