Libatkan 50 Truk, Jembatan Teluk Kendari Uji Beban – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Libatkan 50 Truk, Jembatan Teluk Kendari Uji Beban


KENDARIPOS.CO.ID — Jembatan Teluk Kendari berdiri kokoh. Membentang dan melintasi Teluk Kendari, menghubungkan dua kecamatan. Akses masyarakat semakin mudah dan murah. Jembatan Teluk memangkas jarak dan waktu tempuh warga Kecamatan Kendari, Abeli dan Poasia. Jarak sekira 1,34 kilometer dapat ditempuh hanya beberapa menit.

Gubernur Sultra, Ali Mazi (delapan dari kiri), Sekda Provinsi Sultra, Nur Endang Abbas (enam dari kiri), Anggota DPR RI, Ridwan Bae (sembilan dari kiri), Ketua DPRD Sultra Abdurrahman Shaleh (tujuh dari kiri), dan Kepala Dishub Sultra, Hado Hasina (tiga dari kanan) bersama Forkopimda dan pejabat BPJN Sultra usai uji statik dan dinamik Jembatan Teluk Kendari, Sabtu (3/10).

Puluhan tahun lalu, hanya ada dua akses menghubungkan tiga wilayah ini. Jika melalui jalur laut, warga mesti naik perahu. Sedangkan akses darat, warga mesti mengitari Kecamatan Anduonohu menggunakan angkot atau kendaraan pribadi.

Jembatan Teluk Kendari telah hadir sebagai penopang pertumbuhan ekonomi masyarakat. Jalur distribusi barang dan jasa lebih murah dan ditempuh dalam waktu singkat. Di Kecamatan Abeli dan Poasia diproyeksikan menjadi kawasan industri. Di sana terdapat pula New Port Kendari yang diklaim pendukung jalur tol laut.

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir berharap eksistensi jembatan Teluk Kendari ke depannya menjadi sumber pendapatan baru masyarakat yang akan menggerakkan roda ekonomi di Kota Kendari. Sulkarnain Kadir mengajak warga Kendari memanfaatkan momentum ini. Pemkot Kendari akan memfasilitasi pelaku usaha yang akan beraktivitas di kawasan jembatan namun dengan catatan mesti mengikuti aturan yang ditetapkan nantinya.

“Kemarin sudah uji beban statik dan dinamik. Itu berarti pengoperasian Jembatan Teluk Kendari tak lama lagi. Nah inilah yang harus di manfaatkan, ” ujar Sulkarnain kepada Kendari Pos, Minggu (4/10).

Harapan serupa diungkapkan Ketua DPRD Kota Kendari, Subhan. Menurutnya, kawasan jembatan bisa dimanfaatkan masyarakat membuka usaha kecil saat dioperasikan nanti. Menaati aturan tentunya menjadi wajib ditunaikan masyarakat. “Apalagi potensi wisatawan yang berkunjung ke jembatan tentu akan banyak. Harus proaktif memanfaatkan potensi yang ada,” beber Subhan.

Jembatan teluk Kendari kini tahap finishing. Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sultra telah melakukan uji beban statik dan dinamik selama dua hari, 3 sampai 4 Oktober 2020. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.5 Satuan Kerja (Satker) BPJN Sultra, Ichsan mengungkapkan, uji beban ini termasuk dalam rangkaian uji laik fungsi namun belum termasuk uji marka. “Nanti akan ada pemeriksaan lagi. Jadi ini baru uji beban saja untuk mendapatkan karakteristik aktual jembatan saat dibebani dan dibandingkan dengan perencanaan,”terangnya.

Hasil pengujian beban langsung terlihat namun belum dapat diumumkan. Seluruh data yang dihimpun masih akan dibahas bersama Tim Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) terkait analisa hasil pengujian. Rapat bersama KKJTJ akan digelar dalam waktu dekat.

Perwakilan KKJTJ, Dradjat Hoedajanto menyampaikan, uji beban statik dan dinamik Jembatan Teluk Kendari merupakan prosedur yang ditetapkan perundang-undangan agar sebuah jembatan mendapatkan sertifikat laik fungsi.

Dradjat mengatakan, sebenarnya ketika sebuah jembatan sudah berdiri, sudah tidak ada masalah. Sebab, beban yang paling berat itu sebenarnya dari struktur bangunan jembatan itu sendiri. Kendaraan yang lewat tidak masalah. “Uji beban ini serupa dengan pengurusan surat izin mengemudi (SIM). Kendati seseorang sudah bisa mengemudikan kendaraan, namun harus tetap ujian mengemudi kendaraan sesuai prosedur yang berlaku,” ujarnya.

Kepala BPJN Sultra, Yohanis Tulak Todingrara mengatakan progres pembangunan mencapai 98 persen. Pekerjaan yang tersisa hanya di bagian finishing seperti mengecat talud aksen jalan samping. “Kalau melihat progresnya paling tidak awal November pembangunan sudah bisa rampung 100 persen,” ujarnya.

Jembatan dapat dilalui kendaraan hingga maksimal muatan 40 ton. “Uji ini melibatkan 40–50 truk 10 roda, untuk mengetes kekuatan struktur jembatan apakah sudah sesuai dengan yang diharapkan,” ungkap Yohanis.

