Kolam Retensi Mampu Mereduksi Genangan Air 66 Persen – Kendari Pos
Metro Kendari

Kolam Retensi Mampu Mereduksi Genangan Air 66 Persen

KENDARIPOS.CO.ID — Pemkot Kendari terus berupaya mengurangi titik genangan air atau banjir di Kota Kendari. Tidak hanya membangun saluran drainase yang terintegrasi, Pemkot turut mengantisipasi luapan Sungai Wanggu. Mulai dengan melakukan normalisasi sungai, pembangunan tanggul hingga menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR) melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari membangun waduk pengendali banjir atau kolam retensi di Kelurahan Lepo-lepo.

Wali Kota Kendari, H. Sulkarnain Kadir mengatakan keberadaan kolam retensi Daerah Aliran Sungai (DAS) Wanggu akan mereduksi banjir di Kota Kendari hingga 66 persen. Sejauh ini, pengerjaannya masih on the track dan telah mencapai 80 persen. Ia pun berharap pembangunan dapat dipercepat. Apalagi musim hujan akan segera tiba di akhir tahun 2020 ini

“Meski pandemi Covid-19, pembangunan kolam retensi terus berjalan. Sinergi antara Pemkot dan BWS Sulawesi IV Kendari tentunya menjadi motor percepatan pembangunan. Pihak balai memastikan pembangunan kolam akan tuntas tahun ini,” kata Sulkarnain Kadir.

Sulkarnain meyakini pembangunan kolam retensi bisa selesai tepat waktu. Itu dikarenakan BWS sudah berpengalaman dalam melaksanakan pembangunan kolam retensi, waduk, tanggul dan bendungan. “Contohnya pembangunan bendungan Ladongi. Satu-satunya bendungan terbesar di Sultra. Jadi, saya kira BWS pasti mengebut penyelesaiannya,” ungkapnya

Dengan terbangun kolam retensi, setidaknya bisa menghilangkan memori kelam pada 2013 lalu. Pada saat itu, 70 persen wilayah kota Kendari dilanda banjir setinggi 1 meter. Itu terjadi akibat 13 anak sungai meluap sehingga 10 kecamatan terendam banjir, yaitu Kecamatan Poasia, Abeli, Kambu, Baruga, Wua-Wua, Kadia, Mandonga, Puuwatu, Kendari Barat, dan Kendari. “Ketinggian banjir 30 cm hingga 2 meter, 60 rumah rusak, 2 jembatan rusak sedang, 1 jembatan terbawa arus,” ungkap Sulkarnain.

“Semoga kolam retensi sungai wanggu bisa mereduksi banjir di Kendari terutama pada daerah yang termasuk kawasan rawan banjir/genangan di Kota Kendari yakni sebanyak 44 lokasi seluas 4.140 hektar yang tersebar pada enam Kecamatan, dengan rincian menurut tingkat bahaya adalah sangat rawan 145 hektar, rawan 39 hektar dan sisanya 3.956 hektar kategori sedang,” kata Sulkarnain.

Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Sumber Daya Air (SDA) KemenPUPR, Bob Arthur Lombogia mengungkapkan, progres pembangunan kolam retensi Sungai Wanggu sudah mencapai 80 persen. Proyek senilai Rp 22,8 miliar itu ditargetkan tuntas 28 Desember mendatang. Capaian tersebut, tak lepas dari upaya pihaknya dalam hal ini BWS Sulawesi IV Kendari dalam menggenjot pembangunannya.

Pembangunan kolam retensi kata dia, sebagai upaya mencegah terjadinya banjir yang kerap melanda Kota Kendari. Sebelum dilakukan pembangunan, pihaknya terlebih dahulu telah melakukan simulasi banjir, dan hasilnya bila tidak diupaya pengendaliannya, maka bisa terjadi banjir dengan luas 2.500 hektar yang berpotensi terjadi di sepanjang Sungai Wanggu.

“Ini kolamnya dibangun dalam dua bentuk yakni hulu dan hilir. Jadi, ada dua waduk yang disisi selatan dan utara sungai. Yang di selatan adalah hulu, kemudian yang di di timur hilir. Ini progresnya sudah lebih dari 80 persen. Kalau tanggul-tanggul di Sungai Wanggu dan anak-anak sungainya kita kerjakan, akan mengurangi potensi banjirnya, menjadi 681 hektar, atau sekitar 66 persen,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BWS Sulawesi IV Kendari, Haeruddin C Maddi mengaku pembangunan kolam retensi sungai wanggu sudah dimulai sejak 17 Maret lalu dan direncanakan selesai pada 28 Desember 2020 (durasi pelaksanaan selama 287 hari kalender). Kolam retensi Sungai Wanggu terbagi menjadi dua kolam, yaitu Kolam Retensi Hulu dan Kolam Retensi Hilir. Kedua kolam retensi tersebut memiliki kemampuan mereduksi banjir sebesar 2.46 persen. “Debit puncak banjir yang dapat dipotong adalah sebesar 51.5 meter kubik perdetik,” ujarnya.

Untuk Kolam Retensi Hulu dibangun seluas 3,0 hektar dengan tampungan sebesar 60 ribu meter kubik dengan konsep natural yang berbasis ramah lingkungan (green construction). Kolam retensi ini memiliki tanggul keliling (elevasi tanggul +5,0 m) dengan rumput gebalan dan bangunan inlet-outlet dengan pasangan batu kosong. Sementara Kolam Retensi Hilir lanjut Haeruddin, dibangun seluas 5,9 hektar dengan tampungan sebesar 177ribu meter kubik dengan konsep artificial (konstruksi keras seperti pasangan batu dan beton bertulang).

“Kolam retensi ini memiliki fasilitas untuk ruang sosial dan sarana prasarana olahraga seperti jogging track. Tanggul keliling dibuat dengan 2 tipe. Pertama, revetment pasangan baru dan frame beton bertulang K-225. Kedua, dinding penahan tanah (gravity wall),” paparnya. (b/adv/ags)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy