Kampanye Tatap Muka Lebih Diminati

KENDARIPOS.CO.ID — Tahapan kampanye Pilkada 2020 telah berjalan 10 hari. Data Bawaslu RI menunjukkan, kampanye tatap muka dengan pertemuan terbatas masih menjadi metode yang paling diminati peserta Pilkada. Dugaan pelanggaran paling banyak adalah pelanggaran protokol kesehatan.

Fritz Edward Siregar

Data dari 270 daerah gelar Pilkada, Bawaslu mendapati kampanye tatap muka masih diselenggarakan di 256 kabupaten/kota. Hanya 14 kabupaten/kota yang tidak terdapat kampanye tatap muka pada 10 hari pertama.

Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar menjelaskan, di 256 kabupaten/kota tersebut, terdapat 9.189 kegiatan kampanye dengan metode tatap muka pertemuan terbatas. Dalam pengawasannya terhadap ribuan kampanye itu, Bawaslu menemukan 237 dugaan pelanggaran protokol kesehatan di 59 kabupaten/kota.

“Atas pelanggaran tersebut, dilakukan tindakan pembubaran terhadap sebanyak 48 kegiatan. Selain itu, Bawaslu juga melayangkan sebanyak 70 surat peringatan tertulis. Bawaslu juga memetakan peningkatan pasien positif terinfeksi Covid-19 di daerah-daerah yang masih terdapat kampanye tatap muka,” kata Fritz.

Meski ada penambahan jumlah pasien di daerah yang terdapat kampanye tatap muka, di beberapa daerah lain, terjadi pengurangan jumlah pasien. Sebaliknya, metode kampanye yang paling didorong untuk dilakukan di masa pandemi, yaitu kampanye dalam jaringan (daring) justru paling sedikit dilakukan.

Kampanye daring, yaitu dengan pembuata laman resmi pasangan calon, menyebarkan konten di akun resmi media sosial, konferensi virtual, dan penayangan siaran langsung kegiatan kampanye hanya ditemukan dilakukan di 37 kabupaten/kota. Sisanya, 233 kabupaten/kota tidak didapati terlaksana kampanye dengan metode daring.

Analisis Bawaslu, kampanye dalam jaringan masih minim diselenggarakan karena beberapa kendala. Di antara kendala itu adalah jaringan internet di daerah yang kurang mendukung, keterbatasan kuota peserta dan penyelenggara kampanye, keterbatasan kemampuan penggunaan gawai peserta dan penyelenggara kampanye, keterbatasan fitur dalam gawai, dan kurang diminati sehingga diikuti poleh sedikit peserta kampanye.

Metode kampanye lainnnya adalah pemasangan alat peraga kampanye (APK). Metode ini dilakukan di 178 kabupaten/kota. Sedangkan di 92 kabupaten/kota, Bawaslu tidak menemukan alat peraga kampanye pada 10 hari pertama tahapan Kampanye. (fin)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.