Air, Guru Terbaik, Oleh : Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

Air, Guru Terbaik, Oleh : Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si


KENDARIPOS.CO.ID — Salah satu kebutuhan pokok sehari-hari makhluk hidup di dunia ini yang tidak dapat terpisahkan adalah air. Tidak hanya penting bagi manusia, air merupakan bagian yang penting bagi makhluk hidup baik hewan maupun tumbuhan. Tanpa air kemungkinan tidak ada kehidupan di dunia ini karena semua mahluk hidup sangat memerlukan air untuk bertahan hidup.

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

Demikian pula dengan manusia mungkin dapat hidup beberapa hari, akan tetapi manusia tidak akan bertahan selama beberapa hari jika tidak minum air karena sudah mutlak bahwa sebagian besar zat pembentuk tubuh manusia itu terdiri dari 73 persen adalah air. Jadi bukan hal yang baru jika kehidupan yang ada di dunia ini dapat terus berlangsung karena tersedianya air yang cukup. Dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, manusia berupaya mengadakan air yang cukup bagi dirinya sendiri.

Definisi dari kata “air” menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) online dan menurut para ahli bahasa, air merupakan cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yang terdapat dan diperlukan dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan yang secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen. Dengan kata lain air adalah benda cair yang biasa terdapat di sumur, sungai, danau atau yang mendidih pada suhu 100 derajat celcius.

Oleh karena itulah air sangat berfungsi dan berperan bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Penting bagi kita sebagai manusia untuk tetap selalu melestarikan dan menjaga kelestariannya dengan melakukan pengelolaan air yang baik seperti penghematan, tidak membuang sampah dan limbah yang dapat membuat pencemaran air sehingga dapat menggangu ekosistem yang ada.

Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Sekira tiga per empat bagian dari tubuh kita terdiri dari air dan tidak seorangpun dapat bertahan hidup lebih dari 4-5 hari tanpa air. Seluruh mahluk hidup di muka bumi membutuhkan air. Sejak awal kehidupan, mahluk hidup terutama manusia telah memanfaatkan air untuk kelangsungan hidupnya, bahkan mutlak dibutuhkan manusia. Tidak sedikit orang bahagia dengan air tetapi tidak sedikit juga orang korban karena air.

Kembali pada fungsi air yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia, ternyata air juga dapat mengubah geografis suatu daerah akibat bencana alam yang tidak dapat diprediksi dan tidak satupun kehebatan yang bisa menaganinya kecuali yang Maha Kuasa. Akibat ulah manusia yang tidak memedulikan akan kelangsungan hidup maka banjir dimana-dimana. Jika kondisi tersebut tidak mampu ditahan dan diantisipasi maka akan terjadi hal-hal yang merusak tatanan kehidupan.

Oleh karena itu dalam menyikapi kondisi saat ini di mana beberapa negara mengalami berbagai kehidupan termasuk masalah pandemi. Era pandemi Covid-19 saat ini, bumi pertiwi dihiasi berbagai gejolak masyarakat yang fenomenal, mulai dari masalah ekonomi, sosial budaya hingga politik. Semua tak terelakkan manakala sudah menyangkut keterkaitan dengan masalah global di masyarakat.

Yang saat ini terjadi terkait kontroversi pendapat penerimaan dan penolakan masyarakat terhadap penetapan Undang-Undang Omnibus Law Cipta kerja yang disahkan 5 Oktober 2020. Gejolak demo buruh dan mahasiswa yang menolak Omnibus law mewarnai seluruh nusantara. Banyaknya kejanggalan mulai dari penyusunan hingga penetapan UU ini menyebabkan rakyat bergejolak dan menolak Omnibus Law.

Demo besar-besaran terjadi di sejumlah daerah sejak 6 sampai 8 Oktober lalu. Penolakan ini menandakan rakyat belum sepenuhnya setuju jika Omnibus Law itu disahkan. Kejanggalan yang terdapat dalam UU tersebut dikhawatirkan akan sangat menekan tenaga kerja lokal. Banyak poin-poin yang masih harus dipertimbangkan kembali sebelum UU tersebut disahkan, seharusnya pihak pemerintah memahami apa yang diharapkan masyarakat agar miskomunikasi ini tidak terjadi.

Penyampaian pendapat bukanlah hal yang tidak diperbolehkan dalam kehidupan berdemokrasi, bahkan dijamin oleh UU. Menyampaikan pendapat di muka umum merupakan salah satu hak asasi manusia yang dijamin Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi : “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang”.

Berunjuk rasa atau berdemonstrasi memang tidak dilarang di Indonesia. Namun perlu diketahui aksi mengungkapkan ekspresi di muka publik ini memiliki aturan tersendiri, dan sudah diatur dalam UU.

Penulis melihat adanya ketidaksinambungan rasa yang harus lebih bisa dijaga. Manakala setiap masalah langsung dihadapi dengan berbagai sudut pandang yang berbeda akan sangat berdampak tidak baik. Seperti yang terjadi saat ini, permasalahan yang sangat rumit dihadapi oleh ketegangan yang tak berujung, akhirnya memakan korban dan kerugian yang tidak sedikit.

Implikasi dari pertikaian yang tidak berpangkal dan tidak berujung selalu akan berdampak krusial terhadap stabilitas kehidupan. Andaikata setiap insan bisa menyelami filosofi air yang dengan tenangnya mengalir tanpa harus berebut hulu dan lembah pasti akan bermuara dengan indah dan mengalir sesuai porsi dan kekuatannya.

Hiduplah bagaikan air yang membentuk seperti wadah air itu sendiri. Air itu fleksibel, di manapun lokasinya, ia tidak akan pernah takut dalam keadaan apapun, dinamis dan kuat, sekeras kerasnya batu bisa rusak dengan tetesan air. Diubah dalam bentuk apapun itu, air tidak akan hilang. Penulis memahami air itu adalah: (1). Air selalu mengalir ke tempat-tempat yang lebih rendah, ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati, (2). Air bersifat lembut tetapi juga bisa menjadi kuat bila dibutuhkan, ini mengajarkan kita keseimbangan, (3). Air selalu mengisi ruang-ruang yang kosong ini mengajarkan kita untuk selalu saling tolong menolong dan selalu berbagi dalam kehidupan sehari-hari kita. Jangan pernah mengganggu arus dan perjalanannya dengan hal-hal yang bersifat negatif yang nantinya akan berdampak tidak baik, niscaya semua akan berjalan sesuai harapan.

Oleh karena itu penulis menilai kesenjangan yang terjadi saat ini, semestinya tidak perlu terjadi jika ada saling pengertian dan konsolidasi untuk mengutamakan kepentingan dan kenyamanan publik. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy