Bermain di Perbatasan Surga-Neraka, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Bermain di Perbatasan Surga-Neraka, Oleh : La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID —

Boleh juga. Bisa. Kayaknya, tidak melanggar pasal pidana. Itu namanya baku sewa, bukan judi. Karena judi dalam pengertian bahasa Indonesia versi La Woto, judi ialah: main kartu, taro uang di depan.

Ada pompa-pompanya.
Ada istilah halek.
Ada istilah saho.
Ada istilah pot. Aada istilah “satu di sini”.
Ada istilah “selang”.
Dan terakhir ada istilah: “oppuh”.

Jadi, tarohan siapa yang menang dan siapa yang kalah di Pilkada head to head, itu bukan judi, tapi selingan para politisi atau orang yang hobi bicara politik tapi berwatak judi.

Bagaimana kalau duit kemenangan dalam pasar tarohan di Pilkada, dibangunkan rumah ibadah? Bagi saya yang hanya tahu “surah Kuluhu”, kayaknya, itu bisa masuk surga tapi dekat-dekat neraka. Kira-kira, di perbatasan Surga-Neraka-lah. Tapi, untuk jelasnya, tanyalah kepada alim-‘alama, atau orang yang berilmu tentang itu.

Tapi bahwa, saya yang bukan pemain judi, diajak tarohan di Pilkada head to head, rasanya kok ingin sekali. Bentuk tarohannya, bisa gundul rambut, berenang dari Sanggula ke Lapulu, berenang dari Pure – Bakealu, jalan kaki dari Tinanggea ke Desa “Terapung” Bungin, atau jalan mundur dari Raha ke Tampo.

Sedikitnya, ada empat daerah penggelar pemilihan bupati di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang “enak” dibuatkan pasar tarohan. Rusman Vs Rajiun di Muna, Abu Hasan Vs Ridwan Zakaria di Buton Utara, Tony-Samsul Bahri di Kolaka Timur, Ruksamin-Raup di Konawe Utara dan Arhawi-Haliana di Wakatobi.

Kenapa “enak”? Karena masing-masing calon memiliki basis massa yang jelas. Seluruh penantang incumbent juga adalah orang yang memiliki kapasitas dan bahkan, jabatan yang mereka sandang sebelumnya, mereka tinggalkan hanya untuk menghadapi pertarungan yang amat beresiko: kalah dan kehilangan jabatan. Artinya, keputusan melepaskan jabatan sebelumnya, adalah keputusan berani dan sudah pasti, bagi mereka: bukan tindakan nekat.

Untuk mengimbangi keputusan berani ini, saya pun ingin menjawabnya dengan mendaftar sebagai bandar pasar tarohan. Tapi, yah, itu tadi. Saya ragu, jangan sampai melanggar pidana dan kalau toh tak melanggar pidana, sebagai muslim, masih ada keraguan lain jangan sampai malaikat mengganjar saya dengan neraka.

Tapi bahwa, godaan untuk menjadi bandar pasar tarohan, tetap saja mendobrak saraf dan adrenalin. Terutama, hal ini dipicu oleh analisa dari masing-masing mereka yang memihaki jagoannya. Dan, masuk akal. Kecuali Pilkada Muna yang saya tahu betul “dalamannya”, ketika terjadi diskusi, terkadang saya meluruskan yang beranalisa bengkok, saya lenturkan bagi yang beranalisa kaku, saya perkaya data bagi penganalisa yang miskin data.

Untuk Pilkada Koltim, Konut, Butur, dan Wakatobi, saya kira pendapatnya seperti juga pendapat para mereka yang paham situasi Pilkada namun bebas dari dikte. Kenapa seperti itu? Karena kandidat calon bupati yang tampil di tujuh kabupaten se-Sultra saat ini, adalah mereka yang sudah diketahui reputasinya. Misalnya, di Muna, Rusman dan Rajiun sudah diketahui pola kepemimpinannya. Masyarakat sesungguhnya sudah punya pilihan. Tinggal tunggu hari-H.

Di Buton Utara, Abu Hasan dan Ridwan Zakaria juga sudah diketahui track record dalam memimpin. Masyarakat sudah terpola jelas. Ruksamin-Raup pun begitu. Masyarakat Konawe Utara sudah tamat akan sikap dan kepemimpinan Ruksamin dan Raup. Kecuali Koltim dan Wakatobi. Di dua daerah ini, ada suasana kebatinan dari Wakil Bupati yakni Ilmiati di Wakatobi dan Andi Merya Nur di Koltim. Kenapa mereka meninggalkan pasangannya lalu memilih pasangan lain dengan tawaran tetap pada posisi wakil bupati. Untuk yang terakhir ini, hanya Andi Merya dan Ilmiati Daud yang tahu. (nebansi@yahoo.com)


La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy