KPAI Sebut Subsidi Kuota Gratis Mubazir – Kendari Pos
Nasional

KPAI Sebut Subsidi Kuota Gratis Mubazir



KENDARIPOS.CO.ID — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan bahwa kuota belajar dalam subsidi kuota Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan banyak yang tidak terpakai. Dia menilai kuota belajar yang besar ketimbang kuota umum akan mubazir.

Ilustrasi sekolah daring. DERY RIDWANSYAH/JAWAPOS.COM

“Kuota belajar berpotensi mubazir karena minim digunakan, sebab mayoritas guru justru lebih senang menggunakan aplikasi yang jatuhnya justru merupakan kuota umum,” jelas Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis, Selasa (22/9).

Adapun, kuota belajar untuk jenjang PAUD hingga perguruan tinggi berada dikisaran 20 GB sampai 45 GB per bulan. Pemakaian pun dirasa akan sangat minim, karena aplikasi yang dapat digunakan sangat terbatas pada kuota belajar.

“Kuota belajar dalam paket yang diberikan kepada para peserta didik berdasarkan apa spesifikasinya, apakah aplikasi yang sudah menjadi partner Kemendikbud ataukah semua aplikasi dapat dipergunakan dengan tidak terikat pada provider tertentu, sehingga peserta didik dapat memanfaatkan paket belajar”, tuturnya.

Dia pun membeberkan, dalam survei KPAI sangat banyak aplikasi yang lebih sering digunakan untuk Pendidkan Jarak Jauh (PJJ) malah tidak mampu menyerap kuota belajar. Artinya, disaat aplikasi lain digunakan, maka yang terserap adalah kuota umum yang jumlahnya sangat minim yakni GB per bulan.

Lalu, 87,2 persen responden melakukan interaksi PJJ secara daring melalui chating dengan aplikasi WhatsApp, Line, Telegram atau Instagram sebanyak 20,2 persen, menggunakan zoom meeting sebesar 7,6 persen. Kemudian, yang menggunakan video call whatsapp dan telepon hanya 5,2 persen.

“Artinya, mayoritas menggunakan aplikasi yang justru lebih membutuhkan kuota umum. Aplikasi seperti zoom meeting malah hanya digunakan para guru sebanyak 20 persen saja dari total 1.700 responden siswa,” imbuhnya.

Menurutnya, terkait dengan urusan pengiriman ataupun menerima video kiriman, semuanya butuh kuota besar, sehingga kuota umum rasanya terlalu sedikit. Dari survei KPAI, penugasan mengirim video mencapai 55 persen dari 1.700 responden. “Maka hal ini perlu disiasati agar uang Negara dapat dioptimalkan membantu PJJ daring, jangan malah menguntungkan providernya,” ucapnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mulai menyalurkan bantuan subsidi kuota gratis kepada siswa, guru, mahasiswa, dan dosen. Hal tersebut akan terus dilakukan hingga Desember mendatang.

Menanggapi hal itu, Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Jamal Wihoho menyampaikan bahwa Kemendikbud perlu memilki strategi lainnya untuk mengatasi permasalahan pembelajaran jarak jauh (PJJ), khususnya daring. Sebab, pandemi ini belum diketahui kapan bisa ditangani.

“Kemendikbud itu harus ada plan A, B, C. Plan A harapannya sampai Desember selesai, lalu plan B ditambah 4 bulan. Plan C tambah lagi 4 bulan. Di beberapa negara disampaikan, vaksin (Sinovac) itu kan baru (diproduksi) pertengahan 2021, kalau itu terjadi betul, harus ada plan A, B, C,” ungkap dia kepada wartawan, Selasa (22/9).

Semua harus ada pemetaan, kata dia. Tidak bisa menentukan dengan pasti kapan waktu anak mulai kembali bersekolah. “Kita nggak bisa memaksakan, Januari udah masuk lagi, kan ngga ada yang berani mengatakan seperti itu, kita harus melihat apakah zona itu merah atau kuning, bahkan yang hijau bisa kuning, (zona) itu kan dinamis,” tambahnya.

Untuk itu, dengan anggaran terbatas yang dimiliki negara, pemerintah dalam hal ini Kemendikbud harus memanfaatkan dana tersebut seefisien mungkin. Jangan memberikan bantuan terlalu besar ataupun terlalu kecil. “Anggaran terbatas yang meminta makin banyak, sampai kapan belum bisa diketahui, kebutuhan yang dikeluarkan negara bukan cuma pulsa, ada untuk ekonomi dan kesehatan saja. Ngga boleh satu bidang saja,” ujarnya.

Para tenaga pendidikan pun juga diminta untuk lebih pintar dalam mengatur penggunaan kuota. Di mana kata dia, belajar daring bisa menggunakan dua metode, yaitu sinkronus yang menggunakan zoom atau asinkronus dengan memanfaatkan WhatsApp Group (WAG).(jpg)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy