Membumikan Pancasila, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Membumikan Pancasila, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Di WAG Sultra New Demo, La Ode Pandi Sartiman, wartawan senior mengirimkan 4 buah kuliah umum karya Yudi Latif. Kuliah yang dikirimkan yakni tentang melacak akar sejarah Pancasila, pembudayaan Pancasila, melihat Pancasila dalam praktek, membentang makna agama sipil Pancasila, mengurai konsepsi gotong royong dalam Pancasila.

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib

Karya Yudi Latif, yang selanjutnya saya menyebutnya Yudi dalam catatan ini, bukan hanya video. Sejumlah karya diterbitkan seperti Negara Paripurna:historitas, rasionalitas dan aktualitas Pancasila. Pancasila mata air keteladanan: Pancasila dalam perbuatan (2014), Revolusi Pancasila. Tahun 2018 menerbitkan buku Wawasan Pancasila. Belum lagi kita dapat simak pernyataannya melalui Twitter, Facebook atau sekadar gossip di WAG. Yudi juga secarta rutin menulis di harian Kompas.

Banyak yang menyebut Yudi sebagai ‘Cak Nur Muda’. Soalnya, Cak Nur dan Yudi pernah mondok di pesantren Gontor. Saat menulis disertasi di Australian National University, Yudi memilih topik tentang geneologi intelektual muslim di Indonesia. Inilah yang membedakannya dengan Cak Nur, karena menulis khazanah pemikiran kenegaraaan dari perspektif Islam di Indonesia. Dari sinilah, Yudi memukan bahwa Pancasila sebagai satu-satunya wacana yang harus digelutinya. Bagi Yudi, Pancasila adalah air kehidupan yang dibutuhkan jika Indonesia ingin tegak.

Pancasila, sebagai ideologi modern, merupakan karya agung para pendiri bangsa Indonesia. Sebagai produk pemikiran modern, yakni untuk memberi landasan filosofis bersama masyarakat plural. Watak dinamis Pancasila yang terbuka. Dalam hal perumusan formal, Pancasila tidak perlu dipersoalkan. Demikian pula kedudukan konstitusionalnya sebagai dasar kehidupan bernegara dan berbangsa dalam pluralitas bangsa Indonesia.

Namun, dari segi pengembangan prinsip-prinsipnya sehingga menjadi actual dan relevan bagi masyarakat untuk tumbuh dan berkembang. Pancasila tidak bisa tidak kecuali harus dipahami dan dipandang sebagai ideologi terbuka yang dinamis. Tugas saat ini upaya agar terus menerus merawat Pancasila. Seperti kata Yudi, Pancasila perlu dirawat dengan penuh pemahaman dan ketekunan sepanjang proses berbangsa dan bernegara.

Dapat dikatakan, bahwa sebagian besar ketidakmampuan kita memecahkan masalah hari ini disebabkan ketidakmampuan kita merawat warisan terbaik dari masa lalu. Salah satu upaya yang perlu didorong agar Pancasila adalah operasional, yakni pentingnya standarisasi metode pembinaan ideologi Pancasila. Sasarannya, bisa jadi bagi para para pejabat negara, tokoh masyarakat, agama, adat, perempuan, pemuda dll. Dan segenap komponen masyarakat yang ada.

Misalnya, sosialisasi bagi para pejabat negara. Mereka adalah wajib untuk memahami dan mengamalkan Pancasila agar segala keputusan-keputusan dan program kerjanya berdasarkan sila-sila Pancasila. Para pejabat negara juga punya peran penting dalam proses perumusan, implementasi dan evaluasi produk-produk kebijakan, produk-produk regulasi dan produk-produk peraturan perundangan.

Dengan demikian, setiap komponen masyarakat memiliki peran yang besar untuk menentukan masa depan bangsa. Diperlukan kesadaran kolektif dari semua elemen bangsa untuk berpikir dan bertindak berdasarkan Pancasila. Jika terjadi, akan tercipta kerukunan, keserasian, keharmonisan, keadilan dan kesejaahteraan di antara sesama warga bangsa. Dengan kata lain, Pancasila tidak hanya hadir secara formal dan diucapkan. Tetapi, absen dalam praktek. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy