Jadikan Bungkutoko-Petoaha Lokasi Wisata, Pemkot Kendari Diapresiasi DPR

KENDARIPOS.CO.ID — Penataan kawasan Bungkutoko-Petoaha bakal memberikan efek domino bagi pembangunan peradaban perekonomian masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra). Khususnya yang berdomisili di Kota Kendari. Kawasan ini, tidak hanya akan dipoles lebih indah supaya kesan kumuhnya hilang. Lebih dari itu, akan membuka jalan untuk menumbuhkan ekonomi baru.

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir (dua dari kanan) berbincang dengan Anggota Komisi V DPR RI, Ridwan Bae saat memantau progres penataan Kawasan Bungkutoko-Petoaha.

Meski dulunya kumuh, namun kini Bungkutoko-Petoaha bisa menjadi kawasan “emas” (baca: Strategis). Sebab, di tempat itu, Pemerintah Kota Kendari bersama Kementerian PUPR akan membangun tempat bersantai, wisata kuliner, ruang terbuka hijau, taman Petoaha, dermaga, jogging track, dan Kampung Kerang. Semua itu akan menjadi pembuka jalan, lahir dan bertumbuhnya perekonomian masyarakat di kawasan tersebut.

Kondisi dan potensi ekonomi kawasan Bungkutoko-Petoaha dijelaskan Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir saat mendampingi rombongan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI berkunjung di kawasan tersebut. Menurut Sulkarnain, kawasan Bungkutoko – Petoaha, sebelumnya merupakan salah satu kawasan kumuh di Kota Kendari.

“Namun melihat potensinya, kami terdorong merubahnya menjadi kawasan layak huni. Bahkan, menjadi spot wisata baru di Kota Kendari khususnya dan Sultra secara umum,” ungkap Sulkarnain saat berbincang dengan anggota Komisi V DPR RI, Ridwan Bae beserta jajaran.

Politisi PKS ini menambahkan, penataan kawasan Bungkutoko – Petoaha di Kecamatan Abeli mengusung konsep pengembangan daerah tepian air. Berupa tepi pantai, sungai ataupun danau (Waterfront City). Dengan konsep itu, pihaknya yakin dapat mengubah wajah Bungkutoko-Petoaha menjadi lebih baik. Dan tentunya bisa menumbuhkan ekonomi baru sehingga meningkatkan taraf hidup masyarakat.

“Konsep ini adalah mengembangkan potensi sumber daya kawasan pesisir. Mulai dari Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Daya Air (SDA) hingga menjadi tempat wisata baru. Kita akan bangun tempat bersantai, wisata kuliner, ruang terbuka hijau, taman Petoaha, dermaga, jogging track, dan Kampung Kerang,” jelas suami Sri Lestari ini.

Lebih jauh Sulkarnain menjelaskan, progres penataan kawasan Bungkutoko-Petoaha sudah mencapai 85 persen. Ditargetkan tuntas November tahun ini. Dia merinci, khusus kawasan Bungkutoko, yang ditata luasnya 38,40 hektar. Secara fisik progresnya sudah mencapai 85 persen. Serapan anggarannya mencapai 80 persen. Adapun anggaran yang dikucurkan pemerintah sebesar Rp 23,26 miliar (sesuai isi kontrak).

Sementara untuk kawasan Petoaha, lanjut Sulkarnain, luas penataannya sama dengan kawasan Bungkutoko yakni 38,40 hektar. Secara fisik progresnya sudah mencapai 85 persen. Serapan anggarannya sudah mencapai 80 persen dari anggaran Rp 16,67 miliar yang telah dianggarkan pemerintah melalui Program Kotaku.

Penataan kawasan Bungkutoko-Petoaha dikemas dalam Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Program ini bekerja sama dengan Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Sultra. Dihadapan 13 anggota Komisi V DPR RI, Sulkarnain memaparkan progres Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Dirinya manfaatkan kunjungan Aleg Senayan itu untuk mendapatkan support program-program pembangunan ke depannya.

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulawesi Tenggara (BPPW Sultra), Mustaba berjanji akan menyelesaikan pekerjaan kawasan kumuh di Bungkutoko dan Petoaha dengan sebaik-baiknya. “Kami terus bekerja dengan hati-hati. Pekerjaan ini sumber dananya dari World Bank. Kami upayakan, pekerjaan ini terus terkontrol. Harus dipastikan progres dan kualitasnya. Sesuai dengan rencana wali kota, ke depannya, kawasan ini akan menjadi lokasi wisata kuliner,” kata Mustaba.

Anggota Komisi V DPR RI, Ridwan Bae mengaku takjub dengan perubahan yang terjadi di kawasan Bungkutoko dan Petoaha. Menurutnya, telah terjadi sebuah gebrakan spektakuler dari Pemkot dan BPPW Sultra. Bisa mengubah sebuah kawasan yang dahulunya kumuh menjadi sebuah kawasan wisata.

“Gebrakan pemkot dan balai patut diapresiasi. Ini patut dicontoh dan diduplikasi daerah lain. Supaya daerah kita bisa maju dan setara daerah lain di Indonesia,” kata Ridwan. Dirinya berharap, setiap orang dan kelompok yang mengajukan pembangunan perumahan di kota ini harus memikirkan drainasenya. “Saya berharap, wali kota mengambil langkah-langkah agar tidak terjadi dampak lingkungan dari kekumuhan,” imbuhnya. (b/ags)

Gebrakan Cerdas Pemkot Kendari

-Sulap kawasan kumuh jadi spot wisata
-Buka ruang perekonomian baru
-Bisa jadi kawasan layak huni

Kawasan “Emas” Bungkutoko-Petoaha
-Pemkot bakal bangun tempat bersantai
-Lokasi wisata kuliner
-Ruang terbuka hijau
-Taman Petoaha
-Dermaga
-Jogging track
-Kampung Kerang

Konsep Pembangunan Kawasan
-Usung konsep pengembangan daerah tepian air
-Berupa tepi pantai, sungai ataupun danau
-Mengembangkan potensi sumber daya kawasan pesisir

Progres Penataan Kawasan

*Kawasan Bungkutoko
-Lokasi ditata luasnya 38,40 hektar
-Progres fisik mencapai 85 persen
-Serapan anggaran mencapai 80 persen
-Anggaran dikucurkan Rp 23,26 miliar
-Ditarget tuntas November

*Kawasan Petoaha
-Lokasi ditata luasnya 38,40 hektar
-Progres fisik mencapai 85 persen
-Serapan anggaran mencapai 80 persen
-Anggaran dikucurkan Rp 16,67 miliar

Sumber Data: Diolah Kendari Pos

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.