Impian Tiga Gubernur

Jembatan Teluk Kendari berdiri kokoh di atas Teluk Kendari. Kemegahan dan kekokohannya menjadi simbol kemajuan peradaban Sultra di masa mendatang. Tak banyak yang tahu jika Jembatan Teluk Kendari itu merupakan impian tiga gubernur yang pernah dan sedang memimpin Sultra. Mereka adalah Gubernur Sultra mendiang La Ode Kaimoeddin dua periode 1992-2003, Gubernur Sultra Nur Alam dua periode 2008-2017 dan Gubernur Sultra Ali Mazi dua periode 2003-2008 dan 2018-2023.

Anggota DPR RI, Ridwan Bae mengemukakan sejarah pembangunan Jembatan Teluk Kendari diinisiasi sejak zaman Gubernur La Ode Kaimoeddin lalu diwujudkan di masa Gubernur Nur Alam dan dituntaskan Gubernur Ali Mazi pada periode keduanya. “Ini semua harus kita hargai. Insya Allah kita akan upayakan bersama dengan gubernur dan tokoh-tokoh masyarakat menghadap ke Presiden untuk minta waktu beliau meresmikan jembatan ini bersama dengan proyek lainnya, seperti Kendari New Port,” kata Ridwan.

Gubernur Sultra, Ali Mazi mengapresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan Jembatan Teluk Kendari. Ali Mazi berharap jembatan tersebut berdampak positif dan bermanfaat bagi masyarakat serta daerah. “Terhubungnya wilayah bagian selatan Kota Kendari dengan wilayah Poasia serta Pulau Bungkutoko dapat dikembangkan menjadi kawasan industri, pelabuhan, dan permukiman baru. Pada gilirannya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi lokal dan regional di wilayah tersebut,” ujar Alui Mazi.

Setiap kali melihat Jembatan Teluk Kendari, Gubernur Ali Mazi teringat akan cita-citanya 15 tahun silam pada periode pertama menjadi gubernur (tahun 2003-2008) yang ingin membangun jembatan yang menghubungkan Pulau Muna dan Pulau Buton. “Namun hingga berakhirnya periode tersebut, apa yang dicita-citakan belum terwujud. Untuk itu, di periode kedua saya memimpin daerah Sultra bersama Wakil Gubernur Lukman Abunawas, sangat berharap impian lama tersebut dapat terwujud. Dan Alhamdulillah, saya memiliki keyakinan besar, karena rencana pembangunan Jembatan Buton sudah mendapakan respons positif dari Menteri PUPR,” kata Ali Mazi.

Dalam waktu dekat, Ali Mazi akan menghadap Presiden Joko Widodo dan meminta kesediaan meresmikan Jembatan Teluk Kendari dan sejumlah proyek-proyek lainnya yang ada di Sultra.

Mantan Gubernur Sultra, Nur Alam mengaku bangga mendengar karya spektakuler berdiri kokoh di atas Teluk Kendari dan telah dilakukan uji kelaikan. Sebagai pencetus pembangunan Jembatan Teluk yang sebelumnya dinamai Jembatan Bahteramas, Nur Alam mensyukuri keberhasilan pembagnunan jembatan itu.

“Saya rasa kita semua patut bersyukur karena salah satu pembangunan yang sangat strategis yang menghubungkan dua ruas di Teluk Kendari itu sudah bisa diselesaikan dengan baik oleh pemerintah,”kata Nur Alam saat melakukan izin kunjungan kerabat yang sakit di RS Bahteramas, Minggu (4/10).

Proyek strategis di masa pemerintahannya itu tentu akan menjadi ikonik Sultra. Dalam pelaksanaan pembangunan atau proyek berskala besar tentu akan memakan waktu yang cukup lama. Sehingga logis kalau peralihan pemimpin ke pemimpin ada sesuatu pekerjaan yang bisa diselesaikan diera pemimpin itu tetapi ada juga pekerjaan yang nantinya akan diselesaikan oleh pelanjutnya.

“Bagi saya tidak masalah, yang terpenting adalah pembangunan yang strategis untuk kepentingan masyarakat ini bisa selesai. Ada yang memberi gagasan. Ada yang melaksanakan kegiatannya. Bahkan mungkin ada yang menyelesaikan,” ungkap Nur Alam.

Sama halnya ketika di era periode pertama Gubernur Sultra Ali Mazi menjabat. Menara persatuan dibangun, namun belum selesai secara total. “Saya lanjutkan, bahkan sampai sekarang masih perlu dilanjutkan. Intinya dulu disebut tugu persatuan, saya karena pertimbangan momentum kegiatan dan acara di situ maka saya memberikan nama tugu religi. Sama aja. Tidak ada soal, terpenting pemanfaatanya oleh masyarakat secara baik dan berkelanjutan,” ungkap Nur Alam.

Terkait penamaan jembatan Teluk Kendari, bukan Jembatan Bahteramas, Nur Alam mengatakan bukanlah persoalan. “Apalah arti sebuah nama. Intinya akses dari pelabuhan itu langsung bisa terbangun dan termanfaatkan dengan baik dan yang terpenting semua sarana prasarana dan ikon-ikon pembangunan yang dibikin itu bisa memberikan manfaat bagi kepentingan masyarakat,”kata Nur Alam. (ags/rah/yog/m2/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy