Bersalaman dengan Beban Kehidupan, Oleh : Muhammad Radhi Mafazi, S.Psi – Kendari Pos
Opini

Bersalaman dengan Beban Kehidupan, Oleh : Muhammad Radhi Mafazi, S.Psi

KENDARIPOS.CO.ID — Sudah lebih dari setengah tahun kita berusaha hidup di tengah pandemi. Ajang pamer liburan yang sering terlihat di akun sosial media, tidak bisa lagi dilakukan. Dunia seperti berhenti sejenak. Walaupun beberapa dari kita tidak peduli dengan bencana ini. Bencana yang bukan hanya menyerang sisi fisik tetapi psikis terserang secara tidak langsung. Paling rendah mereka mengalami psikosomatis, seolah merasakan hal yang sama dengan gejala covid-19 dan rasa cemas.

Muhammad Radhi Mafazi, M.Psi, Pembimbing Kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan Kelas II Baubau

Rasa cemas terjadi karena manusia berkaitan dengan harapan berlebihan (ekspetasi) pada suatu ketidakpastian. Sama halnya pada awal kemunculan virus covid-19, seolah hanya dengan beberapa ramuan herbal dengan modal “katanya” bisa terhindar. Hingga banyak dari kita berekspektasi virus ini hanya isapan jempol semata. Alhasil banyak dari masyarakat yang cemas. Berdasarkan hasil penelitian dari Persakmi dan Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Airlangga, bahwa 56 persen masyarakat Indonesia mengalami kecemasan dengan kategori cemas dan sangat cemas pada berbagai aspek kehidupan. Hingga saking cemasnya masyarakat Indonesia yang ramah dan mudah mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan orang lain kini tidak dapat dilakukan.

Faktor penyebab kecemasan salah satunya adalah “pembatasan”, segala aktifvtas. Seolah manusia sedang terkurung di dalam sebuah jeruji besi. Mungkin ini salah satu pengingat bahwa rasa empati perlu sedikit ditingkatkan paling tidak untuk mengikis stigma negatif terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan dan tahanan di Lapas maupun Rutan yang jumlah keseluruhan per bulan September sudah mencapai angka 233.205. Ini pentingnya menikmati rasa sakit, agar manusia pada titik tertentu, pada koridor dapat dimaafkan bisa menerima rasa sakit dari orang lain. Karena “membatasi” sesama manusia hanya akan memuaskan dahaga dendam sesaat. Bahkan tidak akan menjadikan dunia ini damai terlebih mendamaikan diri sendiri.

Pada hari perdamaian dunia yang diperingati setiap tanggal 21 September, dalam keadaan pandemi seperti ini. Merefleksi sejenak dengan membuat pertanyaan mengapa ada sebagian dari manusia dapat “bersalaman” dengan bebannya? Seolah ia sudah akrab dengan beban kehidupannya dan tidak lagi berekspetasi terhadap hasil akhir dari penyelesaian beban kehidupannya. Pertanyaan ini akan menjadi nyawa, mengalirnya tulisan hingga akhir paragraf.

Bersalaman sendiri diambil dari kata salim yang dalam bahasa arab artinya damai. Bukan hanya sekadar berjabat tangan sebagai simbol saja. Tapi lebih dalam bersalaman merupakn bentuk permufakatan terhadap suatu kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. Momentum hari perdamaian dunia di tengah pandemi ini, kita jadikan cara secara bersama sama untuk bersalaman dengan beban yang sedang dipikul pada pundak kita masing-masing. Beban hidup manusia yang bersumber pada setiap masalah merupakan awal dari rasa tidak nyaman, hingga sebagian dari manusia lebih sering memilih melampiaskan bebannya bukan mencari solusi.

Bukan salah kita, karena ini adalah bagian dari efek samping pola asuh yang kurang tepat, sebagian besar orangtua selalu mencoba melindungi anaknya terlalu berlebihan terbuktisebagian dari kita saat masa anak-anak ketika mengalami kesulitan dalam bermain dan bersosialisasi sering orangtua ikut membantu secara penuh.

Menurut Jessica dalam bukunya The Danish Way Of Parenting, yang memaparkan bahwa anak yang selalu dilindungi orangtuanya dalam menghadapi atau bahkan menghindari masalah di tahap perkembangan remaja maupun dewasa akan mudah depresi dan merasakan kecemasan, dikarenakan tidak adanya kendali eksternal yang ia rasakan sebelumnya. Sebagai langkah pencegahan, cara bersalaman dengan beban perlu diterapkan.

Tahap Bersalaman dengan Beban

Peradaban manusia pada hari ini merupakan buah dari penyelesaian permasalahan hidup di masalalu. Bahkan para ilmuan sengaja mencari beban hidup sebagai cara menemukan penemuan baru. Einstein berkata bahwa “terpuruk dalam sebuah masalah adalah peluang hebat bagi kita” . Adanya masalah atau bebanmembuat manusia semakin kuat, banyak tokoh besar yang lahir dari getirnya beban kehidupan. Karena pelaut ulung tidak dibentuk dari ombak yang tenang, begitu kata pribahasa. Mencoba melihat beban hidup sebagai tamu, tentunya ada tahapan proses untuk menyambut, tiga tahap ini bisa membantu:

Berhenti Berekspetasi

Mark Manson mengingatkan kepada manusia yang berekspetasi terhadap hidup diliputi kebahagiaan saja dalam bukunya Everything is Fcked, “Kelak kamu dan semua orang yang kamu cintai akan mati. Dan dalam sekelompok kecil orang, selama waktu yang cukup singkat saja hanya sedikit kata-kata atau tindakanmu yang masih berpengaruh. Inilah kebenaran yang menggelisahkan tentang kehidupan. Dan semua yang kamu pikir dan kerjakan hanyalah untuk menghindari kenyataan itu. Kita adalah debu kosmik yang tidak berguna, bertabrakan dan berputar-putar seperti titik biru yang kecil. Kita sendiri yang merasa sok penting. Kita mencari-cari tujuan kita—kita bukan apa-apa (enjoy your fcking coffee).”

Tidak bisa dipungkiri, banyak dari manusia yang terlalu berekspetasi tinggi pada kehidupan yang fana. Ilusi kebahagian berasumber hanya pada pandangan sempit dan hedonisme terlalu dikumandangkan diseluruh sendi kehidupan membuat dunia seolah surga tanpa ada rasa sakit ini merupakan jebakan. Untuk terhindar dari jebakan ini kita harus realistis dengan segala kemungkinan tindakan yang mengintai kita. Ekspetasi membuat segala kemungkinan termasuk resiko dari setiap tindakan kita menjadi terabaikan, untuk itu berhenti berekspetasi dan beralih menjadi realistis adalah solusinya.

Berpikir Reflektif

Berfikir Reflektif adalah gabungan dari berfikir aktual dan berfikir literal atau biasa disebut kritis dan kreatif, dua cara berfikir yang digunakan oleh para penemu besar termasuk Einstein dalam memecahkan masalah sehingga menemukan penemuan baru yang berguna bagi kehidupan manusia. Budi (2016) dalam bukunya Berpikir Ala Einstein Bertindak Ala Gandhi menjelaskan bahwa berpikir aktual merupakan cara mewujudkan hal yang abstrak (teroritis) pada hal yang nyata sedangkan berpikir literal merupakan cara keluar dari ide dan persepsi yang ada untuk menemukan ide-ide baru. Dua cara berpikir ini bisa dilakukan oleh manusia dengan cara memperluas pandangan kehidupan, akan sangat berguna bagi sumber referensi pada tahap mencari solusi saat bersalaman dengan beban kehidupan.

Berani Mencoba

Tahap yang terakhir ini akan menjadi penentu dari dua proses diatas berhasil atau tidak. Pada tahap ini individu diwajibkan untuk mengulurkan tangannya, setelah dari dua tahapan diatas sebagai bentuk mengalahkan diri sendiri, mengenali beban yang datang, dan tahap terakhir merupakan tahap menerimanya dan melakukan solusi terhadap beban kehidupan yang sedang datang pada manusia.

Kebanyakan dari individu menemui jalan buntu dalam mencoba langkah nyata mencari solusi karena pada proses tahapan satu dan dua tidak dijalankan dengan baik dan benar, sehingga ia tidak mengenali beban yang datang atau malah terbuai dengan angan-angan yang melenakan dirinya. Proses menerima setiap beban merupakan bagian dari pengendalian diri untuk mencapai solusi yang diinginkan. Beban kehidupan yang sedang kita pikul ini boleh diimajinasikan sebagai tamu, pada titik tertentu akan selesai apabila semua urusan serta kepentingannya telah usai.

Beban kehidupan setiap manusia sudah ditakar kadarnya, respon manusia yang terkadang berlebihan membuat tertutupnya pintu solusi. Bersalaman dengan beban merupakan bentuk perdamaian sekaligus sebagai pengukuhan bahwa dirinya masih diberikan kesempatan untuk menorehkan sejarah. Bersalaman dengan beban merupakan cara untuk mengenal dan mencari jalan keluar. Selamat melakukan perdamain. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy