Move On Publik “Kembalilah ke Alam” Oleh : Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Kolom

Move On Publik “Kembalilah ke Alam” Oleh : Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si


KENDARIPOS.CO.ID — “…Mungkin Tuhan mulai bosan. Melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang…”

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

Bait-bait lagu Ebit G.Ade tersebut mengingatkan kita akan kesalahan dan bagaimana alam memberikan kita suatu nuansa berpikir melalui musik. Musik merupakan deretan nada-nada merdu yang memiliki makna sangat mendalam yang berasal dari curahan isi hati dan pikiran.

Tak hanya itu, musik terkadang diciptakan untuk memberikan kritik sosial bahkan dijadikan instrumen untuk menunjukkan rasa cinta dan kepeduliaan kepada sesama manusia maupun alam dalam kondisi dan suasana yang menegangkan saat ini.

Suasana penuh ketegangan masih sangat terasa, dimana-mana masih menyimpan berjuta cerita tentang makin merajalelanya virus corona yang “mengancam” keberlangsungan hidup manusia yang belum tau kapan pastinya corona ini menghilang dari bumi pertiwi, hingga berdampak ambruknya berbagai sektor kehidupan di muka bumi.

Ekonomi diporak porandakan, pendidikan dikacau balaukan, kehidupan sosial di bingungkan. Bahkan dampak yang sangat miris dirasakan manakala era pandemik ini berdampak negatif terhadap mental masyarakat.

Penulis melihat ada sisi kekhawatiran publik yang berlebihan saat harus menjalankan aktivitas seperti biasa. Hal demikian sangat wajar terjadi atas dasar pemberitaan diberbagai media yang sangat krusial terkait segala hal yang bersifat negatif tentang dampak dari Covid-19 tersebut.

Dari kondisi ini publik semakin hari semakin cerdas berpikir kreatif mencari solusi rasional dengan memanfaatkan alam. Alam yang saat ini selalu dijaga kelestariannya akan menjadi tujuan publik, sekaligus sebagai bukti rasa syukur kita kepada sang Khalik, menjadi media yang bisa dijadikan parameter betapa rasa syukur kita tidak sebanding dengan Ciptaan-Nya yang selayaknya kita merasa kerdil manakala memahami arti kehidupan yang kita nikmati, manakala Tuhan dengan mudahnya memberikan sumber kehidupan dan kenikmatan sehat pada mahluk Ciptaan-Nya, terutama kepada manusia.

Hal itu bisa dikatakan bermakna jika manusia pandai bersyukur atas pemberianNya yang serba gratis langsung dari sang Pemilik bumi beserta isinya. Terinspirasi dari dari pemikiran Gubernur Jawa barat tentang kembali ke alam seperti yang terjadi tanggal 20 September kemarin, Gubernur Jabar melakukan kunjungan tanpa menggunakan mobil mewah tetapi hanya menggunakan sepeda motor.

Program lainnya seperti penyerahan bantuan mobil pun dilakukan di tempat wisata alam terbuka, dan tak ketinggalan Pemda Majalengka setiap mengadakan event atau rapat selalu dilapangan tenis (area terbuka). Ini akan jadi inspirasi dan penguat imunitas karena mindset publik dialihkan ke alam yang tidak jenuh dengan harus berkutat di dalam ruangan dengan isu” negatif terkait pandemic Covid-19.

Manfaat alam bagi kesehatan adalah meningkatan kekebalan tubuh manusia sebagaimana yang diungkapkan Ming Kuo, peneliti dari Illinoi University yang telah lama melakukan penelitian terhadap alam menemukan bahwa (1) waktu yang dihabiskan seseorang di alam terbuka memiliki hubungan yang erat, positif dengan kesehatan mental dan fisik yang lebih kuat, (2) alam menyediakan multivitamin nutrisi bagi tubuh manusia yang berfungsi melindungi manusia dari berbagai penyakit.

Salah satu media online nasional menulis bahwa ketika bicara mengenai cara mewujudkan kesehatan, sebagian orang mungkin berpikir mengenai tenaga kesehatan, rumah sakit, atau obat-obatan. Ternyata, pelayanan medis bukanlah satu-satunya faktor yang berperan dalam menciptakan kesehatan di tengah masyarakat.

Studi mengungkapkan bahwa pelayanan medis memiliki peran sebesar 20 persen dalam “memproduksi” kesehatan di tengah masyarakat. Sekira 20 persen dari kesehatan masyarakat juga ditentukan oleh perilaku. Faktor genetik juga berperan sekitar 5 persen dalam menentukan kesehatan masyarakat.

Lalu, faktor apa yang paling dominan ?. “Sebanyak 55 persen dari lingkungan dan sosial,” ungkap Senior Public Health Adviser Alam Sehat Lestari (ASRI) drg. Monica R Nirmala dalam webinar “Covid-19: Kita dan Alam” yang diselenggarakan oleh Yayasan ASRI. Monica yang meraih gelar master of public health (MPH) dari Harvard University itu mengatakan kehidupan manusia yang tidak seimbang dengan alam bisa berakibat buruk pada keselamatan manusia itu sendiri. Ada beberapa studi yang telah mengungkapkan kaitan antara kondisi alam dengan kesehatan manusia.

Selain itu, laporan Pollution and Health Metrics pada 2019 juga mengungkapkan dampak besar polusi bagi kesehatan. Dalam laporan tersebut dinyatakan bahwa polusi membunuh 230 ribu orang setiap tahun di Indonesia.

Keterkaitan antara kesehatan manusia dan lingkungan atau alam dikenal sebagai planetary health. Monica mengatakan planetary health adalah sebuah konsep, sebuah gerakan serta sebuah kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup aman dan sehat tanpa lingkungan hidup yang sehat.

Mengingat manusia dan alam saling berkaitan, penting bagi manusia untuk menjaga alam. Monica mengatakan, apa yang baik bagi alam akan membawa kebaikan pula bagi manusia. “Dan apa yang menyakiti alam itu sebetulnya membawa penyakit bagi kita juga” jelas Monica.

Dalam Alquran secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan alam semesta adalah untuk memperlihatkan kepada manusia tanda-tanda keberadaan kekuasaan Allah SWT. Di samping sebagai sarana untuk menghantarkan manusia akan keberadaan dan ke Maha kekuasaan Allah. Dalam perspektif Islam, alam semesta beserta segala sesuatu yang berada di dalamnya diciptakan untuk manusia. Dan fungsi konkret alam semesta adalah fungsi rubbubiyah yang diciptakan Allah SWT kepada manusia, sehingga alam ini akan marah manakala manusia bertindak serakah dan tidak bertanggung jawab.

Allah SWT sebagai pencipta, pemilik kasih dan sayang untuk segenap Makhluk-Nya. Alam ini sebagai bukti dari kasih sayang Allah SWT untuk manusia. Karena alam semesta diciptakan untuk manusia, maka Allah SWT telah menundukkan bagi mereka untuk kepentingan manusia. Allah SWT menundukan apa yang ada dilangit dan bumi.

Dialah yang memudahkan alam ini bagi manusia dan menjadikannya sebagai tempat tinggal yang nyaman untuk didiami. Meskipun alam semesta ini diciptakan untuk manusia, namun bukan berarti manusia dapat berbuat sekendak hati didalamnya. Hal ini bermakna bahwa kekuasaan manusia pada alam semesta ini bersifat terbatas.

Manusia hanya boleh mengolah dan memanfaatkan alam semesta ini sesuai dengan iradah atau keinginan Tuhan yang telah mengamanahkan alam semesta ini kepada manusia. Memang, sebagai khalifah Allah SWT telah memberikan mandat kepada manusia untuk mengatur bumi dan segala isinya.

Demikian pun, kekuasaan seorang khalifah tidaklah bersifat mutlak, sebab kekuasaannya dibatasi oleh pemberi amanah kekhalifahan itu, yakni Allah SWT. Dalam perspektif pendidikan Islam, alam adalah guru manusia. Kita semua wajib belajar dari sikap alam semesta yang tunduk mutlak pada hukum-hukum yang telah ditetapkan Allah SWT.

Tidak terbayangkan oleh kita semua manakala alam berprilaku diluar hukum-hukum Allah SWT, alam melanggar sunahnya. Misalnya Gunung meletus menyemburkan api, matahari terbit dan turun ke bumi, bintang-bintang berjatuhan, pohon-pohon tumbang, lautan meluap, ombak menghantam, terjadi badai, dan bumi berhenti berputar. Pelajaran apa yang dapat diambil dari kejadian demikian, kembali lah ke alam. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy