Adaptasi Calon Kepala Daerah, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Adaptasi Calon Kepala Daerah, Oleh : La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Boleh. Boleh. Mumpung masih punya jabatan, ya, kita gunakanlah kesempatan itu untuk bersosialisasi. Sah. Halal. Mumpung pemerintah masih menaruh perhatian besar terhadap Corona, ya, kita gunakanlah itu.

La Ode Diada Nebansi

Sosialisasi new normal. Pasang baliho, pasang foto, pajang tulisan “Corona”. Tapi, sesungguhnya, New Normal persoalan kedua, mau ikut mau tidak, urusanmu. Bagi saya yang penting, fotoku terpampang dan kenalilah. Bahwa saya punya mau. Saya kira, kau tahu yang kumau.

Memang, Corona ini telah melahirkan peradaban baru. Dengan Corona, perilaku menjadi terbalik-balik. Misalnya, pengendara sepeda motor, lebih takut tak pakai masker ketimbang tak pakai helm. Helm hanya diawasi polisi lalu lintas, sedangkan yang mengawasi masker, macam-macam orang.

Dengan Corona, imam shalat tak lagi meminta “rapatkan shaf”. Jamaah di masjid-masjid yang pengurus masjidnya bersentuhan pemerintah, menggelar shalat dengan jarak tertentu. Alasannya, ini imbauan pemerintah dan gugus tugas. Tapi kebalikan dengan pasar. Pengurus pasar yang berkaitan dengan pemerintah, baku gepe-gepe pun tak ada larangan. Artinya, ini juga paradigma baru. Tempat ibadah jaga jarak, pasar biar baku dempet-dempet tak masalah. Ini juga kebijakan di new normal.

Perintah Nabi rapatkan shaf, perintah Gugus Tugas jaga jarak. Kamu ikut siapa dari dua perintah ini? Khusus ini, saya ndak berani kata-katai. Wabah Corona ini dari Tuhan atau dari Wuhan? Ini juga saya ndak berani ulas.

Dua hari lalu baru saja digelar Pekan Nasional Keselamatan Jalan (PNKJ) di Sulawesi Tenggara. Pembicaraan di Webinar sayup-sayup saya dengar bahwa setiap hari di Indonesia ada tiga nyawa melayang di jalan. Kalau begitu, jahat mana Corona dengan lalu lintas jalan raya?

Yah, lebih menakutkan dan harus diwaspadai kematian akibat lalu lintas jalan raya. Kalau rasa sayang nyawa seperti juga gerakan penyelamatan nyawa di Corona, mestinya harus lebih besar perhatian di jalan raya. Artinya, ya, gelontorkanlah anggaran besar di lalu lintas jalan seperti juga besarnya dana dalam penanganan Corona.

Tapi, ini harus ada kejujuran. Karena itu, yang pertama dimintai kejujuran adalah Corona. Wahai Corona, jujurlah dikau. Sesungguhnya, kamu ini siapa wahai Corona? Keluarga besar flu kah engkau?

Kenapa saya minta Corona jujur ? Karena saya ragu, jangan sampai Corona melahirkan generasi kosong linglung suka bicara sendiri dan hidup sendiri-sendiri. Lihat saja, anak-anak sekolah di rumah, belajar virtual, akhirnya, pakaiannya pun virtual. Pakai topi sekolah tapi pakai daster. Dalam hatiku, makin aneh ini dunia. Tapi, itu kayanya di awal-awal gelaran virtual karena sekarang sudah agak sopan walaupun
terkadang belajar sambil makan.

Peradaban baru di new normal ini memang mutlak ditelaah oleh semua pihak di segala sendi kehidupan. Bagaimanapun, Corona telah memberi pelajaran berharga bagi siapa saja. Waktu yang telah dilalui bersama Corona saya kira, sudah cukup waktu untuk menentukan sikap di era new normal ini.

Kalau jarak menjadi faktor penting dalam pemutusan Corona, maka jarakkanlah dimanapun, siapapun, kapanpun. Kalau masker menjadi faktor penting dalam pemutusan Corona, maka maskerkanlah, siapapun, apapun, kapanpun, dimanapun.

Kalau ternyata Corona hanya keluarga sepupu dengan flu, maka umumkan dari new normal ke old normal. Tapi, kalau Corona ini dianggap sebagai proyek yang menguntungkan dan anda-anda masih juga belum merasa meraup keuntungan, maka lanjutkanlah. Tapi, yang terakhir ini kayanya, ndak-lah. Corona memang virus penyakit yang menakutkan karena ini kasus yang mengenai dunia.

Lalu, apa hubungannya dengan Adaptasi Calon Kepala Daerah? Ndakji. Saya hanya tulis-tulis saja karena tidak sedikit foto yang terpampang di baliho menaruh perhatian khusus terhadap Corona. Saya ndak tahu, apakah mereka prihatin dengan banyaknya korban Corona, atau kesempatan bersosialisasi.

Tapi kalau saya yang pasang baliho pasti tertulis besar-besar dan tegas : ADAPTASI CALON WALI KOTA KENDARI atau ADAPTASI CALON BUPATI MUNA BARAT. Tapi ini “seumpama” kata kawanku di Bombana. “Mpamanya” kata kawan alumni Jogja. “Bahwasanya Umpama Kata” kata Kang Masku di Anggoeya. “Eto-etonya” kata senior yang sudah pensiun. “Ino Reke’ano” kata kawan di Unaaha.(nebansi@yahoo.com)

La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy