Catatan dari Kongres Burung Sedunia, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Catatan dari Kongres Burung Sedunia, Oleh : La Ode Diada Nebansi


KENDARIPOS.CO.ID — Andai kamu manusia, saya mau tanya. Sudahlah. Cukup. Waktumu sudah cukup. Untungmu nggak kebayang lagi. Kamu untung, kami buntung. Benar-benar ndak maso di akalku. Kamu ditakuti.

Katanya, kamu mematikan. Tapi, hanya dengan istirahat kamu sirna. Tanpa obat kamu ludes. Katanya kamu mematikan. Mati apa? Mati rasa, yalah. Mereka istirahat saja pasti sembuh. Pasti. Itu pasti.

La Ode Diada Nebansi

Kamu bilang positif, tapi hanya dengan tidur-tidur langsung negatif. O dende. Ecce..ce..ce Waompue. Artinya, saya lebih takut dengan ulat bulu yang disenggol langsung gatal, ketimbang kamu. Gatal ulat bulu masih harus capek mencari minyak gosok untuk menyembuhkannya, sementara kamu, cukup dengan tidur-tiduran di kursi bengkokku made in Bangunsari, 3 km arah tenggara Bonea, Labunti.

Sudahlah. Istirahatlah. Kalau juraganmu belum puas, katakan kepada dia begini: Boss, saya ingin pensiun dini. Saya mau mundur untuk memberikan kesempatan kepada DBD dan TBC.

Boss, kayanya, lebih bernilai ibadah menghambur duit di DBD dan TBC. Katakan kepada dia begini: Boss, kelilinglah ke seluruh penjuru desa dan saksikanlah satu dua penduduk di antara desa itu yang badannya tampak bongkok dan ketika didekati terdengar ngiik… ngiik.. ngiik seiring dengan naik turunnya napas. Kayaknya, itu yang namanya TBC. Boss, beritahukan ke badan dunia, dapatkah “ngik-ngik” ini di-SK-pandemikan?

Sudahlah. Barentimi kasian. Kembalilah ke asalmu. Kalau kamu bertahan, yakinlah, pasti terlibas dengan pandemi lain. Ketika pandemi lain yang berkuasa, maka di situlah kamu akan menyesal dan meminta seperti juga permintaan ini dan tak disahuti. Di saat itu, barulah muncul penyesalan yang luar biasa.

Lihatlah pengalaman menyakitkan peristiwa walk out para mantan penguasa. Dulu, ketika mereka berkuasa, diminta bertindak demi rakyat, bangsa dan negara karena suatu saat nanti mereka juga akan kehilangan kekuasaan dan tak punya daya apa-apa dalam bernegara, tapi, bergeming.

Mereka acuh. Cuek. Di kiranya, kelompok kekuasaannya akan langgeng. Kelompok berkuasa itu kemudian kehilangan kuasa. Kendali kekuasaan beralih. Ketika itu, mereka berbalik menuntut tindakan pro rakyat, bangsa dan negara kepada penguasa pengganti dan diabaikan. Kamu kemudian walk out. Saya tidak terpengaruh dengan walk out-nya tapi pemikiran saya tertuju pada nilai dakwah bahwa: Ketika berkuasa, gunakan kekuasaanmu untuk meluruskan perangai. Ini kesempatan.

Gunakan kesempatan itu sebelum beralih kepada orang-orang yang tak melek tentang “wamal hayaatuddunyaa illa mataa’ul ghuruur”. (dunia ini hanya kesenangan yang menipu. Lihatlah rumah mewah itu ketika awal dibangun sangat mengganggu waktu ibadahmu, orang tuamu.

Apakah rumah mewah itu milikmu? Dulu, yah. Sekarang, bukan. Lalu? Tidakkah merasa rugi ketika waktu ibadahmu terganggu di awal pembangunan rumah mewah itu yang ternyata pada suatu saat nanti ternyata rumah itu sesungguhnya bukan rumahmu? Sesungguhnya, kesenangan dunia ini adalah tipu daya).

Bhohamma. Merambat kemana-manami ini tulisan. Tapi, biarmi. Terlanjurmi. Saya kasi merambatmi juga pada acara Kongres Burung sedunia dan Kongres Hewan Melata sedunia. Di dua acara dengan satu keputusan ini, melahirkan keputusan paling sempurna setelah tikus mengancam walk out.

Dalam kongres binatang melata, tikus melakukan protes karena melihat salah satu peserta tercatat juga sebagai peserta aktif dalam Kongres Burung sedunia. Siapa yang diprotes. Kelelawar. Tapi, kelelawar bertahan dengan dalil bahwa ia masuk kelompok burung karena memiliki sayap.

Soal protes tikus di Kongres Binatang Melata, ia jawab dengan menunjuk mukanya sendiri yang mirip tikus. Perdebatan seru. Tikus meminta forum Kongres yang terhormat agar kelelawar memilih satu kepesertaan, apakah Binatang Melata atau Burung. Tikus berpendapat, jika kelelawar mencari makan seperti burung di siang hari, maka malam harus tidur. Tapi nyatanya, kelelawar juga beraksi di malam hari. Inilah yang diprotes tikus.

Kongres lalu memutuskan: Kelelawar boleh memakai sayap dan mukanya boleh menyerupai tikus tapi untuk menjadikan pembeda di antara keduanya, maka kelelawar diperbolehkan terbang ke udara tapi harus mencari makan di malam hari. Karena dipaksa menerima, kelelawar seperti tak ikhlas dan ngambek.

Sampai sekarang, ngambeknya kelelawar ndak hilang-hilang yakni: tidur membungkus dirinya dan selalu mengencingi dirinya saat tidur. Artinya apa? Artinya, untuk bebas nilai dibutuhkan kepastian dan ketegasan. Artinya, kalau ada yang TBC maka harus ada yang jalan bongkok, kalau ada yang asma maka harus ngik-ngik. Dan seterusnya, dan lain sebagainya. (nebansi@yahoo.com)

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy