Kota Tua, Kendari, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Kota Tua, Kendari, Oleh : Prof. Eka Suaib


KENDARIPOS.CO.ID — Kota Kendari, dalam kajian sejarawan UHO, Prof. Anwar, sudah cukup tua. Alasannya, Kota Kendari yakni sebagai kota dagang, kota pelabuhan, dan kota pusat kerajaan. Sumber lisan dari pelayar Bugis dan Bajo menyebutkan, Kota Kendari sudah lama menjadi kota dagang. Kendari merupakan kota tempat penampungan barang dan merupakan kota transit.

Prof. Dr. Eka Suaib

Awal mula penamaan Kota Kendari berasal dari tulisan Vosmaer. Ia mengunjungi Kota Kendari 9 Mei 1831 dan membuat peta Teluk Kendari. Setelah itu, Vosmaer rajin mengunjungi Kota kendari untuk mendirikan kantor dagang dan rumah untuk Raja Ranomeeto.

Saya sendiri sudah di Kendari sejak tahun 1980-an. Tinggal di kawasan Benu-Benua. Saat awal kuliah sempat ingat perbincangan dengan beberapa warga sekitar tempat tinggal. Menurutnya, nama Kendari itu berasal dari bahasa Tolaki yakni Kandai. Rupanya, Kandai adalah alat dari bambu atau kayu yang dipergunakan untuk menolak/mendorong perahu di tempat yang airnya dangkal. Jadi, bagi masyarakat Kendari, Kandai alat yang tertua sebelum menggunakan dayung.

Pekerjaan utama saat itu adalah nelayan. Saat nelayan itu ditanya, apa nama kampung di sini, maka warga menjawab: Kandai. Nelayan itu menduga, bahwa orang bertanya, apa yang dipegang. Yah, yang dipegang adalah Kandai.

Sampai saat ini, nama Kandai adalah salah satu Kelurahan yang terletak di kota lama. Entah benar, atau tidak. Saya tidak tahu. Ini pengalaman saja. Kalau benar, catat. Kalau salah, maklumi saja.

Tidak bisa dipungkiri, Kota Kendari sudah berkembang dengan sangat pesat. Awalnya, hanya kampung yang hanya dihuni para nelayan pada abad 19. Selanjutnya menjadi daerah otonom tahun 1995. Letaknya menjadi strategis, karena menjadi ibu kota Provinsi Sultra.

Pusat Kota, yang dahulu orang Kendari menyebutnya dengan ‘kota’. Setelah itu, pusat pemerintahan bergeser ke Kecamatan Mandonga. Jaraknya, kurang lebih 10 kilometer dari ‘kota tua’. Sejak saat itu, ‘kota tua’ hanya berfungsi sebagai pelabuhan.

Tapi, jangan lupa, pada tahun 1980-an dan 1990-an, di kawasan kota tua pernah berdiri beberapa peninggalan bangunan. Ada berderet jenis rumah yang dibangun yakni model toko untuk dijadikan tempat berdagang. Di kawasan tersebut, berderet para penjual emas, elektronik, kain, makanan, dan sebagainya. Mayoritas penghuninya adalah etnis Cina yang sudah berbaur dengan etnis lain.

Jika tahun baru Cina, jalan-jalan ke Kota tua menonton Barongsai. Saat tahun baru Imlek, ada logo-logo tertentu yang menunjukkan bahwa penghuninya adalah etnis Cina.

Pengrajin emas dan perak juga dijumpai. Jika ke Makassar, lalu saya menyebut bahwa emas dari Kendari, mereka bilang, ‘ini emas asli’. Artinya pengrajin emas dan perak dari Kendari terkenal. Jangan lupa, di kawasan kota tua, ada bioskop Teater. Masih ada lagi satu bioskop terletak di Benu-Benua, yakni bioskop Benteng.

Mengapa Kota Tua? Pemerintah Provinsi punya gagasan menarik: revitalisasi kota lama. Gubernur Ali Mazi sudah mencanangkan hal tersebut. Bukan apa-apa, saat ini di kawasan tersebut akan menjadi titik sentral jembatan Bahteramas, kawasan Toronipa.

Dari sudut Kota Lama juga dapat menikmati masjid Al Alam. Jika mengunjungi Kota Lama saat ini masih berdiri peninggalan bangunan lama. Ada bekas rumah raja. Ada masjid, gereja yang usianya sudah cukup tua.

Jika revitalisasi kota terwujud, akan memberikan daya tarik tersendiri. Yakni perpaduan kawasan modern dengan peninggalan masa lalu. Daya tarik itu menjadikan Kota Kendari lebih baik. Sebab, semua diberikan kesempatan untuk menempati ruang-ruang yang ada. Tanpa ada perbedaan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy