Triwulan II 2020, Pertumbuhan Ekonomi Sultra Minus 2,39 Persen – Kendari Pos
Ekonomi & Bisnis

Triwulan II 2020, Pertumbuhan Ekonomi Sultra Minus 2,39 Persen

Tampak seorang petani sedang memasang tali pengusir burung di sawah, beberapa waktu lalu. Pemerintah dinilai perlu optimalkan sektor alamiah, salah satunya pertanian sebagai penopang perekonomian daerah.

KENDARIPOS.CO.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada triwulan II-2020 ekonomi Sulawesi Tenggara (Sultra) terkontraksi minus sebesar 2,39 persen dibanding triwulan II 2019. Hal ini disebabkan sebagian besar lapangan usaha mengalami pertumbuhan negatif akibat adanya pandemi Covid 19.

Pertumbuhan positif terjadi pada sektor informasi dan komunikasi sebesar 10,61 persen, jasa pendidikan 6,73 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 6,43 persen, pengadaan air 6,05 persen, administrasi pemerintahan 5,20 persen dan pertanian 0,75 persen.

“Tingginya pertumbuhan lapangan usaha informasi dan komunikasi dipengaruhi adanya penambahan jaringan telekomunikasi, peningkatan pemakaian internet dengan adanya kebijakan Work From Home dan belajar online di rumah selama pandemi Covid-19,” ungkap Kepala BPS Sultra, Agnes Widiastuti, kemarin.

Dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Sultra triwulan II-2020 (yoy), kata dia, lapangan usaha jasa pendidikan menyumbang sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 0,31 persen, diikuti informasi dan komunikasi 0,26 persen, administrasi pemerintahan 0,25 persen, pertanian 0,18 persen dan jasa kesehatan sebesar 0,06 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi Sulawei Tenggara dari lapangan usaha lainnya minus 3,45 persen.

Struktur PDRB Sultra menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku pada triwulan II-2020 masih didominasi oleh empat lapangan usaha utama yaitu pertanian, kehutanan, dan perikanan
(25,02 persen), pertambangan dan penggalian (20,36 persen), konstruksi (12,89 persen), serta
perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor (12,48 persen). Lapangan usaha lainnya, masing-masing memiliki kontribusi kurang dari 10 persen.

Sementara, ekonomi Sultra triwulan II-2020 dibanding triwulan I-2020 (q-to-q) mengalami kontraksi minus 0,11 persen. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan negatif yang terjadi pada sebagian besar lapangan usaha akibat adanya pandemi Covid-19. Pertumbuhan positif terjadi pada lapangan usaha administrasi pemerintahan sebesar 8,97 persen, informasi dan komunikasi 4,10 persen, konstruksi 2,88 persen, pengadaan air 2,58 persen, jasa pendidikan 1,38 persen dan pertanian 0,60 persen.

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar 23,16 persen. Pertumbuhan pada komponen ini tecermin dari peningkatan realisasi APBN dan APBD Provinsi Sulawesi Tenggara, utamanya disebabkan oleh naiknya belanja pegawai karena pembayaran gaji-14 PNS/TNI/Polri dan pembayaran sertifikasi guru, serta belanja barang dan belanja bantuan sosial untuk penanggulangan Covid-19.

“Pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha
administrasi pemerintahan dipengaruhi adanya peningkatan realisasi belanja pegawai yang
bersumber dari APDB dan APBN sehubungan dengan adanya pembayaran gaji 14,” terang Agnes.

Kata dia, dari sisi pengeluaran, kontraksi terdalam terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar minus 8,32 persen, diikuti komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar minus 5,10 persen, komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) sebesar minus 2,91 persen, dan komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar minus 2,09 persen. Komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDRB tercatat tumbuh positif, yaitu sebesar 5,29 persen.

Dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi triwulan II-2020 (yoy), ekspor barang dan jasa merupakan komponen dengan sumber pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 3,01 persen. Pertumbuhan pada ekspor barang dan jasa seiring dengan peningkatan nilai ekspor besi dan baja (feronikel) yang mempunyai share terbesar dalam ekspor di Sultra yang naik sebesar 18,39 persen. Untuk sumber pertumbuhan tertinggi
kedua yaitu komponen impor barang dan jasa sebesar 1,62 persen.

“Struktur PDRB Sultra menurut pengeluaran triwulan II-2020 tidak menunjukkan perubahan berarti. Aktivitas permintaan akhir terhadap barang dan jasa masih didominasi oleh komponen PK-RT sebesar 49,76 persen dari PDRB atas dasar harga berlaku, diikuti komponen
PMTB sebesar 37,86 persen,” pungkasnya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Syamsir Nur mengatakan, kendati terkontraksi, pertumbuhan ekonomi Sultra sebenarnya mengalami kemajuan dibandingkan triwulan I-2020 secara q-to-q. Berdasarkan data BPS, ekonomi Sultra triwulan I-2020 dibanding triwulan IV 2019 mengalami kontraksi sebesar minus 8,18 persen. Yang berarti, kontraksinya jauh lebih dalam dari pertumbuhan ekonomi Sultra triwulan II-2020 dibanding triwulan I-2020 (q-to-q) yang mengalami kontraksi minus 0,11 persen.
Menurutnya, hal tersebut dikarenakan kebijakan fiskal pemerintah yang diarahkan pada penanganan dampak ekonomi sudah mulai efektif.

“Salah satu agregat demand yang mampu menahan laju kontraksi yaitu dari sektor pengeluaran pemerintah. Termasuk karena relaksasi yang diberikan melalui program pemulihan ekonomi nasional dan bantuan sosial kepada masyarakat terdampak,” ujar Syamsir Nur, kemarin.

Dijelaskan, dari sisi produksi, kontribusi sektor pertambangan masih menjadi andalan di Sultra. Jika komponen ini tumbuh, maka pengeluaran agregat dari sisi ekspor akan bergerak sehingga mampu menahan kontraksi ekonomi secara regional. Ia meyakini pada triwulan IV-2020, pertumbuhan ekonomi Sultra dari sektor riil akan semakin membaik dengan asumsi tidak terjadi gelombang Covid-19 yang kedua. Saat ini, kata dia, beberapa sektor ekonomi yang mempunyai kontribusi besar terhadap perekonomian sudah mulai tumbuh seperti sektor perdagangan besar dan eceran, hotel dan restoran, UMKM, transportasi, serta komunikasi.

“Di triwulan IV-2020 kondisi ekonomi kita akan jauh lebih baik karena pelaku ekonomi sudah mulai beradaptasi dengan kebiasaan baru atau new normal,” imbuhnya.

Syamsir menuturkan, agar perekonomian Sultra pulih dengan lebih baik, maka selain menggenjot belanja pemerintah dan perdagangan ekspor impor, pemerintah daerah harus mengoptimalkan sektor-sektor alamiah salah satunya pertanian.

“Sektor alamiah merupakan jantung ekonomi. Jangan hanya berharap pada sektor yang tidak alamiah seperti tambang. Saat ini perekonomian kita lebih banyak ditopang oleh pertambangan yang cenderung eksklusif. Alangkah baiknya jika sektor pertanian yang bersifat inklusif dan sustain lebih dioptimalkan. Kita butuh industri pengolahan berbasis pertanian,” tandasnya. (b/uli)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy