Sampah Plastik Ancaman yang Tak Terbantahkan, Oleh : Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si – Kendari Pos
Opini

Sampah Plastik Ancaman yang Tak Terbantahkan, Oleh : Dr. Hj. Dewi Maharani, S.IP., M.Si

Dr. Dewi Maharani, S.IP., M.Si Dosen Pascasarjana Universitas Majalengka

KENDARIPOS.CO.ID — Penulis pernah menghadiri pertemuan dalam diskusi kecil yang menyoroti pengelolaan sampah yang belum mendapat perhatian dari pemerintah, padahal sampah adalah masalah dunia. Dalam diskusi kecil itu salah seorang berbicara tentang keberhasilan Pemerintah Kota Kendari dalam berinovasi mengelola sampah menjadi produktif, sebagaimana hasil studi yang dilakukan bersama dengan rekan-rakannya.

Bahwa baru satu dekade yang lalu, Kendari merupakan salah satu kota paling kotor di Indonesia. Tempat sampah meluap dengan kantong beras berjamur, sisa makanan yang membusuk, dan botol plastik. Buang sampah untuk dibakar atau dibiarkan di jalanan selama berminggu-minggu, menarik banyak lalat dan kecoak.

Tapi hari ini, kota dengan setengah juta orang di Provinsi Sulawesi Tenggara itu telah berubah secara spektakuler. Mereka memenangkan penghargaan kebersihan nasional selama delapan tahun berturut-turut. Truk sampah membersihkan jalanan dua kali sehari. Sementara warga telah melakukan pemilahan dan daur ulang kebiasaan membuang sampah rumah tangga mereka. Kesemrawutan pengelolaan sampah saat itu, tidak dipungkiri dan diakui oleh wali kota saat itu.

Kesuksesan terbesarnya adalah mendirikan Kampung Mandiri Energi, atau “Desa Energi Independen”, di Kelurahan Puuwatu, yang menghasilkan gas metana dari sampah organik di tempat pembuangan sampah terbesar di Kota Kendari. Kesuksesan tersebut tentu menjadi rujukan pemerintah Kota Kendari saat ini walaupun wali kota mengakui adanya pengelolaan yang belum optimal.

Rujukan ini tentu perlu diparesiasi untuk mengantispasi adanya kerusakan laut dan lingkungan sebagaimana yang dirilis oleh McKinsey and Co. dan Ocean Conservancy, Indonesia sebagai negara penghasil sampah plastik nomor dua di dunia setelah Cina. Banyaknya produksi sampah, terutama plastik yang dikirim ke lautan Indonesia, secara langsung ikut menjadikan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil sebagai kawasan kotor dan penuh sampah. Apalagi, dari hasil penelitian, didapatkan fakta bahwa sampah yang ada di kawasan pesisir didominasi oleh plastik dengan prosentase antara 36 hingga 38 persen.

Era pandemi mengilhami banyak hal, terlepas dari wabah global ini, masyarakat dihadapkan masalah yang sangat besar terkait sampah baik itu sampah rumahtangga, sampah kota maupun sampah B3. Penulis mencoba melirik skema pemerintah terkait program 3R. Tidak semua orang memahami skema tersebut, dikarenakan minimnya sosialisasi. Jika dijalankan dengan fokus dan sosialisasi maksimal terkait prosedur dan prosesnya, hal ini akan sangat membantu meringankan beban pemerintah terkait masalah besar yang kini dihadapi oleh sebagian besar kota di Indonesia, termasuk sampah plastik.

Pengelolaan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat adalah dengan cara membakar, padahal pengelolaan plastik dengan cara dibakar menambah emisi gas rumah kaca di atmosfer bumi, demikian juga membakar sampah plastik akan mengakibatkan pencemaran lingkungan karena dalam asap tersebut terkandung zat dioksin dan zat karsinogenik yang apabila dihirup oleh manusia dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan sistem pernapasan, kanker, dan gangguan sistem syaraf dan berdampak pada kesehatan pada manusia antara lain kanker, stroke, serta penyakit pernapasan. Selain itu, sampah plastik juga telah mengancam kelangsungan hidup biota laut. Sebab, selain bisa melukai, sampah plastik juga rentan termakan oleh hewan, seperti ikan, paus, dan penyu.

Selain itu, kantong plastik yang digunakan sebagai wadah makanan berpotensi mengganggu kesehatan manusia karena racun pada kantong plastik bisa berpindah ke makanan. Kantong plastik (dan jenis plastik lainnya) sulit terurai di tanah karena rantai karbonnya yang panjang, sehingga sulit diurai oleh mikroorganisme. Dampak plastik terhadap lingkungan merupakan akibat negatif yang harus ditanggung alam karena keberadaan sampah plastik. Dampak ini ternyata sangat signifikan.

Sampah kantong plastik dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara. Kantong plastik terbuat dari penyulingan gas dan minyak yang disebut ethylene. Masalah kantong plastik tidak akan pernah berhenti dibicarakan oleh para pelaku kebersihan lingkungan. Hal ini disebabkan karena kantong plastik adalah salah satu jenis sampah yang lama terurai, mulai dari sampah plastik, kaca, nilon dan sterofoam.

Plastik yang selama ini digunakan oleh masyarakat merupakan sampah yang digunakan manusia sehari-hari, ternyata untuk mengurai dan menghancurkannya memerlukan waktu yang berbeda-beda dan proses penguraian dan pengancuran pada alam. Pentingnya untuk mengetahui berapa lama suatu material sampah dapat terurai juga dapat membantu membangun kesadaran untuk mengurangi jenis sampah tersebut.

Banyak sampah yang digunakan berasal dari produk sekali pakai, seperti popok bayi, pembalut, baterai, dan plastik. Berikut ini beberapa jenis sampah dan waktu yang dibutuhkan untuk mengurainya misalnya, sampah plastik mendominasi jenis sampah di masyarakat, mulai dari kantong plastik, gelas plastik, sedotan plastik dan lainnya. Plastik terbuat dari minyak bumi.

Dalam hasil pengamatan oleh The Balance melansir bahwa 1,6 juta minyak diperlukan untuk membuat botol plastik setiap tahunnya. Barang-barang plastik dapat terurai di tanah selama 1000 tahun lamanya, sedangkan kantong plastik 10 hingga 1000 tahun lamanya, yang lain seperti botol plastik dapat terurai di alam sekitar 450 tahun lamanya, sedangkan plastik merupakan sampah yang paling lama terurai untuk saat ini adalah popok bayi sekali pakai dan pembalut, yang perlu dipahami bahwa popok bayi sekali pakai diperkirakan akan terurai di pembuangan sampah dalam waktu 250-500 tahun.

Di lain pihak kebutuhan akan popok bayi dan pembalut terus meningkat, mengingat bahwa bayi akan memakai popok hingga usia 2 atau 2,5 tahun untuk bisa dilatih menggunakan toilet. Sedangkan, pembalut perlu waktu 500-800 tahun untuk terurai. Jika pendapat the Balance ini dijadikan rujukan dalam mengelola lingkungan maka bisa dibayangkan sekian tahun ke depan publik akan hidup di atas tumpukan sampah plastik jika dari awal tidak dipikirkan secara matang. Publik perlu menyadari akan hal ini, bahwa ancaman kita akan sampah semakin hari semakin berbahaya. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy