Jangan Berpikir Uang di Jembatan Teluk, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Jangan Berpikir Uang di Jembatan Teluk, Oleh : La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Saya membayangkan, akan ada paparan ide anak buah begini: Pak, volume arus kendaraan di Jembatan Teluk segini, segini, segini. Volume pejalan kaki, begini begitu. Saya ada ide. Di pintu masuk Jembatan didudukkan satu dua staf untuk menarik retribusi. Pendapatan daerah bisa lumayan, dari pejalan kaki lumayan, kendaraan apalagi.

La Ode Diada Nebansi

Kalau ada ide seperti itu, jawab saja: Stop. Barenti bicara. Jembatan ini untuk kesejahteraan dari sektor perasaan dan wisata gratis bukan kesejahteraan akibat pendapatan. Jadi, stop.

Jangan berpikir uang di Jembatan Teluk. Biarkan masyarakat menikmati kemajuan karena saya tahu, belanja kita tak akan kurang tanpa uang retribusi itu. Pun, kita tak akan bertambah maju oleh karena belanja dari retribusi itu. Mencapai kesejahteraan rakyat tanpa membebani rakyat, jauh lebih happy ketimbang kesejahteraan dengan membebani masyarakat.

Ketahuilah bahwa dengan tidak berpikir duit di Jembatan Bahteramas, imun masyarakat jauh lebih kuat ketimbang imun orang yang terbebani. Lihatlah Bali, seluruh tempat wisata yang membuat kalian happy, tak satupun ditarik bayaran. Tapi, pendapatan akibat kunjungan wisata, luar biasa. Dari mana? Dari margin belanja wisatawan yang banyak itu. Artinya, destinasi wisata gratis yang kemudian berefek pada banyaknya kunjungan wisatawan, lalu efek lanjutannya ada pada meningkatnya belanja di sektor
riil, UMKM tumbuh, dlsb.

Bedakan dengan destinasi wisata kita. Buang air saja harus merogoh kantong hingga 15 ribu. “Ampun Mas. Nggak dua kali saya ke sini. Alamnya indah, tapi, rekosonya itu lho. Kami sekeluarga datang 30 orang, setelah diakumulasi, lebih mahal biaya buag air ketimbang biaya transport ke tempat ini,” begitu keluhan salah seorang wisatawan. Artinya, memang, kamu banyak dapat uang retribusi tapi, wisatawan bersumpah: “nggak dua kali aku ke sini, Mas.”

Jangan berpikir duit di Jembatan Teluk. Biarkan masyarakat menikmatinya. Biarkan masyarakat terpapar dengan pemikiran kreatif mereka di destinasi baru itu. Biarkan berpikir kreatif bisnis seperti juga kreativitas seorang pedagang asongan di Jembatan Barelang. Motor roda dua disulap menjadi kios berjalan. Rangkaian besi holo sedemikian rupa lalu dibautkan di rangka kendaraan yang akhirnya menjadi kios bermotor. Dlsb.

Jangan berpikir uang di Jembatan Teluk. Tapi, berpikirlah bahwa arus kunjungan wisata di Jembatan Teluk tak akan pernah surut. Sebaliknya, bertambah, bertambah, dan bertambah. Ini pengalaman. Jangankan ketinggian jembatan yang memberikan pemandangan teluk, gunung, permukiman di perbukitan Gunung Potong hingga Gunung Jati, permukiman di perbukitan Abeli hingga Nanga-nanga yang eksotik, ketinggian di bukit Benu-benua saja sudah memberikan pemandangan indah, dan karena itulah, saya acap kali mampir di rumahnya La Bani, di bukit Tahura walau harus berjalan kaki di gang yang sempit depan Rumah Makan Pekalongan. Tapi, indahnya pemandangan.

Jangan berpikir uang di Jembatan Teluk dan, tunggulah Lapulu dan sekitarnya membenahi diri sebagai daerah maju, daerah yang padat tertata. Dan, nantikan peluang-peluang bisnis baru di antara Lapulu dan Sanggula. Karena itu, jika fokusmu pada retribusi maka refokusinglah pada pengembangan ekonomi dan bisnis di sektor riil.

Hal lain, saya ingin mengatakan seperti ini. Perjuangan membangun Jembatan Bahteramas ini tidak gampang. Berat. Hebat tantangannya. Kalimat-kalimat pesimis ketika itu banyak bermunculan.

Misalnya begini: “Ngapain Nur Alam bangun jembatan mahal hanya untuk menghubungkan Lapulu dan Sanggula?”. Saya tidak tahu siapa ngomong begitu, tapi, tebakan saya, kira-kira yang ngomong ini adalah orang yang sering melintas di poros Raha-Wakuru yang kalau melintas di poros ini, ibarat melintas di Pulau Cempedak di musim timur.

Kalimat pesimis lain, misalnya begini juga: “Tidakkah Nur Alam berpikir untuk mempertahankan kota tua dan titik nol Kendari hanya karena jembatan yang tak produktif itu”? Yang ngomong begini pun saya ndak tahu. Tapi, bayangan saya, kira-kira orang ini mungkin pro budaya.

Tapi, saya justru memikirkan, kira-kira bagaimana nasib tukang pijatnya. Terutama, Mbak Tatik, dimana dia sekarang. Jangan-jangan sudah pulang di Malang. Tapi, Mbak Tatik jangan ragu, karena sudah ada teman yang siap “pen” di sana. Tapi ini hanya dalam hatiku. Kalau dalam hatinya kawan di Poasia cukup atraktif: “Poohh, motahamburmi tukang pijat setelah Kota Lama hilang”.

Misalnya lagi: “Lebih bagus membangun Jembatan Muna-Buton ketimbang Jembatan Teluk”. Ini juga saya ndak tahu, siapa yang ngomong. Tapi, ada kalimat seperti itu. Dalam hatiku: “Bisa”. Sambil melekatkan ujung jari telunjuk di jidatku, saya menggumam: “Mmmmaso akal”.

Kalimat-kalimat pesimis itu ternyata ibarat orang yang memprotes MUSIM yang akan menggugurkan daun, tapi MUSIM acuh dan terus menjalankan rencananya. Ternyata, setelah MUSIM menggugurkan daun, masih diikuti dengan putik berbunga lalu muncul buah. Karena itu, jangan protes gugurnya daun karena kelak, buah akan mengikut.

Kembali ke Reff.

Jangan berpikir duit di Jembatan Teluk. (nebansi@yahoo.com)

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy