Sesungguhnya Kamu Tak Tahu Berterima Kasih, Oleh : La Ode Diada Nebansi – Kendari Pos
Kolom

Sesungguhnya Kamu Tak Tahu Berterima Kasih, Oleh : La Ode Diada Nebansi


La Ode Diada Nebansi

KENDARIPOS.CO.ID — Saya beri contoh yang gampang kamu pahami. Misalnya, kamu kontraktor, contoh yang paling gampang kamu pahami soal “terima kasih” adalah ketika kamu selesai mengerjakan proyek. Sebagai bentuk terima kasihmu, kepala dinas kamu kasih fee.

Misalnya,kamu kepala dinas, kamu memberikan sejumlah duit kepada kepala daerah untuk pembeli beras dan sebongkah berlian. Itu tanda terima kasihmu.

Misalnya, kamu seorang petani, usai panen kamu memberikan sebagian hasil panen kepada Pak Desa, Pak Lurah atau penyuluh pertanian karena kesuksesan tanimu berkat pemberian pupuk oleh Pak Desa atau Pak Lurah.

Kamu lupa, bahwa orang yang tepat kamu beri dari kelebihan hasilmu adalah anak yatim dan orang fakir. Tapi, ini sulit untuk anda lakukan, kecuali melalui latihan. Kamu pun lalai, bahwa salah satu orang yang tepat untuk anda ucapkan terima kasih adalah mereka yang berjasa di negeri ini.

Di hari ulang tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-75 ini, agar lebih bernilai, agar lebih menusuk sanubarimu. Pikirkanlah hal-hal sepele yang hari ini kamu nikmati, sembari membayangkan tontonan keadaan masyarakat di negara-negara yang dilanda perang.
Begitulah keadaanmu jika kamu hidup di zaman perang. Tak ada jaminan keamanan diri dan jiwa di saat itu. Jangankan anak istrimu, dirimu pun dapat sewaktu-waktu akan mengalami korban jiwa di situasi perang.

Nah, mestinya, di hari kemerdekaan ini anda harus happy se happy-happynya. Berterima kasihlah kepada orang-orang yang hidup di zaman perang. Oleh karena perlawanan mereka, hingga hari ini anda hidup di alam merdeka.

Begitu nikmatnya hidup kita bila membayangkan kehidupan zaman perang masa lalu. Begitu bahagianya hidup kita bila menengok keadaan masyarakat di Palestina, keadaan masyarakat di Suriah, dan masyarakat di daerah perang lainnya.

Bayangkan hidupmu di zaman perang. Anda tidak akan nyaman berinvestasi dalam keadaan perang. Anda tak bakal membangun ruko di Aceh tanpa Cut Nyak Dien. Kamu tak bisa jualan sayur di Pasar Ambon andai Pattimura tak punya parang. Kamu tak bisa nyaman menikmati indahnya pemandangan Kaliurang dan Gunung Merapi andai Pangeran Diponegoro tak bisa menunggang kuda.

Kamu tak bisa bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak dengan Kapal Lambelu andai Bung Tomo tak diizinkan mengambil alih siaran untuk membangun heroisme warga Surabaya. Anda tak bisa berinvestasi di Soroako jika Kahar Muzakar tak memimpin pasukan. Anda tak bisa membangun smelter di Morosi jika Pasukan Djihat Konawe (PDK) membiarkan daerahnya terjajah. Anda tak bisa mengerjakan proyek pembangunan deker di Pohara jika tentara pendudukan Jepang tak diusir.

Andai itu semua seperti lagunya Rhoma Irama, maka akan ditutup dengan: “Dan, masih banyak yang lainnyaaaa.” Lha, oleh karena seabrek kenikmatan dalam situasi yang aman dan nyaman ini, dapatkah kamu menyisihkan sebagian fee-mu, sebagian bongkahan berlianmu, sebagian SPPD-mu, sebagian honormu untuk sekedar meramaikan perayaan HUT RI tahun ini dan seterusnya?

Untuk pernyataan rasa syukur dan terima kasih kepada para pahlawan kemerdekaan ini, tak butuh alasan. Tak ada alasan bagi sosok yang tahu berterima kasih. Perayaan dan happy di HUT RI adalah wajib bagi orang yang tahu berterima kasih.

Tapi, bagaimana mau berterima kasih jika kamu tak pernah merenungi ihwal keberadaanmu? Seperti juga seorang petani yang berterima kasih kepada Pak Desa dan penyuluh karena merasa diberi pupuk penyubur sementara ia tak pernah merenungi dan luput berpikir bahwa suasana merdeka juga sangat penting dalam bertani.

Dan, paling penting untuk dieling lagi bahwa tanah tempat bercocoktanam ternyata milik Allah SWT. Dan, tanamannya pun milik Allah SWT. Lalu? Apa wujud terima kasihmu kepada Allah SWT? Disuruh sembahyang saja macam-macam alasan. Luar biasa kamu yang tak peduli dengan jasa para Pahlawan. Buta hati betul.

Kepada pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan hingga merdeka pun kalian tak berterima kasih. Karena itu, terima kasihmu dalam bentuk fee dan sodoran amplop bertameng honor tak dibarengi dengan penghargaan kepada para pahlawan dan ingat Allah SWT, sesungguhnya kamu adalah orang yang paling tidak berterima kasih. Kenapa? Mujikan saja masih ingat jasa neneknya dalam perang 10 November di Surabaya.

Saya tanya: Mas, orang tua asli Surabaya yah? Ya. Berarti tahu dong suasana perang 10 November? Woalah Maaass. Seru bangat. Seru gimana? Nenek saya bilang, waktu perang itu,banyak nasi tabuang-buang. Oh, gitu ya? Ya. Saketawa. Saya tunggu cerita heroiknya ternyata yang muncul cerita nasi. Tapi walaupun begitu, tetap saja ada cerita di saat perang. Paling tidak, dalam dunia jurnalistik yang diceritakan Mujikan ini adalah berita di balik berita. (nebansi@yahoo.com)

Penulis : La Ode Diada Nebansi (Direktur Kendari Pos)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy