Solusi Atas Kerugian Pertamina, Oleh : Ilyas Alimuddin – Kendari Pos
Opini

Solusi Atas Kerugian Pertamina, Oleh : Ilyas Alimuddin


Ilyas Alimuddin, Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP), FEB UHO dan Pengurus ISEI Cabang Kendari

KENDARIPOS.CO.ID — Kabar tentang kerugian Pertamina menjadi trending topik di media sosial. Sampai jajaran direksi dan komisaris kena sentil. Mengingat sebelumnya begitu dipercaya akan membawa kejayaan perusahaan plat merah tersebut. “Merem saja Pertamina bisa untung apalagi jika diawasi” begitu ungkapan yang terlontar dari Komisaris baru yang dilantik beberapa waktu lalu.

Ilyas Alimuddin, Dosen Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP), FEB UHO dan Pengurus ISEI Cabang Kendari

Wajar bila publik bertanya, kenapa bisa terjadi demikian? Mengingat penjualannya monopoli. Apalagi saat harga minyak mentah dunia turun drastis, tetapi tidak diikuti oleh penurunan harga BBM dalam negeri. Ada tiga faktor yang menyebabkan kerugian Pertamina sebagaimana disampaikan Vice President Corporate Communication Pertamina: pertama terjadinya penurunan harga minyak mentah dunia, kedua konsumsi BBM dalam negeri yang mengalami penurunan sampai 30 persen dan terakhir pergerakan nilai tukar dollar yang berdampak pada rupiah sehingga terjadi selisih kurs di Pertamina.

Merujuk laporan keuangan yang dipublikasikan, hingga 30 Juni 2020 kerugian yang diderita Pertamina tak lepas dari anjloknya penjualan dan pendapatan usaha. Penjualan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi dan produk minyak tercatat hanya US$ 16,56 miliar atau merosot 20,91% dibandingkan semester I-2019. Secara keseluruhan, total penjualan dan pendapatan usaha lainnya sebesar US$ 20,48 miliar di akhir Juni 2020. Lebih rendah 19,81% dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 25,54 miliar.

Melihat data ini dan membandingkan dengan catatan periode yang sama tahun sebelumnya dimana Pertamina berhasil mencatatkan keuntungan sekitat Rp. 9 triliun, maka kalaupun pertamina harus merugi periode semestinya tidak sampai Rp. 11 triliun. Mengingat penjualan minyak mentah hanya merosot 20,91%, konsumsi menurun 30 persen begitupun selisih kurs periode tahun lalu dengan periode saat ini tidak terlalu melebar. Belum lagi kalau kurs dollar naik semestinya berpengaruh juga terhadap kenaikan penjualan minyak mentah.

Di satu sisi, sebagaimana pertanyaan publik secara umum, kalaupun konsumsi menurun 30 persen, bukankah setidaknya masih bisa ditutupi oleh harga jual BBM yang tidak turun di saat harga minyak mentah dunia turun. Logika bisnis masyarakat sepertinya masih bertanya-tanya. Penurunan keuntungan dari Rp. 9 triliun di periode sebelumnya menjadi rugi Rp. 11 triliun periode saat ini berarti penurunan mencapai lebih dari 200 persen. Padahal efek dari tiga faktor yang dijadikan alasan, tidaklah mencapai 100 persen.

Karenanya kalaupun terjadi penurunan penerimaan yang diakibatkan oleh tiga faktor di atas, semestinya Pertamina masih bisa mencatatkan keuntungan. Setidaknya minimal 30 persen dari keuntungan periode yang sama tahun sebelumnya. Terlepas dari itu, catatan kerugian pertamina harus memberi kesadaran bahwa dalam pengelolaan perusahaan pertamina harus ada langkah mendasar untuk membenahinya.

Dan langkah pertama harus dimulai dengan memberi kepercayaan kepada individu yang benar-benar memiliki kompetensi untuk memperbaiki kinerja Pertamina. Langkah ini harus dibarengi dengan perubahan secara sistematis terhadap tata kelola pertamina itu sendiri.
Ada beberapa solusi atau langkah yang bisa dilakukan oleh Pertamina untuk meningkatkan kinerjanya. Dibanding mempersoalkan faktor kurs dollar yang selalu berubah, dimana ini merupakan faktor eksternal sehingga sulit diintervensi. Idealnya mengintervensi faktor internal yang bisa diintervensi oleh Pertamina.

Pertama, di sektor hulu, meningkatkan lifting atau produksi minyak. Dari tahun ke tahun lifting minyak cenderung mengalami penurunan. Hal ini wajar saja karena lebih banyak sumur-sumur tua. Tak ada penambahan signifikan sumur-sumur baru untuk eksplorasi minyak. Untuk itu ke depan Pertamina harus mencari sumur-sumur baru agar produksi bisa ditingkatkan.

Kedua penerapan teknologi dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Digitalisasi di era Revolusi Industri 4.0 menjadi tantangan semua perusahaan termasuk pula Pertamina. Karena itu kuncinya tergantung pada kualitas SDM dan teknologi yang dimiliki.
Ketiga, mempercepat penambahan kilang minyak (oil refinery). Saat ini jumlah kilang minyak yang dimiliki hanya enam dengan kemampuan produksi sekitar 885 rbu- 1 juta barel perhari. Mega proyek pembangunan kilang minyak yang dilakukan oleh Pertamina adalah langkah yang harus didukung dan diapresiasi. Ketersediaan kilang minyak ini sangat penting dan manfaatnya sangat besar.

Saat ini saja misalnya karena keterbatasan kilang minyak yang dimiliki, sehingga negeri ini gagal memanfaatkan peluang turunnya harga minyak mentah dunia. Sekiranya memiliki kilang minyak yang lebih banyak maka tentulah impor minyak mentah akan ditingkatkan untuk diolah dan selanjutnya dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Sehingga akan mendapatkan profit yang tinggi pula.

Selama ini sering terdengar suara sinis, untuk apa membangun kilang minyak jika lifting atau produksi minyak dalam negeri tergolong rendah. Jawabannya sederhana saja. Belajar dari Singapura, yang sama sekali tidak memiliki lifting minyak tapi justru memiliki kilang minyak. Dan dengan kilang minyak ini Singapura mendapatkan keuntungan yang luar biasa dari bisnis minyak. Keuntungan pembangunan kilang minyak sangat banyak. Selain menjamin ketersediaan BBM dalam negeri juga akan membuka lapangan kerja yang sangat besar pula.

Keempat, memberantas mafia minyak. Keberadaan mafia migas ini sangat merugikan Pertamina secara khusus dan negara ini secara umum. Merekalah yang selalu berusaha agar produksi minyak tidak meningkat, berusaha agar tidak dilakukan kilang minyak sehingga negeri ini selalu melakukan impor minyak. Karena dengan mengimpor minyak mereka bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Kerugian yang paling besar yang diakibatkan oleh para mafia migas adalah gagalnya negeri ini mandiri di sektor energi. Padahal selain ketahanan dan kemandirian pangan, ketahanan dan kemandirian energi adalah hal yang sangat fundamental bagi sebuah negara. oleh karena itu, harapan besar disematkan kepada pemerintah untuk memberantas keberadaan mafia migas ini. Jika beberapa langkah di atas bisa dilakukan oleh pemerintah, maka ke depan tak akan ada lagi terdengar berita Pertamina yang merugi dan yang lebih pasti negeri ini akan menjadi negeri yang merdeka, berdaulat dan mandiri serta memiliki ketahanan di bidang energi. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy