Dana BOS Madrasah Dipotong Rp 100 Ribu per Siswa

KENDARIPOS.CO.ID — Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto mempersoalkan kebijakan Kemenag yang masih memotong dana bantuan operasional sekolah (BOS) madrasah swasta Rp 100 ribu per siswa. Yandri menjelaskan bahwa sebagaimana keputusan dalam rapat kerja sebelumnya, Menag Fachrul Razi jelas dan tegas menyatakan tidak ada pemotongan dana BOS. “Semua menjadi saksi itu, dan itu sudah menjadi konsumsi publik!” tegas Yandri saat memimpin rapat kerja Komisi VIII DPR dengan Wakil Menag Zainut Tauhid Sa’adi, Rabu (23/9).

Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto

Yandri menyatakan dalam tiga hari terakhir ini dia mendapatkan pengaduan lewat pesan WhatsApp bahwa dana BOS untuk madrasah swasta masih dipotong sebesar Rp 100 ribu per siswa. “Ini supaya tidak ada yang ditutup-tutupi, supaya tidak dianggap dagelan, pak, ya tidak gaduh terus, ternyata itu dana BOS masih dipotong sampai bulan Desember per siswa Rp 100 ribu,” sesalnya.

Karena itu, Yandri meminta penjelasan Wamenag Zainut supaya keputusan pembatalan dana BOS yang sudah diambil di gedung yang terhormat tersebut bisa dipertanggungjawabkan. Menurut dia, semua sudah menyambut gembira saat Menag Fachrul tegas menyatakan kepada jajarannya supaya pemotongan dana BOS dibatalkan. Yandri menegaskan, para kiai, madrasah, maupun guru itu sudah menyambut dengan gegap gempita.

“Namun, dengan tetap dipotong itu saya kira perlu penjelasan lebih lanjut dari Pak Wamen kenapa situasinya bisa seperti itu sehingga kita tidak dianggap main-main mengambil sebuah keputusan di gedung yang terhormat ini,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum PAN itu mengatakan bahwa penjelasan Kemenag ditunggu publik, terutama kalangan madrasah yang selama ini mengharapkan tidak ada pemotongan dana BOS di tengah pandemi Covid-19. Yandri ingin persoalan tersebut selesai hari ini, supaya janji tidak ada pemotongan dana BOS bisa direalisasikan. “Kami perlu memastikan informasi itu clear supaya tidak ada simpang siur di lapangan,” kata Yandri.

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi membenarkan pernyataan Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto bahwa Kemenag masih melakukan pemotongan dana bantuan operasional sekolah (BOS) untuk madrasah Rp 100 ribu per siswa sampai Desember 2020.

Berbicara dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, Rabu (23/9), Zainut menjelaskan alasan Kemenag masih memotong dana BOS tersebut. “Kami sampai dengan saat ini memang benar kalau disampaikan Bapak Pimpinan bahwa masih adanya pemotongan dalam realisasi. Karena kami masih berdasarkan pada anggaran yang sudah ditetapkan awal,” ujar Zainut.

Menurut Zainut, Kemenag saat ini sedang berusaha mengajukan permohonan kapada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar melalui Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara (BA BUN) agar kementerian yang dipimpin Sri Mulyani Indrawati itu memberikan tambahan dana untuk BOS tersebut.

“Kami mengajukan angka Rp 900 miliar. Artinya, (agar) uang tersebut dikembalikan sesuai rencana awal (tidak adanya pemotongan),” kata mantan anggota DPR dari Fraksi PPP itu. Zainut mengatakan, Kemenag akan terus berikhtiar. Bahkan, kata dia, Menag Fachrul Razi juga sudah berkomunikasi langsung dengan Kemenkeu agar menyetujui permohonan yang diajukan Kemenag tersebut.

“Jadi, mohon dengan hormat kepada Bapak Pimpinan, kami akan terus berikhtiar, kami akan terus melakukan komunikasi bahkan Bapak Menang langsung berkomunikasi dengan pihak Kemenkeu. Kami setelah dari rapat kerja ini akan akan terus menindaklanjuti hal tersebut,” janji Zainut. (boy/jpnn)

Facebooktwittermail

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.