Dampak Pasti yang Belum Pasti, Oleh : Dr. Dewi Maharani – Kendari Pos
Opini

Dampak Pasti yang Belum Pasti, Oleh : Dr. Dewi Maharani



KENDARIPOS.CO.ID — Dalam perkembangan kehidupan dewasa ini publik sudah tak asing lagi dengan media sosial. Ia diciptakan sebagai alat komunikasi dan memfasilitasi publik agar lebih mudah dalam berbagai hal seperti menggali informasi terkait pengetahuan, bisnis dan lain-lain yang berkaitan dengan berbagai sektor pendukung aktifitas.

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

Pengalaman publik, tentu saja dengan media sosial mungkin membantu kehidupan manusia, apalagi untuk para pebisnis, pedagang online. Semua dengan senang hati bisa memanfaatkan media sosial untuk menawarkan barang dagangan mereka.

Semakin maraknya budaya bermedia sosial di kalangan masyarakat saat ini, menimbulkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan budaya masyarakat pada umumnya. Semakin hari suasana hati semakin “galau” memikirkan segala hal tentang masa pandemik yang tak kunjung berakhir.

Banyak hal yang menjadikan opini tersebut menjadi isu yang bersifat negatif walaupun ada juga sisi positifnya. Semua itu tergantung bagaimana cara pandang kita terhadap masalah yang dihadapi dan dari kacamata mana melihat serta dari sisi mana memosisikan isu tersebut.

Saat ini penggunaan media sosial tidak pandang bulu. Semua kalangan menggunakannya, termasuk anak-anak terkait kewajiban yang saat ini harus dilaksanakan yaitu proses belajar dengan sistem daring (online).

Penulis menilai masih banyak kalangan yang kurang bijak dalam memanfaatkan media sosial sebagai pendukung aspek kehidupan yang bisa dikatakan menjadi bagian terpenting pada era milenial saat ini. Tidak jarang masih banyak ditemukan berita-berita hoaks yang berdampak sangat negatif terhadap siklus kehidupan publik. Apalagi di tengah carut marutnya dinamika sosial di era pandemik saat ini.

Hal yang paling fundamental berdampak terhadap pergeseran budaya masyarakat dan mental bangsa yang terancam rapuh. Dampak negatif media sosial yang bisa muncul adalah berkurangnya kemampuan sosial, seperti berempati terhadap orang lain, dan tidak tahu cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Hoaks atau fake news bukan sesuatu yang baru, dan sudah banyak beredar sejak Johannes Gutenberg menciptakan mesin cetak pada tahun 1439.

Sebelum zaman internet, hoaks bahkan lebih berbahaya dari sekarang karena sulit untuk diverifikasi. Namun hoaks yang akhir-akhir ini dibuat oleh mereka yang suka “usil” menjadi istilah yang menakutkan bagi publik. Berita bohong atau berita palsu atau hoaks (bahasa Inggris: hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hal ini tidak sama dengan rumor, ilmu semu, maupun April Mop.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, hoaks adalah berita bohong atau tidak bersumber. Dalam Oxford English Dictionary, hoaks didefinisikan sebagai “malicious deception” atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat. Sayangnya, banyak netizen yang sebenarnya mendefinisikan hoaks sebagai berita yang tidak disukai bahkan tidak diharapkan adanya berita tersebut.

Masalah media sosial sepertinya akan menjauhkan masyarakat dari kehidupan kultur yang sudah lama berakar di tengah-tengah masyarakat. Hal ini karena akan lebih sering melakukan komunikasi lewat media sosial dibandingkan bertatap muka sebagai budaya yang telah kita lakukan sejak zaman nenek moyang dan perilaku itu hilang di zaman modern ini akibat lahirnya media sosial yang berkembang sejak tahun 1995 dengan lahirnya GeoCities.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang yang mampu menggunakan media sosial dengan baik yang berdampak baik juga terhadap kehidupannya, tetapi kita juga tidak bisa menyangkal bahwa banyak orang yang karena ketidakmampuannya memanfaatkan media sosial dengan bijak, akhirnya mengakibatkan kehidupannya terpuruk bahkan masuk bui.

Jika dilihat dari sisi positif, media sosial sangat efektif untuk menghimpun keluarga, saudara, kerabat yang tersebar, “kehadiran” jejaring sosial ini berperan untuk mempertemukan kembali keluarga atau kerabat yang jauh dan sudah lama tidak bertemu. Lewat dunia maya hal itu bisa dilakukan dan memperluas jaringan pertemanan melalui komunikasi dengan siapa saja. Bahkan dengan orang yang belum kita kenal sekalipun dari berbagai penjuru dunia menjadi lebih bersahabat, perhatian, dan empati.

Sebaliknya dilihat dari sisi negatif tentu saja media sosial akan menjadi susah bersosialisasi karena “kehadirannya” menjadikan seseorang lebih mementingkan diri sendiri. Mereka menjadi tidak sadar akan lingkungan sekitar mereka, karena kebanyakan menghabiskan waktu di internet. Pernahkah kita jalan-jalan atau bepergian dengan seseorang, tetapi orang yang kalian ajak jalan malah asik dengan ponsel dan sosial medianya sendiri sehinga bahasa yang baik dan benar dilupakan?.

Bahkan kejahatan dunia maya pun tak terelakkan semakin merajalela. Kejahatan tersebut dikenal dengan nama cyber crime. Kejahatan dunia maya sangatlah beragam, diantaranya , carding, hacking, cracking, phising, dan spamming bahkan pornograpi pun tak ketinggalan.

Media sosial tidak akan terlepas dari pengaruh positif maupun negatifnya, dampak itu tergantung penggunanya sendiri. Namun publik sendiri dapat membatasi dengan norma dan moral yang baik. Pembentukan karakter sejak dini termasuk saat remaja sangatlah penting bagi masa depan diri remaja itu sendiri dan lebih luas lagi bagi masa depan bangsa. Namun dibalik keuntungan dari sosial media tersebut, tentu tak luput juga dari yang namanya dampak negatif atau buruk.

Untuk pengguna media sosial yang berlebihan tentu saja sangat berpengaruh pada banyak faktor, yang menjadi indikator penyebabnya antara lain: (1) lunturnya nilai budaya silaturahmi, (2) estetika yang mulai tidak terkontrol, (3) minimnya batasan terkait hal-hal yang bersifat normative, dan lain-lain.

Berbicara media sosial memang tidak bisa kita berhitung untung dan ruginya tetapi yang perlu kita pikirkan adalah maukah kita hanya berada dalam kondisi yang tidak pasti dan bodoh tanpa menggunakan teknologi tersebut secara bijak?. Tentu saja proses teknologisasi tidak semudah itu, semakin hari semakin berkembang, tidak bisa kita menutup mata dari perkembangan ilmu pengetahuan karena sesuatu kebutuhan yang pasti dan tidak mudah juga kita meninggalkan kultur yang sudah berakar dalam kehidupan kita.

Mau tidak mau harus mau menerima pergeseran paradigma tersebut. Dunia semakin dekat karena teknologi, namun yang perlu kita sadari adalah memanfaatkan media sosial dengan cara yang bijak dan tempat yang tepat agar semakin bermakna dan berdampak menuju arah kebaikan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy