“Yang Terlupakan” Memaknai Profesi Pendidik, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

“Yang Terlupakan” Memaknai Profesi Pendidik, Oleh : Prof. Hanna


KENDARIPOS.CO.ID — Di suatu kesempatan saya menghadiri acara di salah satu kampung. Di sana, saya dipersilakan duduk berdampingan dengan kepala desa, tokoh adat dan tokoh masyarakat lainnya. Salah seorang berkata, “itu salah seorang pak guru saya di SMP dulu”. Itu berarti saya seorang guru, yang masyarakat dulu memanggilnya Tuan Guru. Saat ini orang mengatakan pendidik.

Prof. Hanna

Kehidupan seorang pendidik di zaman dahulu merupakan panggilan yang sangat dihormati, disegani dan dipandang sebagai profesi yang tidak ada duanya. Namun sekarang penghargaan itu semakin hari semakin bergeser. Saya tidak tahu apa faktor yang menyebabkan penghargaan itu bergeser.

Guru-guru zaman dulu sangat dihormati, baik oleh murid-muridnya maupun masyarakat. Guru masih dianggap sebagai pekerjaan yang mulia dan terpandang. Derajat guru dalam sosial masyarakat bahkan terkadang lebih ditinggikan dibanding konglomerat di daerah itu. Begitupun dengan murid-murid. Setiap guru datang selalu disambut murid dan murid selalu mematuhi apa yang guru perintahkan.

Bandingkan dengan kondisi guru sekarang. Guru tidak ada bedanya dengan pekerjaan lainnya, dan murid kurang hormat lagi. Semakin banyak anak yang kurang ajar dan membantah perkataan guru. Sebagai seseorang yang pernah merasakan pendidikan sebagai murid pada zaman dulu, dibandingkan sebagai guru pada zaman sekarang, perbedaannya sangat signifikan. Mungkin ada diantara kita yang berprofesi sebagai guru masa kini yang sering jengkel ketika murid kurang ajar terhadap dirinya.

Saya mencoba untuk mengamati penyebabnya mungkin karena guru zaman dulu hadir dari panggilan hati nurani, bekerja ikhlas, tanpa pamrih dalam melaksanakan tugasnya profesinya sebagai pendidik untuk mengubah nasib generasi muda melalui pendidikan. Saat ini panggilan nurani itu sepertinya hilang, akibat guru mengeluh karena tugas guru zaman sekarang sangatlah banyak.

Guru tidak hanya mengajar di depan siswa, tapi masih harus memikirkan masalah administrasi yang sangat banyak seperti program semester, RPP, dll. Selain itu masih ada juga tuntutan moral guru sebagai seorang pendidik yang diharapkan mampu menanamkan nilai dan budi pekerti yang baik ke anak-anak.

Dengan tuntutan pekerjaan yang begitu banyak, ironisnya penghargaan kepada profesi guru itu semakin berkurang. Kondisi yang terbangun dari sebuah sistem saat ini adalah, guru sekarang bukan lagi dinilai dari seberapa mampu mengubah tingkah laku anak didik atau seberapa mampu menanamkan etika sopan santn kepada anak didiknya, tetapi dari seberapa rapi mereka membuat administrasi.

Dari kondisi tersebut di atas, pertanyaan mendasar adalah siapa yang disalahkan? Sangat ironis memang jika ada masalah murid di sekolah pasti guru yang disalahkan, jika ada kenakalan remaja yang terjadi pasti guru disalahkan oleh masyaraat bahkan pemerintahpun turut menyalahkan.

Jika kita melihat ke belakang begitu anak naik kelas dua atau ke kelas 3, kemampuan membacanya sudah tidak diragukan bahkan anak-anak kelas 5 di zaman dulu sudah bisa menghapal perkalian. Anak zaman sekarang mungkin ada tapi tidak homogen.

Terkait makna pendidik dari segi bahasa, pendidik, sebagaimana dijelaskan oleh WJS. Poerwadiminta adalah orang yang mendidik. Pengertian ini memberi kesan, bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik.

Dalam bahasa Inggris dijumpai beberapa kata yang berdekatan artinya dengan pendidik. Kata tersebut seperti teacher yang diartikan guru atau pengajar dan tutor yang artinya guru pribadi, atau guru yang mengajar di rumah.

Selanjutnya dalam bahasa Arab dijumpai kata ustadz, mudarris, mu’allim, dan mu’addid. Kata ustadz jamaknya asatidz yang berarti teacher (guru), professor (gelar akademik), jenjang dibidang intelektual, pelatih, penulis, dan penyair. Adapun kata mudarris berarti teacher (guru), instructor (pelatih), dan leturer (dosen). Selanjutnya kata mu’allim yang juga berarti teacher (guru), instructor (pelatih), trainer (pemandu). Selanjutnya kata mu’addib yang juga berarti educator pendidik atau teacher in koranic school (guru dalam lembaga pendidikan Al-Qur’an).

Beberapa kata tersebut di atas secara keseluruhan terhimpun dalam kata pendidik, Karena seluruh kata tersebut mengacu kepada seseorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain. Kata-kata bervariasi tersebut menunjukan adanya perbedaan ruang gerak dan lingkungan di mana pengetahuan dan keterampilan diberikan.

Seorang pendidik yang mumpuni tidak pernah berkata inilah saya, tapi ia tetap tegar dalam kondisi apapun sebagaimana dalam sebuah cerita yang viral di media sosial sebagai acuan pendidik yang mencoba untuk mengantar guru untuk bekerja dengan penuh pengabdian, yakni sekelompok anak muda menghadiri resepsi pernikahan. Salah seorang di antaranya melihat guru SD-nya. Lalu murid itu menyalami gurunya sebagaimana undangan lainnya, dengan penuh penghormatan, seraya berkata:
“Masih ingat saya kan, pak guru?” Gurunya menjawab, “Wah maaf, tidak,”.

Murid itu bertanya keheranan, “Masa sih, pak guru tidak ingat saya. “Saya kan murid yang dulu mencuri jam tangan punya salah seorang teman di kelas. Ketika anak yang kehilangan jam itu menangis, pak guru menyuruh kita untuk berdiri semua, karena akan dilakukan penggeledahan saku murid semuanya. Saat itu saya berfikir, bahwa saya akan dipermalukan dihadapan para murid dan para guru, dan akan menjadi tumpahan ejekan dan hinaan, mereka akan memberikan gelar kepada saya: “pencuri” dan harga diri saya pasti akan hancur, selama hidup saya. Bapak menyuruh kami berdiri menghadap tembok dan menutup mata kami semua. Bapak menggeledah kantong kami, dan ketika tiba giliran saya, bapak ambil jam tangan itu dari kantong saya, dan bapak lanjutkan penggeledahan sampai murid terakhir.

Setelah selesai, Pak guru menyuruh kami membuka penutup mata, dan kembali ke tempat duduk masing-masing. Saya takut Bapak akan mempermalukan saya di depan murid murid lain yang semuanya teman teman saya. Bapak tunjukkan jam tangan itu dan Bapak berikan kepada pemiliknya, tanpa menyebutkan siapa yang mencurinya.

Selama saya belajar di sekolah itu, bapak tidak pernah bicara sepatah kata pun tentang kasus jam tangan itu, dan tidak ada seorang pun guru maupun murid yang bicara tentang pencurian jam tangan itu. Bapak masih ingat saya kan pak? Bagaimana mungkin bapak tidak mengingat saya?”. “Saya adalah murid Bapak, dan cerita itu adalah cerita pedih yang tak akan terlupakan selama hidup saya. Saya sangat mengagumi bapak. Sejak peristiwa itu saya berubah menjadi orang yang baik dan benar hingga sekarang saya jadi orang sukses. Saya mencontoh semua akhlak dan sikap juga perilaku bapak”.”

Sang guru pun menjawab.”Sungguh aku tidak mengingatmu, karena pada saat menggeledah itu, aku sengaja menutup mataku, agar aku tidak mengenalmu. Karena aku tidak mau merasa kecewa atas perbuatan salah satu muridku, aku sangat mencintai semua murid-muridku,” jawab sang guru.

Dari cerita di atas akan memberikan pelajaran kepada kita sebagai guru bahwa pendidikan memerlukan akhlak yang mengajari bagaimana menutup segala keburukan orang lain. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy