Hidup Damai Dalam Dua Skenario, Oleh : Dr.Dewi Maharani


KENDARIPOS.CO.ID — Setiap manusia alamiahnya memiliki harapan dan cita-cita dalam hidupnya tak terkecuali. Tentu saja harapan dan cita-cita yang sangat umum adalah akan menjadi orang bahagia dan mampu membahagiakan orang lain. Kata bahagia yang banyak diceritakan dan menjadi tujuan dari banyak orang, salah satunya mungkin kita. Di dalam hari-harinya, orang berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan diri sendiri.

Ketika orang bekerja, apa yang mereka cari? Bukan hanya sekedar uang, namun kebahagian yang bisa diwujudkan dengan jerih payah mereka. Setiap orang sepertinya mempunyai ragam jawaban yang berbeda. Tergantung sudut pandang, kondisi dia saat ini, latar belakang, masa lalu atau harapan-harapan dimasa depan, dan lain sebagainya.

Mungkin ada yang menjawab : ”Bahagia itu ketika kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan“ atau ada yang menjawab “Bahagia itu ketika kita meraih kesuksesan” atau “Bahagia itu ketika kita bisa membahagiakan orang-orang yang kita cintai”.

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

Perasaan bahagia itu tentu berbeda-beda. Bagi orangtua misalnya mungkin bahagia itu ketika melihat anak-anaknya tumbuh sehat, cerdas, dan menjadi anak yang saleh. Atau bagi sang peraih impian, bahagia itu adalah ketika dia mendapatkan kebebasan financial sehingga kita bisa berbuat banyak untuk dirinya dan banyak orang.

Demikian juga mungkin ketika seorang petani melihat sawahnya menguning subur bertumbuh, atau seorang ibu yang bahagia ketika makanannya habis dilahap oleh suami dan anak-anaknya, atau ketika seorang supir angkot yang bahagia ketika uang hasil tarikannya cukup untuk membayar biaya SPP anak-anaknya, atau bagi seorang wanita bahagia itu ketika bisa bersanding dengan laki-laki idamannya.

Intinya adalah tidak ada definisi yang pasti untuk menerjemahkan makna kebahagiaan. Tergantung bagaimana di kondisi manusia tersebut berada. Dalam perjalanannya harapan itu akan dibarengi dengan doa dan usaha. Semua harapan setiap makhluk pasti tidak ada yang buruk dan negatif. Semua memiliki harapan yang baik dan positif. Proses berjalan sesuai dengan nilai usaha yang kita lakukan. Tanpa kita sadari dibalik semua harapan tersebut di sana ada konsep Sang Khalik yang pada hakekatnya akan menjadi sebuah keputusan akhir hasil dari usaha.

Selama ini kadang kita lupa bahwa kodratnya kita sebagai makhluk Ciptaan-Nya hanya berkewajiban untuk berusaha. Tentang hasil dari proses usaha tersebut ada kuasa Tuhan yang tidak bisa diubah yaitu takdir. Penulis merasakan apa yang menjadi dilema publik saat ini, selama ini tidak pernah terbayangkan oleh kita akan terjadi “musibah” wabah Covid-19.

Semua harapan sudah terbangun seiring berjalannya proses kehidupan diberbagai sektor, namun apalah daya manakala Tuhan berkehendak lain atas Takdir-Nya. Seperti yang kita ketahui beberapa sektor pembangunan saat ini terhambat bahkan ada yang langsung diberhentikan akibat dampak pandemi. Adalah skenario Tuhan yang bermain dalam menentukan takdir setiap makhluk di muka bumi ini.

Setinggi apapun harapan dan seoptimal apapun usaha seseorang dalam mengejar harapan dan cita-cita, jika Tuhan berkehendak lain, kita tidak bisa mengelak dan menolak takdir tersebut. Seperti halnya berbagai upaya yang telah dilakukan sebagai solusi agar wabah pandemi ini segra berakhir, namun jika Kehendak-Nya belum bisa menghentikan, artinya kita sebagai makhluk perlu kesabaran yang maksimal untuk menerima semuanya sebagai ujian dengan harapan akan ada hikmah di balik ujian tersebut.

Penulis melihat tidak sedikit hikmah yang bisa didapat dari “musibah” pandemi saat ini, diantaranya: (1). Setiap orang sudah dibiasakan hidup sehat dengan selalu cuci tangan, jaga jarak dan pakai masker, (2). Setiap orang lebih waspada terhadap keadaan orang asing yang akan masuk ke area kita dengan begitu akan meminimalisir risiko penularan penyakit yang dibawa orang lain, (3). Lebih selektif dalam memilih makanan yang berisiko terhadap kesehatan, (4). Membiasakan diri dengan pola hidup sehat yaitu rajin olahraga yang biasanya hal tersebut tidak menjadi prioritas.

Dalam pelaksanaannya di lingkup pemerintahan tidak jarang terjadi protes terhadap kebijakan yang menurut mereka tidak tepat namun dipihak lain menilai keputusan itu sudah tepat. Pro dan kontra dalam penentuan kebijakan hal yang biasa-biasa saja, karena perbedaan itu adalah kekuatan. Dalam menyampaikan pendapat pun tidak dilarang bahkan dijamin oleh peraturan. Perbedaan pendapat yang seperti peran tokoh masyarakat dapat memediasi kedua kelompok agar kesepahaman dapat terwujud dan berita miring terhadap tuduhan terhadap kemurnian demonstrasi itu dapat dijamin.

Hal ini disebabkan karena banyak orang berpendapat bahwa penyampaian pendapat itu itu adalah ditumpangi oleh politik, tetapi tidak banyak orang juga yang berpendapat bahwa objek protes itu adalah mungkin memiliki nuansa politik. Masyarakat perlu diberikan pemikiran postif dari para elit-elit kelompok untuk menjamin bahwa kebijakan yang menjadi objek protes berpijak pada kesejahteraan masyarakat bukan pada pembuat kebijakan itu.

Kebijakan adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi pedoman dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak. Istilah ini dapatditerapkan pada pemerintahan, organisasi dan kelompok sektor swasta, serta individu. Kebijakan berbeda dengan peraturan dan hukum. Jika hukum dapat memaksakan atau melarang suatu perilaku (misalnya suatu hukum yang mengharuskan pembayaran pajak penghasilan), kebijakan hanya menjadi pedoman tindakan yang paling mungkin memperoleh hasil yang diinginkan.

Kebijakan atau kajian kebijakan dapat pula merujuk pada proses pembuatan keputusan penting organisasi, termasuk identifikasi berbagai alternatif seperti prioritas program atau pengeluaran, dan pemilihannya berdasarkan dampaknya. Kebijakan juga dapat diartikan sebagai mekanisme politis, manajemen, finansial, atau administratif untuk mencapai suatu tujuan eksplisit (wilkipedia Indonesia). Pada dasarnya semua kembali pada ketulusan kita menerima apa yang menjadi keputusan dan hasil sebagai skenario yang bias kita ambil nilai positif dan hikmahnya. (*)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.