Dirjen Dikti : Tidak Ada Larangan Mahasiswa Berdemo, Merdeka Bukan Anarki


KENDARIPOS.CO.ID — Direktur Jenderal Pendidkan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nizam memberikan klarifikasi atas surat edaran yang dilayangkan ke seluruh perguruan tinggi pascademo besar-besaran mahasiswa, pelajar, dan buruh atas pengesahan RUU Cipta Kerja.

Sejumlah pengunjuk rasa melakukan aksi di Kawasan Silang Monas

Menurut Nizam, surat edaran tertanggal 9 Oktober 2020 hanya merupakan imbauan untuk tidak perlu demo. “Sebagai intelektual muda, kekuatan mahasiswa harusnya lebih pada kekuatan intelektualitasnya. Melakukan kajian akademik kritis atas produk-produk perundangan dan menyampaikannya ke DPR dan pemerintah maupun mencerahkan masyarakat,” terang Nizam yang dihubungi JPNN.com, Minggu (11/10).

Lanjut Nizam, tujuan surat edaran tersebut untuk mengingatkan agar kampus menjadi lembaga intelektual, garda penjaga kebenaran dengan kemampuan akademik dan kajian ilmiahnya. Membawa mahasiswa menjadi intelektual muda yang kritis.

“Bersikap kritis itu tidak harus dengan turun ke jalan, apalagi di saat pandemi. Dalam SE yang saya tanda tangani itu tidak ada larangan untuk demo,” tegasnya. “Karena kalau sudah di jalan seringkali rasionalitas kalah dengan emosi yang mudah untuk terprovokasi dan melakukan hal-hal yang justru merusak,” sambung Nizam.

Lebih lanjut dikatakan, kampus semestinya menjadi mata air bagi masyarakat dan bangsa. Membawa pencerahan dan kesejukan, membawa optimisme dan spirit untuk kemajuan bangsa dan negara. Dengan tetap kritis terhadap kebijakan-kebijakan sehingga dihasilkan kebijakan-kebijakan yang tepat bagi kemajuan bangsa. Selain itu lebih produktif melalui suara intelektual dari kampus. “Menyampaikan koreksi dan perbaikan dengan kebaikan bukan kerusakan. Merdeka bukan anarki,” cetus Nizam.

Dia kembali menegaskan, kalau mau demo silakan tetapi dengan sadar dan tahu apa yang diperjuangkan. Sebagai orang tua, tambahnya, wajib mengingatkan kampus menjaga kesehatan dan keselamatan warganya. “Kampus adalah garda intelektual bangsa, mestinya kekuatannya ada di kemampuan untuk melakukan analisa kritis akademis,” pungkas Nizam. (esy/jpnn)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.