Riset Vaksin COVID19, Antara Maslahat dan Manfaat, Oleh : Drg. Endartini Kusumastuti – Kendari Pos
Opini

Riset Vaksin COVID19, Antara Maslahat dan Manfaat, Oleh : Drg. Endartini Kusumastuti

Drg. Endartini Kusumastuti,
Anggota PDGI Kota Kendari dan Alumnus FKG Universitas Airlangga Surabaya


Anggota PDGI Kota Kendari dan Alumnus FKG Universitas Airlangga Surabaya

KENDARIPOS.CO.ID — Saat ini dunia tengah berlomba memproduksi vaksin virus corona, tak terkecuali Indonesia. Terbaru, Rusia mengklaim uji coba vaksin mereka menghasilkan seluruh sukarelawan menunjukkan kekebalan pada virus corona. Sementara di Indonesia, perusahaan BUMN, Bio Farma mengumumkan dimulainya uji klinis tahap ketiga vaksin Covid-19 dari Sinovac-Cina. Sebelumnya, sebanyak 2.400 dosis vaksin dari Sinovac, Cina, sudah tiba di Bio Farma pada 19 Juli 2020.

Presiden Joko Widodo menargetkan seluruh masyarakat Indonesia bakal diberikan vaksin Covid-19, pada Januari 2021. Ucapan ini diutarakannya saat meninjau uji klinis ketiga vaksin Sinovac asal China di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Jawa Barat.

Calon vaksin Covid-19 yang diuji coba ini merupakan hasil dari pengembangan yang dilakukan oleh Bio Farma dengan perusahaan asal China, Sinovac. Setelah melalui tahap pertama dan kedua di China, sebanyak 2.400 vaksin kemudian dibawa ke Indonesia pada bulan lalu untuk diuji klinis di Bandung.

Ahli Epidemiologi dan Biostatistik Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, Pandu Riono menilai, uji coba calon vaksin ini belum tentu menghasilkan kabar baik bagi pengadaan obat penawar Covid-19 di Indonesia. Karena menurutnya, calon vaksin ini belum tentu lulus uji. Sementara itu Ahli Farmasi dari Universitas Jenderal Soedirman, Heny Ekowati juga berpendapat bahwa butuh waktu lama dalam pembuatan vaksin penangkal suatu virus. Tahap pertama berupa penelitian yang dimulai dari in vitro, pada hewan (preklinik) dan uji klinis pada manusia.

Riset dan Sains Dalam Kacamata Bisnis Ala Korporasi

Kebutuhan vaksin untuk menangkal corona Covid-19 mendesak diperlukan seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Virus ganas ini telah menyerang seluruh sendi kehidupan masyarakat dan juga menelan banyak korban jiwa. Namun apakah uji coba calon vaksin ini akan berbuah manis sehingga dapat diproduksi secara massal?

Kerjasama yang dilakukan Biofarma sebagai BUMN dengan produsen vaksin asal Cina Sinovac patut mendapat perhatian. Hendaknya tidak menjadi kerjasama swasta dengan orientasi Bussiness to Bussiness yg memonopoli kepentingan umum demi keuntungan segelintir pihak. Islam mewajibkan negara tidak menjadikan faktor keuntungan sebagai pertimbangan utama pengambilan kebijakan. Negara harus berorientasi maslahat umum yakni mendapatkan obat yang tepat dengan memfokuskan pada aspek kelayakan dan keamanan. Bukan aspek manfaat atau keuntungan materi semata.

Terlalu banyak bukti bahwa sains dan teknologi ketika dalam kekuasaan korporasi hanya berujung nestapa bagi umat manusia, terutama ketika berbagai hajat hidup umat manusia berada dalam kekuasaan korporasi sebagaimana saat ini. Misal, dominasi riset dan teknologi obat-obatan dan farmasi di tangan sejumlah MNC Farmasi mengakibatkan jutaan jiwa tidak tertolong di ruang perawatan rumah sakit.

Semua kemajuan teknologi itu saat ini dikendalikan penuh oleh asing yang driver utamanya adalah prinsip kapitalistik yakni KBE (Knowledge-Based-Economy). Dunia Islam hanya dijadikan objek dan pasar. Riset-riset perguruan tinggi di negeri Muslim diadakan untuk melayani kepentingan industri asing yang notabene dimiliki oleh kaum kapitalis. Produktivitas riset suatu negara selalu distimulasi dari kebutuhan dunia industri yang membutuhkan inovasi tinggi.

Pengembangan Riset dan Sains Dalam Islam

Sebelum membahas virus, terlebih dahulu dipahami apa tujuan sains di dalam Islam. Sains disebut juga sebagai ilmu alam. Dalam buku M. Abdurrahman, ‘Membangun Pemikiran Cemerlang’, (hal: 147-155) dijelaskan tujuan ilmu sains. Tujuan pertama sains adalah untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (TQS Ali Imran (3): 190).

Kedua, ilmu sains adalah proses mengungkap sistematika alam semesta termasuk kadar dan khasiatnya. Sistematika kimia, fisika, dan ke-makhluk-hidupan adalah sains. Bicara sains tidak bisa tegak dengan sendiri dan membutuhkan dukungan yang besar. Termasuk di bidang penelitian. Oleh karena itu, pengembangan dan penelitian di bidang sains wajib membutuhkan dukungan negara.

Dan sebagai kaum muslimin, sudah seharusnya, aspek sains adalah perkara yang diseriusi untuk menciptakan peradaban yang berkemajuan. Sebagaimana dulu para ilmuwan di dalam Islam telah memperlihatkan kontribusinya di dunia sains yang menjadikan pengembangan keilmuan itu bermanfaat bagi umat, memecahkan masalah umat, dan memudahkan kehidupan.

Paradigma negara dalam Islam untuk mengembangkan riset dan sains adalah untuk melindungi dan memelihara jiwa, akal, agama, nasab, harta, kemuliaan, keamanan dan negara. Karena itu, seluruh politik pendidikan dan perindustrian akan disinergikan untuk mewujudkan apa yang disebut maqashidus syariah. Ada 3 strategi utama negara dalam pengembangan kemampuan membangun ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pertama, membangun sistem pendidikan yang visioner sejak dari level dasar, menengah sampai pendidikan tinggi dimana falsafah dan tradisi keilmuannya bersumber hanya dari Aqidah Islam, sehingga lahir generasi berkualitas yang bermental pemimpin dan berintegritas Mukmin, dengan berbagai keahlian dan bidang kepakaran. Kedua, membangun sistem penelitian dan pengembangan (litbang) yaitu kemampuan riset/penelitian yang terintegrasi baik dari lembaga penelitian negara, departemen-departemen dan dari perguruan tinggi; semua dikendalikan, didorong dan dibiayai penuh oleh negara.

Dan ketiga, Membangun sistem industri strategis yang dimiliki dan dikelola mandiri oleh negara serta berbasis pada kebutuhan militer mutakhir dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Di mana kemandirian industri meliputi kemampuan untuk menguasai, mengendalikan dan menjamin keamanan pasokan aspek-aspek penting industri, yaitu: bahan baku, teknologi, tenaga ahli, rancang bangun, finansial, kemampuan untuk membentuk mata rantai industri yang lengkap, serta kebijakan.

Semua ini benar-benar terjadi selama puluhan abad, sebagaimana diabadikan oleh tinta emas sejarah. Negeri-negeri Islam adalah satu-satunya pusat perhatian para cendikiawan dan kaum terpelajar. Pendidikan tinggi seperti yang terdapat di Cordova, Kairo, Bagdad, Damaskus, Iskandariah memiliki pengaruh yang amat besar dalam menentukan arah pendidikan dunia. Sungguh masa keemasan itu akan berulang. “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (Terjemahan Alquran Surat Al Fatir, ayat :10).

Dengan demikian, pengadaan vaksin Covid 19 yang sedang diupayakan para pakar ini haruslah menjadi peringatan bersama agar pemerintah tidak sekedar jadi euforia lalu lengah atas kerjasama yang dibangun dengan pihak asing. Asas kemaslahatan umat harus menjadi perhatian dan optimal dalam mengembangkan riset vaksin, tanpa perlu ada campur tangan asing di sana. Ketika itu terjadi, bukan mustahil Indonesia akan menjadi negara terdepan dalam independensi riset dan penanganan wabah Covid19. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy