Kapolres Baubau Bantah Anggotanya Gunakan Senpi – Kendari Pos
Hukum & Kriminal

Kapolres Baubau Bantah Anggotanya Gunakan Senpi

KENDARIPOS.CO.ID — Aksi unjuk rasa penolakan pengesahan Undang-Undang Umnibus Law Cipta Kerja sejumlah mahasiwa di Kota Baubau Jumat (9/10) masih menyisakan polemik. Salah seorang masa aksi dalam pergerakan tersebut atas nama Nur Sya’ban diduga mengalami tindakkan kekerasan. Hal itu terkuak dengan adanya laporan polisi (LP) yang masukan di Polres Baubau. Laporan bernomor LP/170/X 2020/Sultra/Res. Baubau/15 Oktober 2020 dimasukkan karena adanya dugaan kekerasa yang dialami korban, diduga akibat tembakkan peluru karet dari senjata api (Senpi).

Menanggapi hal tersebut, Kapolres Baubau, AKBP Zainal Rio Candra Tangkari mengatakan tak satupun anggota membawa senjata api dalam proses pengaman aksi. Sebanyak 100 perseonil anggota kepolisian yang dilibatkan dalam pengamanan aksi hanya dilengkapi tameng, tongkat, gas air mata dan kendaraan polisi.

“Propam Polres Baubau juga melakukan pengecekan tentang kelengkapan yang dibawa oleh petugas pengamanan. Ditekankan tidak beloh membawa senjata api, senjata tajam, dan hal-hal lain yang tidak diperbolehkan. Sehingga dipastikan tidak ada satupun personil yang membawa senjata api saat pengamanan,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (16/10).

Dalam konferensi persnya, Polres Baubau membawa dan memperlihatkan pakaian yang digunakan korban saat melakukan aksi. Menurut Polres hal itu menjadi bukti bahwa kekerasa yang dialami oleh mahasiswa yang bersangkutan bukan karena hantaman peluruh karet.

“Selama unjuk rasa korban, Nur Sya’ban menggunakan jaget almamater warna kuning yang di dalamnya mengenakan kaos putih lengan panjang. Pada bagian lengan sebelah kiri sama sekali tidak ada bekas lubang. Jadi, logikanya tidak akan mungkin peluru itu menembus bagian dalam tanpa menembus jaket. Jadi saya tegaskan, dugaan luka tersebut adalah bekas luka tembak atau peluru karet sama sekali tidak benar,” terangnya.

“Pakaian milik korban dalam hal ini baju dalam dan almamater kuning yang digunakan saat aksi diserahkan langsung oleh korban bersama kuasa hukumnya pada kami,” sambung Kapolres.

Dari pengakuan korban, kekerasan yang dideritanya berupa luka yang membetuk lubang pada bagian lengan kiri atas akibat hantaman peluruh karet berdasarkan penyampaian tim medis yang menanganinya. Makanya, dalam konferensi pers tersebut, Polres Baubau turut menghadirkan dokter dan perawat yang menagani luka korban saat di rumah sakit.

“Saya tidak pernah mengeluarkan statemen kekerasan itu akibat peluru karet. Saya ingin jelaskan luka karena peluru ada dua jenis. Yaitu luka tembus dan luka tidak tembus. Biasanya pada luka tidak tembus dan tidak tembus ditemukan ada peluruh atau serpihan peluru pada permukaan. Tetapi pada saat dilakukan pemeriksaan dan identifikasi luka tidak ditemukan adanya benda asing dalam luka tersebut,” terang dr. Kenangan.

Dari deskripsi luka yang ditemukan pada korban lanjut dokter yang karib dengan sapaan dr. Ken, merupakan akibat hantaman benda tumpul. Bisa karena kayu, bisa oleh batu, dan bisa oleh besi. “Saya tidak bisa menyimpulkan diatara itu yang mengakibatkan perlubangan. Tetapi deskripsi lukanya adalah karena kekerasan tumpul,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Tim Kuasa Hukum Korban (Nur Sya’ban), Agung Widodo mengungkapkan rentan waktu kejadian dan laporan yang dimasukkan ke Mapolres Baubau memang cukup jauh. Namun semua itu dikarenakan kondisi korban yang drop pasca mengalami luka. “Korban demam sampai tidak bisa bergerak akibat itu (luka),” katanya.

Dugaan kekerasan yang diakibatkan peluruh karet pada lengan korban,lanjut dia, berdasarkan keterangan dari teman-teman korban saat aksi. Kemudian ukuran luka korban yang membentuk lubang kecil. “Ditambah lagi saat kita bawa di klinik Murhum, perawatnya bilang kita periksa dulu. Karena bentuk lukanya kemungkinan peluru karet. Namun setelah diperiksa tidak ditemukan peluru yang tertinggal di dalam,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif LBH Pospera Kepulauan Buton menambahkan saat melakukan aksi ujuk rasa di Kantor DPRD Baubau Jumat (9/10), korban mengenakan almamater kuning dan kini telah diserahkan ke Polres Baubau. Meski almamater yang digunakan korban tidak sobek, namun indikasi luka yang derita korban disebabpkan peluru karet cukup kuat.

“Untuk sobekkan pada almamater memang tidak ada. Hanya saja, ada bekas lingkaran pada bagian situ (lengan almamater bagian luka korban). Analisis saya, peluru karet inikan tidak tajam, kemudian badan korban kecil dan almamater agak lebar (longgar). Jadi memang hanya memukul kedalam dan tidak sobek. Terkecuali mungkin dia pres itu baju almamater dengan lengan, ada kemungkinan bisa sobek,” ucapnya.

Untuk itulah, ia meminta pihak kepolisian dapat mengusut dan menindak lanjuti laporan tersebut. “Kami harap laporan kami bisa ditindaklanjuti sampai tuntas,” tutupnya. (b/ahi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy