Pemimpin Populis, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Pemimpin Populis, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Selalu lupa dan tidak mawas diri. Masih ingat, bulan April 2020. Sebagian masyarakat panik mencari masker. Jika ada yang ketahuan, ada warga sekitar, entah tetangga, karib, keluarga, ‘ketahuan’ positif virus corona disease 2019 (Covid-19), warga sangat khawatir.

Saya punya teman, saat mengetahui tetangganya diisolasi di RS Bahteramas, ia enggan lewat depan rumahnya. Di apotik kehabisan stok masker, disiplin menjaga diri. Jalanan sepi. Padahal, infeksi Covid-19 baru menimpa puluhan orang.

Kini, saat infeksi virus sudah ratusan ribu, perilaku kita malah santai. Jalanan padat, bioskop sudah beroperasi kembali. Pusat perbelanjaan sudah ramai. Sekolah juga sudah mulai dibuka. Bahkan, saat infeksi masih melesat, tahapan pilkada kerap menimbulkan kerumunan massa. Belum kampanye, baru mendapatkan rekomendasi partai, pelabuhan sudah tumpah ruah disesaki kerumunan massa.

Saat pendaftaran di KPU, masing-masing pasangan calon kepala daerah, ‘memobilisasi’ massa simpatisan. Perilaku masyarakat berubah. Akibatnya? 59 negara melarang warga Indopnesia masuk ke negaranya. Padahal, larangan sempat dilonggarkan pada Agustus bulan lalu. Syaratnya, harus melakukan dua kali tes Polymerase Chain Reaction (PCR).

Meski pemerintah sudah melobi agar melonggarkan aturannya. Sehingga warga Indonesia bisa masuk kembali. Tetapi, banyak negara tetap menolak atau tak memberikan kepastian. Bakan karena karena tingginya jumlah kasus, tetapi juga meragukan kemampuan pemerintah Indonesia mengatasi wabah.

Penularan virus yang terus melesat, batu ujian bagi pemimpin populis. Selama ini, saat situasi normal, agenda utama yakni lebih banyak pada agenda nasionalis, proteksionis, dan hanya memanipulasi sentimen. Tidak terlalu sensitif terhadap kondisi darurat. Respons ini juga sama pada isu-isu sebelumnya, seperti perubahan iklim. Padahal, pada situasi seperti ini, jelas butuh kolaborasi, tanggung jawab, dan solidaritas. Soalnya, kondisi darurat berjalan sangat cepat dan tidak cukup diatasi hanya dengan retorika populis.

Lihat saja. Alih-alih para pemimpin populis membicarakan berapa jumlah tempat tidur, ruang untuk isolasi, ketersediaan vitamin, ketersediaan ventilator. Yang muncul di publik malah isu tentang guru. Tagar #Save guru. Jadi, ‘guru’, menjadi peluang sosialisasi bagi para pemimpin populis. Kelak, jika salah satunya berhasil, akan berlanjut nantinya saat kampanye. Diklaim sebagai ‘prestasi’ pemimpin populis itu.

Padahal, pilkada belum memasuki masa kampanye. Pada keadaan normal saja, tahapan ini penuh dengan risiko gesekan antar pendukung. Bagaimana dengan masa pandemik ini? Apa yang dipikirkan oleh pemimpin populis itu? Perlukah mengerahkan orang seperti pada masa normal? Apakah sudah ada pedoman kesehatan dan keselamatan sebagai bagian dari regulasi KPU pada masa kampanye?

Sejauh ini, setidaknya saat catatan dibuat, para pemimpin populis belum mampu memberikan penanganan dengan baik terhadap pandemik. Jadi, jika terus berlanjut, bukan saja di depan mata terjadi krisis kesehatan, tetapi juga krisis legitimasi pemimpin populis. Dengan kata lain, ini adalah bukti dari kegagalan total populisme dalam memberikan apapun terhadap rakyat.

Pemimpin populisme adalah memiliki syarat keyakinan selain ‘anti kemapanan’ juga harus dapat menyalurkan kehendak yang dimiliki rakyat. Pemimpin populis meyakini bahwa mereka sejatinya adalah representasi kehendak rakyat dan karenanya mereka dapat mewakili rakyat dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi.

Jadi, hendaknya saat ini para pemimpin populis dapat menawarkan ide alternatif terhadap situasi pandemik. Sebab, jika tidak, ini adalah tanda-tanda bahwa era pemimpin populis sebagai panggung terakhir yang akan digantikan oleh pemimpin lain. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy