Rekonstruksi Empati, Oleh : Muhammad Radhi Mafazi, M.Psi – Kendari Pos
Opini

Rekonstruksi Empati, Oleh : Muhammad Radhi Mafazi, M.Psi

Muhammad Radhi Mafazi, M.Psi, Pembimbing Kemasyarakatan di Balai Pemasyarakatan Kelas II Baubau


KENDARIPOS.CO.ID — Kejahatan adalah lenyapnya manusia terhadap dirinya sendiri dalam upaya tragis untuk lari dari beban kemanusiaan. Awal dari hilangnya sisi kemanusiaan bagi mereka yang melanggar hak oranglain tanpa ada rasa bersalah dengan berbagai alasan di luar kehendak dirinya, merupakan sebuah kesalahan pada bentuk bangunan empatinya. Hampir sebagian besar dari tindak kejahatan yang mereka lakukan terlampau dingin dibandingkan manusia pada umumnya, seolah tak mempunyai welas asih.

Empati diartikan sebagai kemampuan untuk mengenali dan memahami perasaan oranglain. Individu yang tidak mempunyai kemampuan ini bisa disebut sebagai manusia mesin (homo mechanicus). Seluruh pergerakannya didasarkan oleh apa yang ia mau mengesampingkan segala bentuk perasaan oranglain bahkan dirinya sendiri. Inilah yang banyak ditemui ketika menyimak kembali berita kejahatan di berbagai media.

Bahkan empati bukan sesuatu yang istimewa bagi manusia normal. Sebab, sejak usia 18 bulan menurut penelitian dari UCLA, secara alamiah anak dapat membantu orang dewasa dengan cara melihat orang dewasa yang sedang kesusahan. Luar biasanya manusia pada usia tersebut hanya dapat mengucapkan sedikit kata. Tapi di sisi lain memiliki kemampuan dalam merasakan emosi oranglain. Bahkan sampai pada tataran bertindak untuk membantu.

Lalu bagaimana bagi mereka pada saat masuk fase yang lebih tinggi secara usia dan mental malah kehilangan hal tersebut? Sebelum menjawab pertanyaan mendasar dari tulisan ini, izinkan saya menggambarkan suatu situasi. Seolah tidak ada kapoknya keluar masuk lembaga, dengan dalih kesulitan ekonomi lalu mengambil hak oranglain dengan cara yang tidak manusiawi. Polanya sangat jelas ketika mereka yang mau berulah lagi, untuk pengawasan pasti mendadak menghilang. Sehingga, ketika melakukan pengulangan haknya harus diambil kembali.

Hasil benar-benar mencengangkan adalah mindset yang terbentuk adalah mindset kriminal. Segala cara dilakukan untuk merampas hak oranglain. Penggalian kedua yang coba didalami adalah makna terhadap tato di tubuhnya. Satu point penting ketika yang bersangkutan menjawab dengan perenungan adalah gambar telapak kaki kecil di bagian pelipis wajahnya. Ternyata ini yang membuat runtuhnya konstruksi empati pada dirinya. Sehingga membuat perilakunya tidak masuk akal ketika dipikirkan oleh manusia normal. Dia masih menyimpan dendam pada sosok ayah yang selalu melakukan kekerasan fisik terhadap dirinya di masa lalu.

Ayah sebagai bagian penting dalam keluarga mempunyai peran penting dalam pendidikan. Dua pola pendidikan dalam keluarga yang dapat meruntuhkan bangunan konstruksi digambarkan sebagai keluarga dengan pola pendidikan dengan kekerasan baik fisik, psikologis atau seksual dan terlalu melindungi (over protective). Dua pola seperti ini dapat membentuk manusia menjadi pribadi dengan mindset tertutup (fixed mindset). Celakanya, bila mindset tetutup yang terbentuk adalah sebuah mindset kriminal, ia akan menjadi pribadi dingin dan tidak dapat merasakan emosi orang lain.

Termasuk contoh di atas yang mengabadikan dendamnya dengan bentuk gambar telapak kaki kecil di pelipis wajahnya. Ini merupakan bentuk rasa sakit yang melekat pada alam bawah sadarnya. Sehingga, dia tidak dapat berkembang. Terkecuali dia memaafkan masa lalunya sebagai bentuk rekonstruksi empati. Pengalaman menyakitkan inilah yang membuat setiap manusia melakukan perbuatan jahat merasa biasa saja. Bagaimana cara merekonstruksi bangunan empatinya, agar ia bisa kembali merasakan emosi oranglain yang ada disekitarnya dan bisa diterima kembali di lingkungannya. Karena mau tidak mau, kemampuan berempati inilah yang membuat manusia dapat bertahan di dalam kelompoknya.

Cara Merekonstruksi

Memaafkan adalah state of minds yang melibatkan pikiran, perasaan dan tindakan tertentu. Manfaat dari memaafkan yaitu sebagai obat luka batin sehingga dapat mencapai pencerahan, manusia yang telah memaafkan akan kembali dapat menerima sinyal emosi manusia lain dan merasakan hal yang sama. Dalam buku berjudul: Forgiveness therapy dijelaskan tahap pemaafan yang bisa menjadi obat untuk merekonstruksi empati sebagai berikut:

Pertama, kesadaran diri bahwa dirinya diliputi kemarahan. Terkadang manusia lupa bahwa ketika tersakiti oleh tindakan oranglain, ia berhak secara bebas memilih reaksi yang ia eksperesikan dengan berbagai resiko yang harus dipertanggungjawabkan. Sayangnya, dalam hal ini banyak sekali individu tidak menyadari dirinya sedang diliputi amarah. Maka dari itu, dia memilih diam bahkan memendam dan semakin berusaha melupakan, maka semakin mengingatnya. Seperti contoh kasus di atas, ia mengekspresikan dengan menggambar telapak kaki kecil pada bagian pelipis wajahnya. Bukannya menyadari lalu merenungi mengapa hal itu bisa terjadi untuk melindungi konstruksi empatinya, malah memilih mengabadikan rasa sakitnya dalam bentuk gambar di bagian tubuhnya yang sering menjadi sasaran.

Kedua, kesadaran bahwa perasaan yang dirasakan berbahaya bagi dirinya. Langkah selanjutnya adalah melihat bahwa perasaan marah dan kecewa yang dirasakan akan membahayakan jiwa dan raganya. Seperti halnya hubungan antara orang yang terlalu sering marah akan mudah terkena penyakit darah tinggi. Ketika sudah sampai tahap ini individu muncul pandangan untuk melihat permasalahan dari sudut pandang orang yang dianggapnya membuat rasa marah dan kecewa atau mulai membiarkan masalahnya pergi.

Ketiga, memilih tindakan yang lebih bermanfaat. Pada tahap ini individu dapat memilih untuk sejanak merasakan sakit selanjutnya memaafkan. Hal ini bisa dilakukan ketika kita mendapatkan pandangan mengenai keuntungannya ketika mencoba memperbaiki hubungan dengan orang menggoreskan luka batin.

Keempat, mengambil tindakan proaktif. Tahap terakhir adalah melakukan tindakan proaktif dengan mensugesti diri dan melakukan tindakan pemaafan. Pada tahap ini individu akan berpikir bahwa perasaan marah, kecewa dan sedih yang berlebihan akibat tindakan oranglain hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Manusia tidak pernah tahu pada tataran mana tingkahlakunya bisa menyakiti oranglain. Entah itu disebabkan oleh persepsi si penerima dengan kepribadian yang mudah tersinggung, atau bersumber dari pemberi informasi. Tahap ini juga bisa lakukan diawal sebagai langkah pencegahan untuk masuknya “racun” pada jiwa dirinya.

Memaafkan berbeda dengan melupakan. Pada dasarnya, pemaafan adalah bentuk terapi yang melibatkan kognitif dan afektif. Hal ini dapat merekonstruksi bentuk empati manusia yang tadinya diliputi oleh racun berupa emosi negatif. Pada akhirnya, rekonstruksi empati harus segera dilakukan pada individu yang sudah terlanjur “terjebak” dalam pola pikir kriminal yang begitu gelap hingga menutup pikiran dan perasaanya. Memaafkan adalah cara merekonstruksi empati agar manusia kembali menjadi pribadi sebenarnya. Tidaklah mudah memaafkan ketidakadilan, rasa sakit dan ketidaknyamanan karena ini adalah cara orang kuat. “Si lemah tidak pernah memaafkan, pemaafan adalah atribut dari si kuat”. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terbaru Lainnya

Copyright © 2015 PT. Media Kita Sejahtera Jl. Malik Raya No.50 Mandonga, Kendari - Sultra, Hp: 08114052225 (sms) Email: kendariposonline@gmail.com Time: Monday, 30 October 2017 07:12:21

To Top
error: Silahkan hubungi admin jika ingin mengcopy