Aktifitas Pengerukan di BTN Graha Asri Dihentikan

KENDARIPOS.CO.ID — Warga yang tinggal di sekitar perumahan Graha Asri Kelurahan Watulondo, Kecamatan Puuwatu kini bisa sedikit bernapas lega. Aktifitas pengerukan yang dilakukan pihak pengembang akan dihentikan. Keputusan penghentian itu diambil dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU), Dinas Lingkungan Hidup (DLHK), dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kota Kendari, Senin (5/10).

Selama ini, warga merasa terganggu dengan aktifitas pengerukan. Pasalnya, pengerukan itu menyebabkan jalan tertimbun sedimen lumpur. Sedimen itu juga menghambat dan menutup saluran drainase. Akibatnya, genangan air dan banjir menjadi langganan pemukiman warga setiap kali hujan turun.

Ketua Komisi III DPRD Kendari, Rajab Jinik menegaskan agar pengembang segera menghentikan aktifitas. Untuk memastikan hal itu, ia meminta Dinas PU, DLHK dan DPM-PTSP Kota Kendari harus melakukan pemantaun. Ia mendorong tiga OPD ini bertindak tegas bila pengembang mengabaikan hasil RDP ini.

“Kesimpulan RDP hari ini (kemarin), kita meminta kabag hukum untuk menganalisis masalah hukumnya terkait dengan pengembang yang mengakibatkan banjir di BTN Graha Asri. Kedua, Kita minta PU, DLHK, dan PTSP tidak mengeluarkan izinya, sebelum pengembang tidak menyelesaikan masalah banjir,” ujar Rajab.

Senada, Ketua Komisi II DPRD Kendari Andi Silolipu juga mendesak pihak pengembang secepatnya memperbaiki drainase perumahan sekitar. Pasalnya setiap kali bajir tiba, bukan saja air yang meluap, tetpai juga lumpur ikut masuk dalam rumah. “Kami beri waktu kepada pengembang untuk segera membuat drainase itu. Kalau sampai batas waktu yang bapak janjikan yakni awal bulan November belum juga dikerja, jangan salahkan kami. Jika masyarakat dan pihak lain sampai menempuh jalur hukum,” ujar Andi.

Menanggapi hal itu, pihak pengembang Andi, berjanji akan membuat drainase sepanjang kurang lebih 100 meter yang ada di blok D dan E pada awal November. Pasalnya, untuk membuat dalam waktu dekat, dirinya masih harus mencari dana 40 juta untuk biaya pembutan. “Saya sebagai pekerja, yang juga pengembang akan bertangung jawab atas hal itu, tapi tolong berikan saya waktu untuk mencari dana 40 juta. Termasuk saya minta Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari mau membantu saya,” jelasnya.

Sementara, Salah seorang warga BTN Graha Asri Budi Susilo mengungkapkan, sejak tinggal di Graha Asri bertahun-tahun, dirinya tidak perah merasakan banjir. Meskipun ada air, namun itu tidak sampi masuk kedalam rumah. “Sejak tanggal 10 Juli saya merasakan banjir, padahal bertahun-tahun saya tinggal, tidak pernah ada banjir. Dan yang paranya, bukan hanya air, tapi banjir yang terjadi bercampur lumpur. Karena banjir barang-barang berhara saja tidak tersisa,” tutup Budi susilo. (b/ags)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.