Jalan Rawua Tak Jua Tuntas : Antrean Masih Mengular, Masyarakat Meradang – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Jalan Rawua Tak Jua Tuntas : Antrean Masih Mengular, Masyarakat Meradang


KENDARIPOS.CO.ID — Jalan nasional di Rawua, Kecamatan Sampara tak kunjung tuntas hingga kini. Padahal proyek jalan itu mulai digarap medio tahun 2019 dan sejatinya tuntas Desember 2019. Setahun lebih digarap namun progres pekerjaan jalan nasional itu baru sekira 82 persen.

Pengguna jalan yang hendak melintas di akses alternatif, jembatan bailey harus mengantre. Antrean mengular berjam-jam di akhir pekan. Kondisi itu membuat masyarakat meradang.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Satker Penanganan Jalan Nasional (PJN) Wilayah II Sultra, Lukas Barthimeus mengatakan proyek jalan tersebut kini ditangani kontraktor kedua yakni PT.Aneka Sukses Reksa Graha. Pengerjaan jalan nasional masih terusdioptimalkan. Pasalnya, saat ini pengerjaan dilakukan oleh kontraktor kedua dari PT Aneka Sukses Reksa Graha.

Jalan nasional di Desa Rawua, Kecamatan Sampara tak kunjung tuntas sejak mulai dikerjakan setahun lalu. Antrean panjang masih sering terjadi diakhir pekan oleh pengguna jalan yang hendak melintas di jembatan bailey. Warga Kecamatan Sampara dan penguna jalan lainnya mengeluhkan lambannya pengerjaan jalan tersebut.

“Perpanjangan (kontrak) kita target sekitar Desember rampung. Dengan sisa anggaran untuk kontraktor kedua ini sekira Rp.4,8 miliar. Progresnya sudah mencapai 82 persen,” ujar Lukas Barthimeus saat dihubungi Kendari Pos, Minggu (25/10) kemarin.

Lukas Barthimeus merinci item yang sedang digarap saat ini yakni cross drain (saluran drainase bawah tanah). Dua unit cros drain akan dipasang. “Kita akan ratakan. Setelah itu, jembatan darurat akan kita bongkar setelah selesai menimbun cros drain. Sebab, dikawasan itu terdapat pipa PDAM. Kami tidak bisa menimbun jika tidak ada pihak PDAM,” jelasnya.

Pada Juli lalu, kata Lukas, proses pengerjaan jalan sempat terhambat akibat terpaan cuaca yang tidak bersahabat. Sehingga pihak kontraktor tidak bisa memaksakan menimbun saat hujan, terlebih sebelumnya sempat banjir. “Kita bersyukur, saat ini semua pekerjaan terus berjalan. Para kontraktor terus bekerja memaksimalkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan jalan ini,” tutur Lukas

Soal masih maraknya antrean mengular, Lukas mengatakan antrean itu dipicu karena hanya jembatan bailey satu-satunya akses alternatif. “Memang tidak bisa kita pungkiri itu. Puncak kemacetan (antrean) terjadi setiap hari Sabtu. Namun kami ada pengendalian juga di situ, kami kerja sama dengan personel Ditlantas. Biasanya enam orang Ditlantas bersama tim kami. Selain itu kami memakai tenaga flagman (penjaga lalu lintas atau pengontrol lalu lintas) untuk mengatasi antrean,” ulasnya.

Lukas mengakui jembatan bailey sempat miring. Jembatan miring dipicu saking padatnya kendaraan yang melintas. “Kita sudah naikan salah satu sudut yang miring. Kami berharap masyarakat tidak memaksakan kendaraannya melintas jika kapasitasnya melebihi 10 ton. Tak boleh lebih 10 ton,” pinta Lukas.

Pihaknya pernah mengingatkan pengguna jalan yang kendaraannya melebihi kapasitas 10 ton, namun direspons kurang baik. “Ada beberapa masyarakat bila diberitahu malah mengamuk. Portal yang sudah kami bikin malah dirusak. Tiang portal rusak, akibat kendaraan yang tak sesuai tonase dipaksakan masuk,” tutup Lukas.

Terpisah, Rilan (26), salah seorang warga Kecamatan Sampara masih diliputi dengan rasa heran, sebab proses pengerjaan jalan permanen di kampungnya sangat lambat. Padahal, sepengetahuannya, jalur tersebut berstatus jalan nasional dan menjadi akses vital bagi kendaraan dari arah Kota Kendari menuju Kabupaten Konawe, Konut, Kolaka, Koltim, Kolut, ataupun sebaliknya.

Rilan yang sehari-harinya bekerja di salah satu tempat hiburan malam (THM) di Kota Kendari, mengaku, kadang harus berjibaku dengan kendaraan lain jika hendak melewati jembatan darurat di Rawua yang berukuran kecil. Wajar saja, letak kediamannya di kompleks Pasar Sampara membuatnya tak punya banyak pilihan selain melewati jembatan bailey tersebut.

“Tidak ada pilihan, terpaksa kita lewat di situ saja. Kadang bikin malas juga kalau mau pulang pergi rumah ke tempat kerja. Sudah macet, banyak debu lagi. Kita tidak tahu juga kapan selesai itu jalan,” ungkap Rilan kepada Kendari Pos, Minggu (25/10) kemarin.

Warga lain asal kota Kendari, Muhammad Tonasa (28), menyebut, pihak pengelola jalan nasional di Sultra mestinya sigap menuntaskan pengerjaan akses lintas provinsi di Desa Rawua Kecamatan Sampara itu. Ia mengaku, tak tahu persis apakah penganggaran perbaikan jalan Rawua oleh pihak BPJN XXI Kendari itu terdampak pandemi atau tidak. Yang jelas, pihak yang mempunyai kewenangan mestinya bertanggungjawab menuntaskan jalan yang sudah lebih setahun dikerjakan tersebut.

Kata Muhammad Tonasa, pastinya banyak pihak yang dirugikan akibat lambannya proses pengerjaan jalan permanen di Desa Rawua itu.

“Kasihan warga yang hendak melintas di jembatan itu, sudah satu tahun menjalani ritual mengantre. Saya bayangkan kalau ada kondisi emergency, pasti stres juga lewat di situ. Kadang kita bertanya-tanya juga sebenarnya apa kendalanya itu jalan tidak kelar-kelar,” kesal pria yang mengaku kerap bolak-balik Kendari-Konawe itu. (rah/adi/b)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy