Berlindung Pada Ketidakpastian, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Berlindung Pada Ketidakpastian, Oleh : Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Ketika akan meninggalkan kampung menuju Kota Makassar untuk melanjutkan studi, keluarga saya menggelar acara baca doa keselamatan. Beberapa orang tua memberikan nasihat sebagai rujukan menghadapi kehidupan di kota. Hal itu kebiasaan kami di kampung.

Prof. Hanna

Wejangan sederhana orang tua yang masih teringat hingga kini adalah jangan bernaung di pohon yang lapuk di kota. Saya tidak paham maknanya kala itu. Belakangan, saya mencari makna kata demi kata dari wejangan orang tua. Saya mencari makna kayu lapuk dalam kehidupan, yakni kayu yang bercendawan karena sudah lama, bisa juga dikatakan kayu busuk (karena sudah tua). Kayu lapuk dapat pula dimaknai ketinggalan zaman; usang; kolot. Saya dapat menganalogikan jangan bernaung di pohon yang lapuk itu bermakna bahwa jangan berlindung pada ketidakpastian.

Dalam kamus umum Bahasa Indoensia kata berlindung dimaknai menempatkan dirinya di bawah (di balik, di belakang) sesuatu supaya tidak terlihat atau tidak kena angin, panas, dan sebagainya. Bisa juga berarti bersembunyi di tempat yang aman supaya terlindung. Sedangkan kata ketidakpastian adalah sebutan yang digunakan dengan berbagai cara di sejumlah bidang.

Dengan kata lain ketidakpastian berlaku pada perkiraan masa depan hingga pengukuran fisik yang sudah ada atau yang belum diketahui. Contohnya, jika anda tidak tahu apakah besok hujan, maka anda mengalami ketidakpastian. Bila anda menerapkan kemungkinan ini pada hasil memungkinkan yang menggunakan perkiraan cuaca atau penilaian kemungkinan terkalibrasi berarti telah memperkirakan ketidakpastian (kata Wikipedia Indonesia).

Masyarakat di negara entah-berentah mengalami berbagai masalah, seperti musibah, konflik. Para pemimpinnya bingung memikirkan cara mengatasi musibah itu dan akhirnya kehilangan kepercayaan, tentu ia pasti mencari perlindungan yang menurutnya akan mampu melindungi negerinya dari masalah tersebut. Ketika musibah penyakit datang misalnya maka negara itu menempuh langkah-langkah kongkrit.

Berbagai cara dilakukan namun tetap tidak dipercaya. Berbagai metode yang dilakukan hasilnya gagal, berbagai vaksin digunakan juga tidak mempan. Itu artinya semua usaha yang dilakukan hanya melalui eksperimen yang belum pasti dan kebenarannyapun belum bisa dipercaya dengan pasti. Tentu saja ini terjadi karena heterogenitas pemikir yang memikirkan persoalan sehingga membingungkan dengan cara apa menanggulangi itu.

Ahli tidak dipercaya sebagai ahli, pakar pun tidak diberikan kesempatan untuk memikirkan permasalahan itu, akibatnya serba ketidapastian. Masyarakat menjadi korban dari ketidapastian itu, dan tentu saja mungkin keuntungan di pihak yang memahami ketidakpastian itu. Dari sudut keamanan negara entah-berentah itu adalah mencari orang gila untuk melakukan hal-hal yang berlawanan hukum, agar perlawanan hukum itu tidak bisa dipidana sesuai KUHP pasal 44 ayat 1 berbunyi “Tiada dapat dipidana barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya, sebab kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal.”

Terkait orang gila mungkin yang ada dalam pikiran kita adalah adalah “orang gila” di jalanan. Mereka biasanya tidak mempedulikan penampilan, jalan tanpa arah, terkadang ketawa sendiri, diam dan bingung berpikir kosong, kurus,tidak terawatt bahkan tidak bisa diajak komunikasi.

Istilah gila dalam dunia medis adalah “Schizophrenia”, gangguan mental yang salah satu gejalanya adalah mengalami halusinasi (mendengar suara yang tidak berbunyi dan melihat sesuatu yang tidak terlihat) seperti kutipan di awal artikel. Adakalanya orang schizophrenia dicap sebagai tukang cari perhatian, pembohong, pembawa sial, kerasukan setan, orang yang kena kutukan, dan sebagainya. Alhasil, tidak jarang para penderita gangguan mental ini menerima perlakuan yang tidak manusiawi.

Schizophrenia berasal dari Bahasa Yunani Skhizein, yang berarti pecah (split) dan Phren yang berarti pikiran (mind). Secara harafiah, schizophrenia artinya pikiran yang pecah. But wait, itu enggak sama dengan kepribadian ganda (multiple personality disorder) seperti yang diceritakan dalam novel 24 wajah Billy. Sebuah film yang mengusahakan seorang penderita Schizophrenia” yang mungkin pernah kita dengar bahwa seorang ilmuwan bernama Jihna Nash yang diperankan oleh aktor kawakan Russell Crowe. John Nash adalah seorang ahli matematika dari Amerika yang didiagnosa dengan schizophrenia tetapi pada akhirnya bisa hidup normal oleh banyak orang dan menyabet hadiah nobel atas karyanya di bidang ilmiah.

Film ini banyak ditonton karena selain memenangkan 4 piala Oscar, film ini bisa menjadi media yang bagus untuk semakin memahami kondisi orang yang menderita schizophrenia. Hasilnya ternyata kondisi schizophrenia itu tidak hanya bisa kita temukan pada sosok “orang gila” yang biasa kita lihat di jalanan. Secara medis, sebetulnya orang yang terdekat atau mungkin diri kita sendiri bisa jatuh jadi schizo.

Berkembang pesatnya neurosains (ilmu tentang saraf) memberikan kita sebuah pengetahuan dan perspektif baru yang sangat berharga. Kita jadi tahu bahwa orang dengan schizophrenia ternyata mengalami gangguan fungsi di otak. Neurosains memungkinkan kita “mengulik” isi kepala (otak) penderita gangguan mental dan menelusuri perubahan neurobiologis yang terjadi. Interaksi antara faktor genetik, stres berat, dan komplikasi persalinan ternyata bisa memicu ketidakseimbangan senyawa kimia di otak yang menjadi penyebab dasar schizophrenia.

Dari uraian di atas tentu kita paham bahwa berlindung pada pohon lapuk yang kita katakan berlindung dalam ketidakpastian tentu tidak dapat menyelesaikan masalah yang saat ini dialami oleh negara entah-berentah. Sebagai manusia yang beragama tentu yang menjadi perlindungan satu-satunya hanyalah Allah SWT dan diri sendiri, kita tidak mengharap dari perlindungan yang tidak pasti. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy