Menaati Imbauan Gubernur, Oleh : Prof. Eka Suaib – Kendari Pos
Kolom

Menaati Imbauan Gubernur, Oleh : Prof. Eka Suaib

KENDARIPOS.CO.ID — Gubernur Sultra mengeluarkan imbauan Nomor 443/4724 tanggal 21 September 2020. Isinya tentang peningkatan pelaksanaan protokol kesehatan (Prokes) pencegahan penularan corona virus disease 2019 (Covid-19). Alasan diterbitkannya imbauan dimaksud karena meningkatnya jumlah warga masyarakat Sultra yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Dosen Fisip Universitas Halu Oleo, Prof. Eka Suaib

Pada bulan September ini, penambahan kasus terkonfirmasi sebesar 40-50 per hari. Jika sebelumnya, klaster yakni pada rumah sakit, tapi kini juga sudah merambah pada klaster perkantoran, keluarga, dan tenaga kesehatan. Dasar hukum terbitnya imbauan adalah Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19.

Ada juga Maklumat Kapolri Nomor Mak/31/IX/2020 dan Peraturan Gubernur Sultra Nomor 29 tentang Pedoman Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Pencegahan dan Pengendalian Virus Corona.

Gubernur mengimbau agar semua masyarakat untuk mematuhi semua ketentuan terkait dengan pelaksanaan protokol kesehatan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Caranya yakni dengan menggunakan masker yang menutupi hidung, mulut dan dagu, sering mencuci tangan, menjaga jarak dan mencegah kerumunan.

Selain itu juga dilarang melakukan kerumunan dalam bentuk pertemuan kegiatan sosial kemasyarakatan seperti pesta perkawinan, arisan, reuni, dan acara sejenis, termasuk kegiatan demonstrasi. Jika melanggar, maka akan dilakukan tindakan hukum oleh penegak hukum dan aparat pemerintahan berwenang.

Pada durasi video yang lain menunjukkan Sekda Provinsi, Nur Endang Abbas menjelaskan bahwa tetap ada pengecualian atas imbauan tersebut. Yakni bagi warga yang akan melaksanakan pesta perkawinan, undangan sudah diedarkan. Jika seperti itu, tetap diizinkan menjalankan aktivitasnya. Tentu dengan protokol kesehatan yang ketat.

Jika diperhatikan dengan saksama, poin penting yakni pada kegiatan sosial kemasyarakatan seperti arisan, pesta perkawinan, reuni, termasuk aksi demonstrasi. Tafsirannya, bisa saja kegiatan sosial kemasyarakatan dilaksanakan dengan pengaturan yang lebih ketat. Jika ada warga negara yang mau laksanakan pesta perkawinan, bisa bersurat ke Satgas Covid agar mendapat pengawalan dari petugas untuk melaksanakan protokol kesehatan.

Pada konteks kebijakan yang lebih luas, kebijakan ini perlu diperluas dalam skala yang lebih mengikat. Yakni berupa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan ini merupakan kebijakan yang bersifat membatasi kegiatan di tempat-tempat dan fasilitas umum. Caranya dengan membatasi jumlah orang dan pengaturan jarak antar orang.

Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten menghindari kebijakan ini. Soalnya, jika PSBB, identik dengan isolasi wilayah. Ada penafsiran bahwa jika PSBB, masyarakat tidak beraktivitas secara normal. Roda perekonomian akan macet. Ada kekhawatiran akan timbul kecemasan kolektif.

Melalui imbauan gubernur ini, sebenarnya bermaksud untuk ‘mengatur ulang’ perilaku masyarakat. Sebab, toh jika diperhatikan butir-butir imbauan, upaya untuk mengingatkan bahwa saat ini masih situasi wabah. Apalagi penularan di zona kritis, berat, dan cukup berat.

Zona kritis, yakni jika layanan kesehatan kewalahan. Zona berat yakni jika layanan kesehatan padat. Zona cukup berat, jika fasilitas pelayanan kesehatan beroperasi dalam kapasitas ekstra.

Perlu terus edukasi kepada masyarakat, bahwa saat ini belum ada vaksin untuk menyembuhkan. Salah satu yang bisa dilakukan yakni dengan terus melakukan imbauan agar ada kesadaran yang pada akhirnya akan dapat memutus penyebaran virus ini.

Pemerintah perlu terus menumbuhkan kebiasaan baik agar penularan covid dapat dicegah. Perlu terus dipupuk kebiasaan yang berulang dari waktu-waktu, dari generasi ke generasi, membentuk budaya. Kebiasaan untuk menggunakan masker. Kebiasaan untuk jaga jarak. Kebiasaan untuk cuci tangan. Jika itu terus dilakukan, akan membentuk budaya unggul, baik individu dan organisasi. Budaya unggul dibentuk dari kualitas saling percaya yang tinggi.

Fukuyama, salah seorang filsuf modern, meyakini bahwa kekuatan suatu bangsa sangat ditentukan oleh pada kualitas kepercayaan yang tinggi. Ada kisah menarik yang ditulis oleh Fukuyama. Sejak awal abad-19, ketika susu dikenal sebagai minuman yang sehat, maka keluarga yang ada di Amerika senantiasa memesan susu dalam botol.

Tukang susu datang dan meletakkan botol berisi susu di depan pintu. Ibu rumah tangga mengambil dan memasak susu untuk anak-anak dan suami. Itu dilakukan tiap hari. Akhir bulan, tukang susu mengumpulkan uang dari rumah ke rumah. Para keluarga percaya bahwa tukang susu tidak mencampur susunya dengan santan, apalagi formalin. Imbalannya, ibu-ibu dengan senang mengumpul uang buat penjual susu. Ada kepercayaan timbal balik.

Kita punya keyakinan dan optimis bahwa pandemik ini akan dapat diputus jika tumbuh kepercayaan. Soalnya, ini bukan perkara mudah. Dengan populasi yang cukup besar, infrastruktur yang masih perlu dibenahi, birokrasi yang tersebar sampai level bawah, maka kepercayaan dari masyarakat sangat dibutuhkan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy