Jangan Galau Kawan, Oleh : Prof. Hanna – Kendari Pos
Kolom

Jangan Galau Kawan, Oleh : Prof. Hanna

KENDARIPOS.CO.ID — Banyak orang berkata bahwa kondisi kehidupan saat ini terasa tidak stabil. Sektor ekonomi, pendidikan, maupun budaya mengalami perubahan yang menyebabkan kegalauan masyarakat. Kata galau adalah salah satu kata yang sedang trend saat ini. Sebuah ungkapan perasaan seseorang ketika sedang mengalami kebingungan, bimbang, dilema, dan depresi.

Prof. Hanna

Ekspektasi yang tidak tercapai ibarat drama Korea saat ini membuat para penonton ingin mencontoh perilaku aktor dan aktris dalam film tersebut yang sama sekali tidak mungkin dalam dunia nyata. Efek yang dihasilkan dari sana adalah memicu kegalauan, karena ekspektasi yang tidak tercapai.

Saya menyimak percakapan menarik dalam pesawat saat perjalanan dari Makassar ke Kendari beberapa hari lalu. Percakapan itu dimulai dari proses pemeriksaan rapid test di bandara sampai pada sistim cek in sampai saat ketibaan di tempat tujuan. Saat tiba harus menunjukkan surat eCHAc, yang menurut sebagian orang sangat merepotkan, namun sebagian lainnya yang memahami prosedur dan pentingnya kesehatan menganggap itu adalah sebuah prosedur yang benar. Di sini ada yang merasa galau.

Kegalauan lain terjadi antara pendidik yang merasa bahwa ia tidak melakukan pendidikan yang memadai selama Covid ini. Sang guru hanya memberikan tugas melalui pesan WhatsApp (WA), memeriksa lalu memberikan nilai dalam rapor sebagai hasil proses pendidikan yang ia lakukan selama ini.

Ia merasa galau bahwa pendapatan yang diterima dari pemerintah tidak seimbang dengan kerjanya. Pemerintah memberikan banyak padahal ia bekerja apa adanya, karena Covid. Sedangkan ibu yang duduk disampingnya adalah seorang guru pula. Ia merasa galau bahwa apa yang dilakukan adalah memberikan pelajaran lewat daring merupakan pengalaman pertama dengan kemampuan sangat terbatas. Namun itulah kenyataannya, memang lucu seakan-akan bahwa ia hebat IT padahal ia tidak paham tentang IT. Lalu memberikan nilai sesuai dengan nurani, bukan lagi dengan kemampuan siswa.

Mau apa lagi dalam kondisi ini, mungkin serba dipermudah, sehingga kehawatiran mereka akan hadir generasi generasi milineal yang jauh dari ekpsektasi masyarakat, karena perlakuan pendidikan yang belum memadai sebagaimana tuntutan yang diharapkan. Kegalauan seperti ini mungkin hanya sebagian dari kita yang merasakannya.Namun itulah kenyataanya, Covid telah mengajarkan kita arti kehidupan.

Galau digolongkan sebagai adjektiva, artinya kata sifat yang biasanya ikut pada sebuah subjek berupa nomina. Sedangkan, satu-satunya pengertian yang menyangkut kondisi psikologis, adalah keadaan “kacau tidak keruan” yang lebih tepat dirujuk kepada keadaan pikiran. Dengan kata lain bahwa makna dari kata “galau”, tentunya kata ini sudah tidak asing lagi dengan kamu semua bukan?

Kata “galau” sering kita dapatkan dari banyak media massa yang berada disekitar kita seperti misalnya koran, majalah, internet, radio, televisi dan yang lainnya. Ada yang memberikan pengertian bahwa galau adalah “kegamangan rasa karena ketidak-jelasan”. Ya, sesuatu yang tidak jelas terkadang bisa menimbulkan kegalauan. Misalnya nilai ujian yang belum keluar terkadang membuat kita galau, lebih-lebih kalau nilainya keluar dan hasilnya kurang baik, bisa lebih galau lagi.

Ada juga yang memberikan makna galau sebagai “sebuah perasaan tidak tenang didalam hati dan pikiran manusia”. Jika kita merujuk dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, maka arti galau adalah “kacau tidak keruan (pikiran)”, artinya adalah suatu keadaan atau kondisi dimana seseorang sedang mengalami pikiran atau perasaan yang sedang kacau tidak karuan.

Dalam kondisi seperti ini seseorang merasa “terkurung” dalam keadaan yang ada dan merasa kesulitan untuk mengambil keputusan apalagi untuk menyelesaikannya, menyebabkan seseorang menjadi sedih. Perasaan sedih, kesepian, dan tak tenang, atau biasa disebut sebagai rasa galau, sering datang tanpa diduga. Terkadang, kegalauan itu tetap melanda batin walau kita sebenarnya baik-baik saja. Kegelisahan hati itu ternyata tak cuma bersumber dari rasa kesepian atau patah hati. Banyak kebiasaan sehari-hari, misalnya pola makan atau mengamati sosial media, yang berkontribusi pada timbulnya perasaan galau.

Istilah ‘galau’ mungkin sudah sering kita dengar. Kata yang populer disebutkan anak muda di berbagai jejaring sosial ini biasanya digunakan sebagai ungkapan terhadap perasaan sedih, gamang, dilema dan sesuatu yang tak bertujuan. Meski kelihatan sepele, ternyata ‘galau’ bukan hanya ungkapan biasa. Ungkapan ini ternyata memiliki dampak negatif secara psikologis (depresi), bahkan terhadap kesehatan fisik seseorang jika berlangsung terus menerus.

Psikolog klinis Elizabeth Santosa mengungkapkan bahwa kata-kata ‘galau’ tak bisa dijadikan sebuah budaya untuk ungkapan yang sederhana. “Depresi pada orang dewasa biasanya didasari oleh Major Events atau hal-hal berat yang terjadi dalam kehidupannya, misalnya dipecat, perceraian, hingga meninggal. Orang dewasa seharusnya enggak sering galau, berbeda dengan remaja,” ujarnya.

Pada remaja, konteks galau biasanya disebabkan oleh hormon estrogen yang berpengaruh pada mood dan emosi.”Tapi jika tidak belajar tentang manajemen emosi, biasanya kegalauan itu akan terus berlangsung hingga dewasa. Kalau dewasa akan banyak tantangan hidup yang membuat Anda lebih emosi.”

Galau itu ungkapan populer. Padahal dalam KBBI artinya ramai, chaos. Jadi bisa disimpulkan itu sebagai gambaran pikiran kacau, kegamangan dan ketidak pastian. Galau dan ungkapan stres kalau dijadikan budaya akan berdampak buruk untuk diri kita.

Dalam padangan medis, galau ternyata merupakan sebuah gejala dari gangguan yang sedang terjadi di dalam otak. Spesialis syaraf Johan Akbari Sps, Sh, MArs, mengungkapkan bahwa kondisi galau membahayakan kesehatan otak. Sehingga merasa galau dalam jangka waktu yang lama atau terus-menerus ternyata dapat membahayakan kesehatan otak dan tubuh manusia. “Kita tidak akan merasa bahagia, sebaliknya akan sedih terus menerus.

Solusi yang perlu dilakukan adalah (1) banyak orang berkata bahwa mudah galau adalah tanda seseorang tidak memilik prinsip hidup, yang membuat keadaan mental seseorang stabil. Jika hanya memiliki prinsip saja tidaklah cukup, maka terapkan prinsip tersebut ke kehidupan anda. Jangan mentoleransi prinsip anda, toleransi pertama membuat toleransi kedua dan seterusnya, (2) percayalah diri anda, bahwa jika hidup seseorang dikendalikan oleh perasaan galau, maka setiap hal yang seseorang lakukan akan diawali kegalauan.

Keputusan untuk move on atau terus terlarut dalam kegalauan. Banyak orang mengalami kegalauan karena tidak mampu mengendalikan hidupnya. Salah satu contohnya adalah belum bisa move on setelah bertahun-tahun mengalami masalah. Ini membuktikan bahwa kegalauan yang mengendalikan hidupnya, dan (3) masuklah ke zona nyaman yakni keadaan perilaku dimana seseorang berada dalam kondisi tanpa kecemasan, dengan perilaku yang dikondisikan untuk memberikan tingkat kinerja stabil, biasanya bebas dari resiko. Tidak ada ruang untuk petualangan dan kegembiraan dalam zona nyaman, bahkan, dari waktu ke waktu anda mungkin merasa muak dan terjebak dalam kebosanan dan ketakutan. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy