Kampanye Politik Virtual, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Kampanye Politik Virtual, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Setelah pasangan calon (paslon) ditetapkan, maka kini memasuki tahapan kampanye. Jika melihat tahapan, dimulai 26 September sampai 5 Desember 2020. Kampanye politik adalah upaya terorganisir yang dilakukan oleh suatu kelompok yang bermaksud membujuk orang lain agar menerima, memodifikasi, atau meninggalkan ide, sikap, praktik, dan perilaku tertentu.

Prof. Dr. Eka Suaib

Kampanye politik saat pilkada kali ini karena dilakukan pada saat pandemik Covid-19 masih mewabah. Regulasi KPU mengatur bentuk kampanye yakni dalam bentuk pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, debat publik, penyebaran bahan kampanye, pemasangan alat peraga kampanye, penayangan iklan kampanye di media cetak, media massa elektronik, media sosial (medsos), dan atau media dalam jaringan (daring/online/virtual).

Dari sekian banyak bentuk kampanye politik, yakni penggunaan media sosial dan media daring, merupakan salah satu alternatif. Pilihan bentuk seperti itu berkelindan dengan meningkatnya penggunaan medsos dan media daring dalam politik.

Ada fenomena internetisasi. Jumlah pengguna internet di Indonesia sudah berlipat-lipat dibanding pada tahun 2000-an. Jumlah pengguna internet secara keseluruhan tumbuh bersamaan dengan jaringan sosial digital yang terbentuk secara massif. Pertumbuhan itu juga seiring dengan meningkatnya kelas menengah di Indonesia.

Netizen juga sudah terbentuk secara signifikan. Dalam skala dunia, orang Indonesia dikenal sebagai pengguna facebook keempat terbesar dan pengguna Twitter terbesar kelima. Studi Lim (2011) bahkan menyebut Jakarta sebagai ‘Kota Twitter’ di dunia. Akibatnya, menggeser partisipasi politik pada komunitas online menggeser media konvensional.

Pertanyaan paling mendasar adalah, apakah aktivitas pada dunia maya dapat memainkan peran dalam isu-isu selama kampanye saat pilkada nantinya? Apakah para tim sukses (timses) dapat menjadikan medsos dan media daring dalam memengaruhi perilaku pemilih? Apa sajakah syarat dan kondisi yang diperlukan agar para pemilih menggunakan hak pilihnya? Mungkinkah medsos dan media daring dapat lebih besar berperan dalam meningkatkan partisipasi politik di pilkada ini?

Penggunaan medsos, memungkinkan para calon menunjuk buzzer dan influencer. Perannya, yakni melakukan marketing politik, melakukan pembelaan terhadap pasangan calon yang didukung. Fungsi buzzer yakni bekerja untuk menjatuhkan serta menjelek-jelekkan pasangan-pasangan calon lainnya, termasuk menyerang dengan ujaran kebencian dalam berbagai bentuk.

Para calon kadang memanfaatkan buzzer, dan bisa jadi pengguna medsos lebih percaya pada informasi yang disampaikan oleh buzzer dari pada konten baliho di pinggir jalan. Kerja buzzer ini dinilai cukup berhasil karena hanya sekali saja memposting sebuah informasi tentang salah satu pasangan calon melalui dunia virtual, pesan ini kemudian akan ditanggapi riuh oleh para netizen baik yang pro maupun kontra.

Jadi, jangan remehkan kekuatan kata-kata. Tidak salah, Napoleon Bonaparte lebih takut dengan kata-kata daripada moncong senjata. Apalagi jika kata-kata tersebut dibalut dengan propaganda. Josef Goebbels, Menteri Propaganda pada masa Adolf Hitler mengungkapkan : kata-kata bohong yang diulang berkali-kali, maka akan menjadi kebenaran dan dipercaya publik.

Demikianlah, dunia virtual sebagai suatu ruang partisipasi publik baru, masih terjadi paradoks. Belum lagi ditambah dengan jaringan internet yang belum merata di tanah air. Akibatnya, terjadi kesenjangan, aktivitas virtual tidak merata. Fenomena seperti itu, maka menjadikan virtualitas masih mengaburkan antara dunia nyata dengan dunia maya.

Pilpres tahun 2019 memberi contoh terhadap ekses riuhnya di dunia virtual masih membekas hingga saat ini. Maka, kini dibutuhkan modifikasi politik dalam ruang virtual, terutama pada masa kampanye saat pilkada perlu dilakukan. Aktivis, dan elite parpol perlu untuk berbenah. Saat ini, politik, bukan hanya pada level di ‘fisik’, tetapi juga dunia virtual.

Pergeseran tersebut, maka membutuhkan konten kreatif, sekaligus baru dan inovatif. Kontennya, bukan hanya sekadar mengampanyekan usaha untuk merebut simpati, tapi banyak khalayak terdampak pandemi yang membutuhkan dukungan kesehatan, ekonomi dan sosial.

Kita harapkan melalui kampanye politik virtual dapat meningkatkan partisipasi politik pada saat pilkada. Bukan apa-apa, berdasarkan data yang ada pada negara-negara yang melaksanakan pemilu pada saat pandemik, sebagian besar mengalami penurunan partisipasi politik. Ada juga negara yang meningkat angka partisipasi politiknya, tapi tidak sebesar dari angka penurunan partisipasi politik saat pandemik. Secara teoritik itu memungkinkan, karena para tim dapat menulis blog menjadi materi kampanye. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy