Jangan Pusingkan Redefinisi, Optimalkan Perkara Mitigasi, Oleh : drg. Endartini Kusumastuti – Kendari Pos
Opini

Jangan Pusingkan Redefinisi, Optimalkan Perkara Mitigasi, Oleh : drg. Endartini Kusumastuti


KENDARIPOS.CO.ID — Beberapa minggu terakhir ini, dunia medis masih diliputi kegamangan. Terlepas dari kompleksitas mitigatsi COVID 19 yang masih jauh dari optimal, muncul statement dari pejabat mengenai perubahan definisi kematian akibat Covid. Entah apa yang melatarbelakangi perihal tersebut, disinyalir karena tidak adanya penurunan kurva penderita Covid di Indonesia hingga kini.

drg. Endartini Kusumastuti, Praktisi Kesehatan Masyarakat Kota Kendari. Alumni FKG Universitas Airlangga

Bahkan korban meninggal makin meningkat. Ini yang akhirnya membuat semua orang dibuat bingung apakah korban yang meninggal betul-betul karena virus ini ataukah yang lain. Maka berangkat dari hal tersebut, muncul wacana untuk mengubah definisi kematian.

Pengubahan definisi kematian terkait covid-19 akan berdampak pada angka kematian dalam pandemi ini. Angka kematian dipastikan akan menurun namun ini bersifat semu. Epidemiolog Masdalina Pane mengatakan penurunan bersifat semu lantaran pasien suspek dan probable yang meninggal tidak masuk dalam perhitungan data kematian covid-19.

Bahkan menurutnya saat ini Indonesia belum memasukkan data kasus kematian pada pasien probable dalam kasus kematian covid-19. Padahal standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) kasus kematian suspek dan probable masuk dalam kasus kematian covid-19.

Meski sempat dibantah oleh staf ahli Menteri Kesehatan bidang Ekonomi Kesehatan Mohamad Subuh, namun terlihat bahwa persoalan mengenai definisi kematian ini hanyalah perkara teknis di lapangan. Belum ada perubahan kebijakan yang dilakukan pemerintah guna menangani penyebaran COVID yang semakin hari semakin meningkat. Padahal dalam sepekan, kematian akibat virus ini meningkat 18,9%.

Mengubah definisi angka kematian bagaikan strategi menyelamatkan kapabilitas pemerintah yang sudah memburuk akibat pandemi. Sikap peremehan di awal kasus corona, lalu merespons dengan jawaban receh, dan akhirnya kebingungan menghadapi kasus yang makin tak terkendali. Indonesia kehabisan strategi.

Alih-alih mengevaluasi kinerja, pemerintah malah sibuk tebar pesona. Menggiring narasi keberhasilan dengan pelaporan angka kesembuhan yang terus meningkat. Mereka selalu terdepan menyampaikan peningkatan angka kesembuhan Covid-19. Di saat yang bersamaan, mereka tetap menutup mata atas angka penularan dan kematian yang cukup miris.

Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Laura Navila Yamani angkat bicara mengenai definisi kematian COVID-19. Ia menyebut kematian COVID-19 yakni semua kasus kematian pasien yang terkonfirmasi positif Corona dan pasien dengan kasus probable. Laura menjelaskan kasus probable yakni orang yang diyakini memiliki penyakit gagal nafas (ISPA berat) akibat aveoli paru-paru yang penuh dengan cairan (ARDS). Atau meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 dan belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

Adanya kasus probable, sebut Laura, karena kapasitas pemeriksaan Corona di Indonesia yang belum maksimal. Artinya, pemeriksaan swab Corona belum dapat mengeluarkan hasil yang real time. Agar definisi kematian hanya mengarah kepada pasien positif Corona, maka pemerintah perlu mengevaluasi pemeriksaan tes swab.

Bukan bermaksud menurunkan optimisme kita mampu mengatasi pandemi. Hanya saja pemerintah tidak jujur menyampaikan kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia. Tidak jujur dalam arti tidak menyampaikan kondisi apa adanya. Angka penularan tinggi berimbas pada ambruknya sistem dan layanan kesehatan. Fakta di lapangan telah membuktikan bagaimana mitigasi yang dilakukan pemerintah memang tidak optimal. Alih-alih mencegah penyebaran virus, kebijakan new normal yang diterapkan justru menjadi bumerang tersendiri. Angka penderita yang positif justru mengalami peningkatan.

Kondisi inilah yang harusnya menjadi perhatian pemerintah, bagaimana agar penyebaran virus bisa terminimalisir. Dengan indikasi berkurangnya jumlah penderita yang terkonfirmasi positif, berkurangnya korban meninggal dan terlayaninya pasien di rumah sakit rujukan. Jika sistem manajemen kesehatan negeri ini berjalan baik, maka bisa diprediksi penyebaran Covid akan berkurang. Bukan disibukkan dengan perubahan definisi kematian yang hanya berbicara soal teknis angka numerik dalam laporan.

Sistem kapitalisme-sekuler telah menggerus nurani dan pemikiran penguasa. Tak mau ambil pusing dengan berpikir strategi layaknya negarawan sejati. Mereka hanya peduli untung rugi ekonomi. Tanpa berempati nyawa dan kesehatan rakyat mestinya menjadi major priority. Mestinya pandemi menyadarkan kita. Islam memiliki solusi fundamental dalam mengatasi wabah. Kesehatan dan keselamatan rakyat adalah prioritas utama. Upaya itu bisa dilakukan dengan: Pertama, karantina wilayah.

Memisahkan yang sehat dengan yang sakit. Kedua, memfasilitasi setiap rumah sakit dengan fasilitas dan layanan kesehatan yang memadai. Ketiga, mendorong para ilmuwan untuk menemukan obat dan vaksin penyakit dengan dukungan penuh dari negara. Keempat, memberikan gaji layak kepada para nakes dan dokter sebagai garda terdepan melayani pasien. Kelima, mengedukasi dan memotivasi masyarakat dengan keyakinan penuh bahwa segala penyakit pasti ada obatnya. Masyarakat diminta berikhtiar dan bertawakal menjaga kesehatan. Semua itu bisa terwujud secara terstruktur dan sistematis manakala sistem Islam diterapkan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy