Mendidik Apa Adanya Atau Mendidik Adanya Apa, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Mendidik Apa Adanya Atau Mendidik Adanya Apa, Oleh : Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Menurut UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Prof. Hanna

Demikian juga tujuan pendidikan dalam UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggung jawab terhadap bangsa.

Tujuan pendidikan sesuai MPRS No. 2 Tahun 1960 adalah untuk membentuk manusia yang memiliki jiwa Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dari beberapa tujuan pendidikan disimpulkan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi anak didik agar mampu menjadi manusia yang berkarakter dan berilmu pengetahuan. Pertanyaan yang perlu dijawab terkait simpulan ini adalah apakah saya sebagai guru sudah mengembangkan potensi anak? Atau sebagai orang tua perlu kita melihat perkembangan potensi anak melalaui perilkau pendidikannya.

Pendidikan berperan penting untuk memajukan suatu bangsa. Maka dari itu suatu bangsa perlu memiliki sistem pendidikan yang berkualitas. Apalagi saat ini kita sudah menjalani suatu masa yang dinamakan abad 21. Abad 21 ini ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat terutama teknologi informasi yang berdampak pada segala bidang. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa tatanan kehidupan yang mendunia. Keadaan ini disebut globalisasi dimana batas antar wilayah dan negara sudah tidak berarti lagi.

Dunia pendidikan juga perlu mengalami perubahan yang sama cepatnya dengan perubahan zaman. Untuk mencapai perubahan tersebut perlu adanya keinginan atau kemauan guru untuk dapat meningkatkan kemampuan, kapasitas dan kompetensi yang memadai guna mendukung perannya dalam pendidikan. Guru harus memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional.

Guru berperan penting dalam pendidikan. Kualitas pendidikan ditentukan oleh kualitas guru. Sebaik apapun kurikulum yang ada, tetapi bila mutu guru masih belum memadai maka pendidikan tidak akan berjalan sesuai dengan harapan. Maka dari itu, guru merupakan kunci utama untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Dalam kondisi saat ini paradigma pembelajaran dari offline menjadi online. Perubahan paradigma tersebut membuat para pendidik kebingungan mengajar berbasis online atau daring yang tentu saja proses perpindahan kebiasaan bagi guru. Tidak tertutup kemungkinan mengalami beberapa kendala dan jika ini terjadi maka proses belajar pun akan mengalami apa adanya, mengakibatkan daya capaianya pun apa adanya.

Boleh dikatakan fungsi pendidikan antara laian (a) mengembangkan kemampuan, membentuk watak, kepribadian agar peserta didik dapat menjadi pribadi yang lebih baik, (b) untuk mempersiapkan seluruh masyarakat dapat mandiri dalam mencari nafkahnya sendiri, (c) membangun serta mengembangkan minat dan bakat individu demi kepuasan pribadi dan kepentingan umum, (d) membantu melestarikan kebudayaan masyarakat, (e) menanamkan keterampilan yang dibutuhkan dalam keikutsertaan dalam berdemokrasi, dan (f) menjadi sumber-sumber inovasi sosial di masyarakat, akan jauh dari ekspektasi masyarakat, karena ketidakmampuan kita mengahadapi tantangan.

“Kita harus mengajarkan orang bagaimana menghadapi tantangan. Kita ajarkan pada orang-orang bahwa kegagalan dan kesalahan bukan untuk dihindari tapi bagaimana kegagalan itu dihadapi dan melatih diri menghadapinya.” Jack Ma seorang miliarder dari Tiongkok mengatakan bahwa di masa depan, ada beberapa hal harus menjadi fokus perhatian: guru, ruang kelas, dan siswa.

Jack Ma berpendapat kelas tidak boleh hanya menghabiskan 40 menit untuk diam membaca dan mengerjakan tugas atau ujian. Guru tidak boleh lagi menjadi pusat kelas sebagai “orang dengan semua pengetahuan”. Menurutnya pendidik harus mulai fokus pada kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, bukan hanya mendapatkan jawaban yang benar. Ini beraeti bahwa jika guru fokus pada standarisasi, semuanya dapat diganti dengan apa yang kita iginkan, mesin misalnya.

Pendidikan bukan soal siap kerja tetapi yang perlu kita lakukan adalah pendidik banyak berbicara tentang perlunya reformasi holistik, sehingga pendidikan kita ready to used, untuk mengantisipasi ketimpangan perusahaan karena banyak pengusaha lebih sering fokus pada pendidikan sebagai sarana untuk melatih pekerja masa depan atau menyiapkan lulusan siap kerja daripada memelihara manusia berpengetahuan luas.

Pendidikan telah menghabiskan banyak upaya tentang “bagaimana” kita memberi pendidikan kepada siswa, dan bagaimana siswa menerima pendidikan itu, tetapi beberapa kelompok masyarakat mangatakan bahwa pendidikan kita belum mampu menjawab tantangan perkembangan zaman, berarti kita belum mendidik adanya apa sebagai suatu kebutuhan di era saat ini.

Oleh karena itu banyak pelaku usaha menyebutkan pendidikan sebagai “masalah yang paling penting dan kritis” di zaman ini, karena perubahan begitu cepat tetapi pendidikan dianggap belum mampu mengikuti kecepatan zaman ini. Tantangan pendidikan kita bukan pada bagaimana kita berkompetisi mengetahui ilmu pengetahaun, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita berkompetisi untuk berinovasi, kreatif dan berkompetisi menjalani hidup yang tepat dalam kondisi dunia yang semakin maju, semakin menantang untuk kita pelajari.

Yakinkan generasi kita bahwa kita bukan hanya bagaimana membuat uang dan menyimpan uang. Kita tidak hidup karena uang. Kita tidak bekerja karena uang, artinya kehidupan ini tidak bisa diukur dengan uang, tetapi bagaimana kita hidup dengan kecerdasan sebagai orang yang memiliki pengetahuan sebagai suatu kewajiban.

Dalam banyak firman-Nya, Allah SWT kerap mengisyaratkan dengan tegas kepada manusia untuk menimba ilmu, menjadi insan yang terdidik. Tak sedikit ayat Alquran yang memerintahkan manusia agar senantiasa menjadi manusia yang berpikir. Bahkan, ayat pertama yang Allah SWT turunkan melalui Rasulullah adalah perintah untuk membaca: Iqra!

Risalah Alquran juga mengajarkan tentang hikmah dan menyerukan manusia agar menggunakan nalarnya untuk berpikir yang benar. Mencari kebenaran, dan menjauhi serta meninggalkan yang batil. Hikmah ini membuka pikiran orang-orang buta huruf agar lebih giat dalam mencari ilmu. Bahkan secara tegas Allah SWT telah memberikan derajat yang setinggi-tingginya bagi hamba-Nya yang menuntut ilmu. Tingginya derajat orang yang menuntut ilmu berada jauh di atas orang-orang yang tidak memiliki gairah dalam menuntut ilmu. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy