Tidak Komitmen, Warga Tutup Jalan Tambang Aspal PT Wika di Buton – Kendari Pos
HEADLINE NEWS

Tidak Komitmen, Warga Tutup Jalan Tambang Aspal PT Wika di Buton

KENDARIPOS.CO.ID — Aktivitas bongkar muat tambang PT Wijaya Karya (Wika) Bitumen saat ini terhambat. Masyarakat Desa Mantowu, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton memblokade pintu masuk perusahaan aspal terbesar di Kabupaten Buton itu. Mereka kesal, kesepakatan bersama pihak perusahaan beberapa waktu lalu tidak terealisasi. Kecewa, warga pun mengancam akan terus menutup akses hingga di gerbang desa. Kepala Desa Mantowu, Sapril, membenarkan jika aksi warganya itu dipicu rasa kecewa. Sejumlah item yang menjadi kesepakatan bersama tidak dipenuhi oleh pihak perusahaan. “Aksi penutupan akses masuk itu karena masyarakat mempertanyakan komitmen perusahaan,” katanya, Selasa (4/8).

Komitmen tersebut kata Kades diantaranya kompensasi dana debu, soal tenaga kerja yang mempertanyakan kontrak tak jelas. Lahan atau lokasi yang berada di sekitar tambang juga tak jelas batas-batasnya. “Kemudian ada permintaan penerangan lampu jalan dan beasiswa pendidikan serta insentif perangkat masjid juga belum ada yang dipenuhi,” bebernya. Ia melanjutkan, masyarakat tidak akan membuka jalan akses selama tidak ditemui kesepakatan yang berpihak pada warga.

“Kita sudah ketemu pihak perusahaan dan duduk bersama, tapi belum ada kesepakatan. Mereka minta waktu untuk bicarakan dengan direksinya di pusat. Tapi selama menunggu, mobil tambang tidak boleh dulu ada muatan, karena jalan tetap ditutup sementara,” tegas Sapril.
Bupati Buton, La Bakry, juga angkat bicara atas persoalan yang terus memanas antar warga Mantowu dan pihak PT. Wika. Ia mengaku prihatin atas kejadian itu. Buton-1 tersebut mendesak pihak perusahaan mematuhi komitmen yang sudah terbangun agar proses produksi bisa kembali dilanjutkan.

“Carilah solusi terbaik. Kalau sudah terbangun komitmen, ya ditaati. Saya dengar ada yang belum direalisasikan, itu perlu didudukan bersama. Supaya jangan ada yang dirugikan, ekonomi kita tetap menggeliat,” kata La Bakry di ruang kerjanya, kemarin. Menurut Ketua DPD II Golkar Buton tersebut, apa yang menjadi tuntutan warga adalah hal wajar. Olehnya itu perlu mendapat perhatian serius dari perusahaan. “Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada solusi,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Teknik Tambang PT Wika Bitumen, Wahyudi Martono, mengakui terhambatnya pengangkutan hasil tambang di lokasi saat ini. Sejumlah permintaan masyarakat itu sudah dicatat, dan diakui merupakan komitmen perusahaan. “Ada delapan poin yang mereka minta. Mulai dari beasiswa, insentif pengurus masjid, tapi yang paling ditekankan itu uang debu. Sudah pernah dibayarkan waktu masih PT Saka (nama sebelumnya PT Wika), tapi sekarang uang debu itu masuk kategori gratifikasi,” argumennya.

Soal tenaga lokal, disebut tak jelas. Dia menjelaskan kuantitas produksi saat ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sehingga kebutuhan tenaga kerja juga berkurang. “Tenaga lokal memang sistem kita, bahwa penambangan tidak tiap hari, kecuali sudah ada pemesanan. Sekali panggil 52 orang untuk 6.000 ton. Jadi tergantung permintaan. Kalau kita menambang terus bisa rugi. Karena tidak bisa disimpan lama,” tambahnya. Terkait semua tuntutan warga itu, Wahyudi Martono mengaku masih menunggu respon pusat. “Insya Allah dalam waktu satu dua hari ini,” janjinya. (b/lyn)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy